@hendrifisnaeni Politik adalah sikap dan tingkah laku yg tidak memperdulikan bacaan , sejarah. Sebagaimana indian dihabiskan , tanpa peduli sejarah indian.
@Stakof Maaf, kenapa ujug-ujug memframing Abu Janda punya pesan yang sama dengan Ustadz Khalid? Bukankah Abu Janda termasuk anggota Banser/NU, yang mana Banser/NU sering merecoki pengajian Ustadz Khalid?
Done; AS Kalah Perang di Iran
Ambisi AS setinggi langit ingin menekuk Iran. Namanya mentereng: Lightning Strike. Serangan kilat.
Targetnya: Iran takluk dalam 24 jam. Nyatanya? Gatot. Gagal total.
Amerika Serikat benar-benar kena batunya. Mereka lupa satu hal: Iran bukan lawan kemarin sore. Iran punya “napas” yang sangat panjang.
Hari pertama saja Pentagon sudah pusing tujuh keliling. Anggaran pertahanan mereka yang $895 miliar itu seperti menguap di padang pasir.
Bayangkan. Untuk operasional satu hari saja, Washington harus membakar $1 miliar. Sekitar Rp15,7 triliun. Itu baru satu hari.
Padahal Iran hanya modal nekat. Dan cerdik. Mereka pakai taktik swarming. Ribuan drone murah dikerahkan. Harganya cuma $20.000 per biji.
Amerika membalasnya dengan gengsi. Mereka pakai rudal pencegat canggih. Harganya? $12,8 juta per luncuran.
Ini yang disebut cost imbalance. Ketimpangan biaya yang gila-gilaan. Dompet Washington jebol seketika.
Di laut, situasinya lebih dramatis. Kapal induk USS Abraham Lincoln harus retreat. Mundur teratur.
Gara-garanya? Rudal Fattah-2 milik Iran. Kecepatannya ngeri: Mach 15. Lima belas kali kecepatan suara.
Sistem pertahanan Aegis yang dibanggakan itu pun tembus. Akibatnya kapal induk itu harus “menyingkir” 300 kilometer ke Samudra Hindia.
Simbol kedigdayaan Amerika robek di hari pertama. Kalah telak.
Lalu lihat dampaknya ke rakyat Amerika. Harga bensin langsung batuk-batuk. Naik dari $2,98 menjadi $3,58 per galon.
Inflasi meledak. Ekonomi AS kehilangan 92.000 lapangan kerja hanya dalam hitungan minggu.
Ini yang namanya silent killer. Pembunuh senyap. Perang belum selesai, ekonomi domestik sudah sesak napas duluan.
Korban jiwa? Jangan tanya. Kabarnya 650 personel AS tumbang dalam dua hari.
Itu angka tertinggi sejak mereka “main-main” di Timur Tengah dekade lalu. Publik Amerika mulai bertanya: untuk apa perang ini?
Target satu hari gagal. Retaliasi Iran justru makin liar. AS terjebak dalam perang atrisi; perang urat saraf dan dompet.
Secara militer AS memang raksasa. Tapi di Iran, raksasa itu seperti masuk ke lubang semut. Semutnya jutaan. Dan semua menggigit.
Kesimpulannya sederhana: AS kalah strategi. Mereka menang di kertas, tapi babak belur di lapangan.
Iran tetap tegak. Amerika mulai menghitung utang.
Ternyata teknologi tinggi tidak selalu bisa mengalahkan nyali dan efisiensi.
Apalagi kalau sudah urusan perut rakyat sendiri. Pusing. Pusing sekali.
#Geopolitik #PerangIranAS #TimurTengah #Geostrategi #MiliterDunia #DroneWarfare #EkonomiPerang #GlobalPolitics #MiddleEast #ThreadX
Iran Dalam Posisi "Long War"
Iran emang dari awal udah set up buat protracted war alias perang urat saraf yang ngandelin stamina.
Pejabat militernya bahkan pede bilang mereka bisa survive sampe 10 tahun kalau emang dipaksa keadaan.
Efek embargo empat dekade malah bikin mereka punya strategic resilience yang gokil banget.
Sanksi itu justru nge-push Iran buat bikin industri pertahanan sendiri yang biayanya jauh lebih affordable dibanding sistem Barat.
Soal personel, mereka punya sekitar 610.000 tentara aktif yang jadi fondasi utama buat long term.
Quantity ini penting banget buat rotasi pasukan biar kekuatan intinya nggak cepet burnout.
Kekuatan utama mereka tuh ada di ribuan rudal balistik sama jelajah yang range-nya gila-gilaan.
Mostly disimpen di fasilitas bawah tanah biar tetep operational meskipun kena air strike besar-besaran.
Drone sekarang jadi tulang punggung baru mereka karena produksinya massal dan super murah.
