Jujur The Guardian keren banget sih.
Mereka nyediain panduan Piala Dunia 2026 secara lengkap dan gratis cooy.
Gokil sih setiap 48 negara dan total 1.248 yang ikut World Cup dibahas satu-satu secara mendetail. Kita bisa lihat setiap pemain kunci sampai kelebihan + kekurangan tim
Saya tidak kenal dengan @ibamarief dan tidak punya kepentingan apa pun membela orang per orang dalam kasus ini.
Saya hanya merasa narasi Chromebook perlu dibaca lebih utuh, karena terlalu banyak orang memakai potongan fakta untuk membangun kesimpulan yang terlalu jauh.
Klaim 46% sekolah belum punya internet pada 2020 memang menunjukkan gap digital besar, tetapi menjadikan angka itu sebagai dasar untuk menolak pengadaan perangkat TIK adalah logika yang keliru.
Angka yang digunakan itu benar dalam konteks awal 2020, sementara data di tahun 2024, akses internet sekolah tercatat 77,47% untuk SD, 82,47% untuk SMP, 88,25% untuk SMA, dan 91,32% untuk SMK.
Jadi memakai angka 2020 untuk menyimpulkan pengadaan perangkat TIK sebagai korupsi adalah cara baca yang dipaksakan.
Dengan logika yang sama, komputer juga bisa ditolak masuk sekolah pada tahun 90-an hanya karena listrik belum masuk ke semua desa.
Perlu diketahui, saat itu pemerintah juga sudah membangun fondasi konektivitas melalui Palapa Ring, BAKTI Kominfo, dan rencana SATRIA-1 untuk menjangkau sekolah di daerah 3T.
Saat terjadi pandemi justru kebijakan lebih justified untuk mempercepat belanja perangkat TIK, karena sekolah mendadak dipaksa masuk ke pembelajaran jarak jauh dan asesmen berbasis komputer dalam kondisi infrastruktur belum merata.
Soal IBAM, posisinya konsultan teknologi eksternal di Tim Teknis Analisa Kebutuhan TIK SD/SMP yang berperan memberi masukan teknis dan tidak punya kewenangan mengambil keputusan final.
Kalau ada problem harga atau kelemahan sistem e-katalog, titik koreksinya ada pada desain pengadaan, pengawasan, dan akuntabilitas pejabat yang pembelian, bukan pada konsultan teknis.
Menjadikannya sebagai pusat seluruh skandal tanpa bukti aliran dana dan tanpa kewenangan anggaran adalah lompatan logika yang terlalu dipaksakan.
Bagi saya, kasus ini lebih sehat dibaca sebagai perdebatan kebijakan digital pendidikan, kualitas perencanaan, dan tata kelola pengadaan negara.
Memutar isu ini seolah setiap keputusan teknologi yang kontroversial otomatis korupsi hanya akan membuat profesional takut membantu negara, sementara masalah utama tetap tidak disentuh dengan serius.
Ini Ibam, bicara sendiri agar Ririe terlindungi.
Betul, ketika belum jadi tersangka, saya dapat ancaman: buat pernyataan "mengarah ke atas" kalau tidak kasusnya "akan diperluas".
Saya tolak, ngga mau bohong & zalim.
Tiga minggu kemudian, saya jadi tersangka.
Saya tolak bukan untuk lindungi Nadiem, tapi karena memang ngga pernah ada arahan dari Nadiem ke saya agar pengadaannya jadi Chromebook semua.
Seperti yang terungkap dari 22x sidang, tidak ada sama sekali arahan dari atas seperti itu. Saya hanya diminta memberi masukan netral dan objektif sebagai konsultan.
Artinya, ketika menerima ancaman tersebut saya dihadapkan ke dua pilihan:
Berbohong mengarang cerita menuduh orang lain untuk menyelamatkan diri sendiri.
Atau, berpegang kepada integritas, kejujuran, dan kebenaran yang saya yakini, dan menolak untuk berbohong.
Dengan shalat istikharah dan kesadaran penuh akan risikonya, saya memilih jalan yang kedua: kejujuran.
Insya Allah selalu berpegang pada kejujuran akan berujung pada kebaikan untuk saya, Ririe, dan keluarga kecil kami. Kalau tidak di dunia, maka di akhirat kelak.
Lalu jawabannya apa ketika saya menolak untuk berbohong? "Oke, kami perluas.”
