Sampai berbusa2 bunyi PETISI sekalipun, sy & rakyat 🇮🇩 tetap bersama JOKOWI, dia Presiden terbaik!
Dosen, profesor, guru besar sekalipun, mereka tetap MANUSIA BIASA yg kita tdk tahu ISI HATI mereka😩
Kawal JOKOWI sampai oktober 2024!
Jgn bikin gaduh!
"Kalau Ganjar dan Mahfud sudah jadi presiden dan wakil presiden, presiden punya hak prerogatif, gampang itu Jokowi mau diapain, terserah," kata Guntur kakak bu Mega.
Kalimat itu diucapkan di depan relawan dalam acara bertajuk "Rock and Roll Day’s" di Rumah Aspirasi Ganjar-Mahfud di Jalan Diponegoro Nomor 72, Menteng, Jakarta Pusat, Senin (29/1/2024). “
“... gampang itu Jokowi mau diapain…”
Kalimat itu ga main - main. Entah kenapa aroma negatif dalam kalimat itu jauh lebih bisa kita rasakan dibanding maksud yang lain. Itu seperti terpeleset lidah atas sebab kemarahan luar biasa pada Jokowi dan maka pantas untuk dilampiaskan.
Namun rencana itu baru akan dilakukan saat mereka sudah menang, itu bicara soal mentalitas. Dan anda semua pasti tahu dari mentalitas seperti apa ide seperti itu bisa lahir.
Itu juga seperti teori saat kita menang maka boleh berlaku semena - mena dan saat kalah boleh bilang lawannya curang. Dan biasanya, teori semacam itu hanya akan berlaku bagi pihak yang sudah merasa pasti akan kalah. Mereka hanya sedang kalut dan maka omongannya ngawur…
Tapi bila ucapan tersebut benar serius, itu seperti usaha menghidupkan lagi teori politik balas dendam. Itu seperti membawa kembali pulang gagasan politik norak dari zaman batu. Dan itu jelas bukan kita banget pada era kekinian..
Millennial dan Gen Z ga butuh “tools” usang yang konon pernah menjadi milik bapak dan kakeknya. Pilpres 2024 adalah pilpres penuh tawa dalam jogèd.
Siapa pun anda, baik pendukung 01 dan 03, kelak ketika hajatan ini usai, anda semua adalah partner sekaligus aset untuk bersama - sama membangun bangsa ini.
.
.
Padahal pak Jokowi sudah kasih kode keras ajak Om Prabowo dan Pak Ganjar sama2 visit Jateng
Prabowo RI 1, Ganjar RI 2. 2029 gantian Ganjar RI 1. PDIP Sama Gerindra gabung. All Jokowi Men.
Sayang bos2 partai ini egonya diatas langit
Mantap mbak @TsamaraDKI 👍👍
Bner ga usah bicara masalah etika dan etis pd performanya mas @gibran_tweet di debat ke 4
Krna capres2 n cawapres mrka juga melakukan tindakan yg tidak etis plgi omon pd pa prabowo itu sangat tdk bermoral
Pasti ada maksud kenapa Samsul menyebut nama Tom Lembong lebih dari sekali.
Itu adalah Clue.
Dan kita tinggal mencari Why nya.
Kan gitu.
Setelah Googling dan cari info, akhirnya kita bisa paham.
Jubir timses 01, TL, habis "Laporan" ke Washington DC , America guys....
DEKLARASI ANIES - GANJAR PLUS PEMAKZULAN JOKOWI
.
.
.
Seandainya gagasan penggabungan Anies - Ganjar terwujud, dijamin kubu Ganjar lah yang paling dirugikan. Di sisi lain kubu Prabowo akan menerima berkah.
Anggap saja Ganjar atau Hasto berani umumkan rencana itu secara resmi, serta merta para pendukung yang kemarin setia pada pasangan 03 akan linglung.
Tidak dengan para petinggi apalagi influencernya, mereka bersukacita karena rasa marah mereka seperti mendapat tanggapan. Tapi bagi militan nasionalis yang ada di gerbong itu, itu seperti bentuk pengkhianatan. Mereka marah.
Anggap saja dari 100% pemilih Ganjar, ada 30% yang marah. Dan maka, sesuai dengan narasi marahnya, pihak ini pasti tidak pindah ke Anies.