Unit kayak Shahed ini gampang banget di-replace, jadi mereka punya advantage di konflik yang berkepanjangan.
Strategi asymmetric warfare mereka tuh intinya lawan musuh kuat pake taktik yang flexible dan susah ditebak.
Iran nggak butuh jet tempur mahal selama mereka punya rudal presisi yang lebih hemat budget.
Mereka juga mainin war of attrition alias perang pengikisan buat nguras stamina sama dompet lawan.
Dalam logika ini, durasi itu lebih crucial daripada speed karena yang bertahan paling lama yang bakal menang.
Ada juga konsep saturation attack yang pake ratusan drone sekaligus buat nge-overwhelmed pertahanan musuh.
Cost-nya jomplang banget, satu rudal pencegat musuh harganya jutaan dolar padahal dronenya receh.
Tujuan akhirnya itu cost-imposition, alias bikin musuh rugi bandar cuma buat sekadar bertahan doang.
Apalagi geografi Iran luas banget dan banyak pegunungan yang jadi natural defense buat mereka.
Posisi mereka di deket Selat Hormuz juga ngasih leverage strategis karena itu jalur vital minyak dunia.
Jadi klaim mereka soal siap perang lama itu bukan cuma flexing doang, tapi emang kalkulasi taktis.
#IranVsIsrael #GeopoliticsUpdate #LongWarStrategy #MiddleEastConflict #AnalisisGue #InfoMiliter #DeepTalkGlobal #HormuzLeverage #StrategiPerang #TrendingTopicX
Biar Buzzer Zionis Dongo Paham !
Biar buzzer-buzzer zionis tolol yang sok pinter ekonomi itu paham dikit. Mereka teriak “Israel perang berdarah² tapi cadangan devisa naik”, padahal mereka sendiri nggak ngerti mekanisme uang global.
Faktanya, cadangan devisa Israel naik salah satunya karena utang luar negeri mereka juga naik. Saat Israel menarik pinjaman dan menjual obligasi global, dolar masuk dulu ke sistem finansial dan tercatat menambah cadangan devisa.
Data Bank of Israel menunjukkan cadangan devisa sekitar US$234,5 miliar pada Februari 2026. Angka ini naik dari kisaran US$220 miliar pada awal 2025.
Buat ukuran negara kecil, angka itu memang terlihat besar. Nilainya setara sekitar 38% dari total GDP Israel.
Tapi buzzer propaganda biasanya berhenti di angka headline. Mereka jarang jelasin sumber kenaikannya.
Sebagian kenaikan datang dari revaluasi aset valas yang dimiliki bank sentral. Dalam satu bulan saja nilainya bisa naik sekitar US$1,7 miliar.
Ada juga tambahan dari aktivitas pemerintah di pasar valuta asing. Transaksi fiskal menambah sekitar US$271 juta ke cadangan devisa.
Selain itu Israel juga aktif menerbitkan global bonds untuk membiayai perang. Ketika investor membeli obligasi itu, dolar masuk dan sementara mempertebal cadangan devisa.
Contohnya salah satu bank besar Israel berhasil menghimpun sekitar US$2 miliar dari investor global. Permintaannya bahkan sempat tembus US$7 miliar.
Artinya uang masuk karena akses ke pasar utang global, bukan karena ekonomi perang mereka tiba-tiba jadi super kuat. Ini basic banget dalam ekonomi makro.
Di sisi lain, biaya perang tetap brutal. Konflik militer diperkirakan bisa menguras sekitar US$3 miliar per minggu.
Karena itu pemerintah Israel bahkan menaikkan anggaran pertahanan. Tambahannya sekitar 143 miliar shekel, atau lebih dari US$10 miliar di APBN.
Jadi logikanya sebenarnya simpel. Utang masuk → dolar masuk → cadangan devisa sementara naik.
Kalau buzzer zionis mau kelihatan pinter, minimal pahami dulu cara kerja utang luar negeri, capital inflow, dan cadangan devisa. Jangan cuma baca headline lalu merasa sudah ngerti ekonomi dunia.
#Israel #Iran #PerangTimurTengah #CadanganDevisa #UtangLuarNegeri #EkonomiGlobal #Geopolitik #MiddleEastWar #GlobalFinance #BondMarket #UtangNegara #EkonomiDunia #PropagandaMedia #FaktaEkonomi #GeoEconomics #WarEconomy #FollowTheMoney #GlobalCapital #PolitikInternasional #Viral
Waspadalah!!
Racun2 yg mereka sebut Desinfectan itu mengandung Bahan yg hampir sama dengan Pestisida tp lebih beracun
Memenuhi udara.
Menyebar ke seluruh langit Negeriku.
Gejala demam,nyeri tenggorokan,flu,batuk BUKAN Krn Virus varian Delta!!!!
Jangan coba2 cek Swab PCR!!