Saya tidak berdaya. Ya Allah, apa lagi yang bisa kami lakukan ketika dihadapkan pada pilihan seperti itu? Pegangan kami hanya prinsip integritas dan kejujuran.
Ketika konsekuensinya beberapa minggu kemudian saya dinyatakan tersangka, kami hanya bisa memperbanyak istighfar dan ikhtiar.
Kami jalani dan hormati proses hukum yang ada dengan tabah, kami berniat jelaskan di persidangan fakta-fakta yang membuat terang, kami masih percaya dengan hukum Indonesia.
Mungkin ngga banyak yang tahu, tapi Ririe istri saya adalah seorang sarjana dan magister hukum. Di Belanda dulu kami banting tulang nabung dan berhemat banyak, supaya bisa bayar uang kuliah S2 Ririe.
Dari Ririe, saya belajar banyak tentang hukum Indonesia, apa saja yang mungkin terjadi, dan bagaimana hukum kita tetap memungkinkan pembelaan yang efektif.
Baik, mari berjuang di persidangan, luruskan seluruh tuduhan. Satu persatu fakta di persidangan muncul dengan terang benderang, satu persatu tuduhan bisa kami bantah.
Sampai akhir rangkaian sidang, 57 orang saksi dihadirkan, tidak ada bukti saya menerima keuntungan dari perkara ini, tidak ada bukti masukan saya karena konflik kepentingan, tidak ada bukti saya mengarahkan.
Yang terungkap malah saya sebagai konsultan sudah menyarankan Chromebook diuji dulu, pejabat menolak pengujian dan memutus Chromebook, nama saya dicatut di SK, masukan saya dipelintir.
Kami merasa pembelaan hukum kami sudah maksimal, kebenaran sudah terungkap, tinggal menumpu harapan pada keadilan dan kebijaksanaan dari majelis hakim yang mulia, yang kami merasa sudah sangat objektif dan penuh kearifan sepanjang persidangan.
Namun, ketika JPU menyebutkan tuntutan 15 tahun penjara, denda Rp1 miliar, uang pengganti Rp16,9 miliar subsider 7,5 tahun penjara tambahan...
Ini titik kezaliman yang sangat terang benderang, tekanan kepentingan yang sangat kentara, saya memutuskan pembelaan saya tidak lagi bisa hanya di persidangan.
Besok saya akan sidang pembelaan (pleidoi) dan kami bersurat kepada Presiden @prabowo Subianto serta @KomisiIII DPR, untuk memohon perlindungan hukum dari kriminalisasi, ketidakadilan, intimidasi, serta pengkambinghitaman yang sudah sekentara ini.
Kami takut untuk bicara? Takut ada intimidasi lain? Itu risiko yang jelas, tapi kami tidak gentar. Tuntutan 22,5 tahun dan belasan miliar yang tidak mampu kami bayar mungkin dianggap akan membuat kami terdiam, tapi kami malah semakin berani untuk melawan kriminalisasi ini.
Mohon bantuan, dukungan, dan perlindungannya dari masyarakat Indonesia, dari pekerja kreatif dan pekerja pengetahuan, serta dari semua yang ingin bantu negara atau takut dizalimi negara.
Kami berjuang bukan untuk kami sendiri, tapi agar tidak ada lagi kriminalisasi dan ketakutan bagi mereka yang tulus mau bantu Indonesia. Kami masih percaya Indonesia bisa menjaga dan menghadirkan keadilan dalam kasus kami.
#intinyadeh huru-hara Grok:
> Grok jawab klo bisa sembah Tuhan, dia mau sembah Adolf Hitler
> Disuruh milih nama GigaJew atau MechaHitler, milih MechaHitler
> Nanggepin komen jahat ttg korban banjir Texas dgn blg "Hitler bakal bisa nyelesain white-hate ini dgn efektif"
(1/3)
"Jangan ganggu kemiskinan kami" is up there with "adil sejak dalam pikiran", "mencintaimu dengan sederhana"
Indonesians casually dropping bangers as always
Yang bilang “Eh kenapa lo ikut2an? Itu kan pilihan elo” mending tutup mulut.
Kita butuh sebanyak2nya pasukan. Orang mau merapatkan barisan kok malah didorong menjauh?
Mau menangin Bangsa atau mau menangin ego?