Standarisasi atau Standardisasi?
Bagi Anda yang belajar bahasa Indonesia di sekolah, jawabannya sudah jelas: standardisasi. Kata ini, tentu saja, diserap dari kata bahasa Inggris: standardization.
Jadi ada tambahan huruf "d" di situ, walaupun kata standar sendiri diserap dari standard, tanpa huruf "d".
Dulu saya tidak pernah mempermasalahkan ini, apalagi kalau berkaitan dengan ujian sekolah (atau ujian ASN, atau ujian apa lah). Ini sudah menjadi semacam doktrin, bahkan wahyu yang tidak bisa diganggu gugat.
Tapi belakangan ini, mengingat KBBI yang makin lama makin ngawur dalam memasukkan kata-kata baku di dalamnya, saya mulai berpikir secara lebih kritis. Apakah huruf "d" ini benar-benar dibutuhkan. Tak cukupkah kita hanya menambahkan akhir -isasi di belakang kata "standar" yang telah kita serap terlebih dahulu. Bunyinya juga lebih enak, tanpa ujug-ujug menambahkan bunyi baru "d" ke dalamnya. Di lidah gak enak lah pokoknya.
Setelah saya periksa lebih lanjut, ternyata KBBI pun tidak konsisten. Kata "Protestantism" dalam bahasa Inggris ternyata diserap menjadi Protestanisme, tanpa memasukkan huruf "t" ke dalamnya. Bunyinya juga lebih enak, tanpa ada tambahan bunyi "t" yang terasa tidak wajar.
Jadi, kalau boleh Protestanisme, kenapa tidak standarisasi?
๐จ๐ฏ๐ตNEW PRIME MINISTER OF JAPAN MAKES MASS DEPORTATIONS FIRST POLICY
Sanae Takaichi was sworn in and IMMEDIATELY created a ministry for mass deportations
How can you not be jealous?
Imagine a country defending its own people
Menyesal baru sadar kalo merenung itu sepenting itu. Baru sadar, kalo diri sendiri itu bukan sosok yang 'flawless'. Balik lagi, penyesalan selalu datang belakangan.