Hari ini pas mau kelar poli tiba2 dateng pasien rujukan poli jiwa. Kita tanya ada keluhan apa ke Saraf, krn kl dipikir2 harusnya obat dr Jiwa udh cukup
“Saya disuruh CT Dok. Kepala saya suka pusing & linglung pingsan. Saya dl kepala nya dibenturin ke tembok sm mantan suami saya”
reading carmen’s words feels like a quiet pause in the middle of everything… ♡
there’s a softness in the way she writes, something honest and warm ✿
gently reminding us to appreciate the little things, to feel without holding back, and to keep going, even in our own slow and uncertain ways ⊹₊˚ ♡
Sebagai internal audit, kasus BNI Aek Nabara ini bukan sekadar oknum nakal. Ini kegagalan sistem yang harusnya malu diakui.
Andi Hakim bikin produk investasi fiktif, cetak bilyet palsu di kertas A4, minta tanda tangan di formulir kosong terus diisi sendiri, dan transfer "bunga" tiap bulan biar korban tetap tenang. Berlangsung BERTAHUN-TAHUN. Pertanyaannya bukan kenapa pelakunya berani, tapi kenapa tidak ada satu pun alarm yang bunyi?
Karena tidak ada yang ngecek. Dari dua arah sekaligus.
BNI kecolongan karena satu kepala kas punya akses penuh dan relasi eksklusif ke nasabah besar tanpa supervisi berarti.
Tapi ada yang sering luput dari sorotan: Credit Union di dalam gereja itu sendiri juga harusnya punya sistem kontrol internal. CU Paroki Aek Nabara ini bukan lembaga kecil, mereka mengelola dana 1.900 anggota yang dikumpulkan sejak 1981. Lembaga sekelas itu harusnya punya audit internal, rekonsiliasi rutin, dan verifikasi produk investasi secara independen sebelum menyetorkan miliaran rupiah. Bunga 8% di tengah rata-rata pasar 3-4% itu bukan angka yang wajar, itu seharusnya jadi red flag pertama, bukan daya tarik.
Dua institusi. Dua lapisan kontrol yang sama-sama tidur.
Soal ajakan ramai-ramai pindah bank, hati-hati. Ini bukan cuma salah sasaran, tapi bisa berbahaya. Bank tidak menyimpan uang nasabah dalam bentuk tunai penuh, uang itu diputar. Kalau penarikan massal terjadi serentak, itu namanya bank run, dan efeknya bisa jauh lebih luas dari sekadar BNI. Krisis 1998 kasih kita pelajaran mahal soal ini. Marah boleh, tapi jangan sampai cara kita protes justru merugikan diri sendiri dan orang banyak.
1.900 orang nabung dari Rp10.000 seminggu untuk sekolah anak dan masa depan keluarga. Itu hilang karena satu orang rakus dan dua sistem yang gagal jadi penjaga.
@xdozul Aku blm pernah sampe ke fase ambruknya gitu tp nyarisss. Rasanya kesemutan dari kaki naik keatas, jantung deg2an kayak mau copot terus rasanya kyk mau muntah, pandangan kunang2, keringet dingin jg🥲