Tak semua serta merta pilih Prabowo yang sewarna dalam nasionalis, tapi pindah pilihan ke pasangan Prabowo - Gibran jelas adalah migrasi paling masuk akal.
Anggaplah setengah dari 30 persen orang yang marah itu memutuskan untuk tidak memilih dan setengah lagi yang lain memutuskan ikut Prabowo.
Bila seperti itu hitungannya, bagaimana pilpres akan berlangsung?
Kita gunakan hasil survei paling moderat yakni Poltracking. Survei terbaru berkata pasangan 01 mendapat 23.1%, pasangan 02 mendapat 45.2%, dan pasangan 03 adalah 27,3%. Sementara yang abstain atau tidak memilih adalah 4.4%.
Bila 100% itu kita anggap 1.000 pemilih misalnya, maka disana akan ada 956 pemilih yang menggunakan hak pilihnya dan 44 lainnya tidak menggunakan.
Dan maka survei itu juga seperti berkata bahwa pasangan 01 mendapat 231 suara, pasangan 02 mendapat 452, pasangan 03 mendapat 273 pemilih dan 44 orang golput.
Berapakah jumlah 30 persen itu? Di sini kita mendapat angka bahwa 30 persen dari pemilih yang kabur dari pasangan 03 adalah 273 x 30 % = 82 orang.
Dan bila kita bagi 2 sesuai ilustrasi kita di awal, di sana ada 41 suara. Artinya akan ada tambahan 41 orang golput dan 41 suara sisanya ikut Prabowo.
Maka perolehan Prabowo akan menjadi 493 (452 + 41) pemilih dan Ganjar tinggal 191 (273 - 82) suara. Pasangan Anies tetap 231 suara.
Bila itu semua dihitung, maka pemilih yang terlibat adalah berjumlah 493 + 191 + 231 = 915 pemilih. Ada tambahan orang golput sejumlah 41 pemilih dan totalnya menjadi 85 orang.
Bila 915 orang pemilih itu lalu kita anggap sebagai 100 persen suara sah, kita akan mendapat persentase :
Pasangan 01 = 231 x 100 : 915 = 25.2%
Pasangan 02 = 493 x 100 : 915 = 53.9%
Pasangan 03 = 191 x 100 : 915 = 20.9%
Hitungan itu ternyata tidak bicara dua putaran. Pasangan 02 langsung menang dan cukup hanya dengan satu putaran saja.
“Mosok yang kabur sampai 30%??”
Gak percaya? Umumkan dan lalu langsung resmikan saja gagasan persatuan Anies - Ganjar.
Apalagi bila berani dengan tambahan diksi pemakzulan Jokowi, bukan cuma 30 tapi bisa lebih dari 40 persen pemilih yang akan kabur.
Masih gak percaya? Tak tunggu deklarasi persatuan kalian plus pemakzulan Jokowi…💪
.
.
Hanya di Magelang, Budiman Sudjatmiko, Kaesang Pangarep dan Raja Juli Antoni mendapatkan diri dapat berbaur dalam satu kerumunan bersama dengan ribuan massanya.
I ❤️ you warga Magelang, anda semua sangat ramah…🙏🙏
.
.
.
KOALISI ANIES - GANJAR
.
.
.
Pada awalnya sih malu - malu. Kini benar - benar malu - maluin. Pada awalnya, ide itu diinisiasi oleh para asbun. Setelah sejenak masuk akal, mereka ambil pilihan itu meski setelah dipikir - pikir, benar adanya tidak masuk akal.
Itulah cikal bakal lahirnya koalisi imajiner Anies - Ganjar Koalisi yang seolah ada dan demi yang penting bukan Jokowi.
Masuk akalkah?
Mereka berpikir bahwa pilihan politik adalah seperti hitung - hitungan matematika. Pendukung Ganjar 100 plus pendukung Anies 150 dan lalu bergabung maka otomatis jadi 250. Mereka berpikir bahwa pilihan politik hanyalah angka tapi bukan rasa.
Bila benar akan terjadi dua putaran, benar adanya sebagian pendukung Ganjar pasti akan memilih Anies. Tapi otomatis semua pendukung Ganjar beralih ke Anies, jelas prediksi ngawur.
“Koq Anies?”
Emang ada potensi Ganjar lolos di putaran kedua 🤭…??
Imajinasi menggabungkan Anies dan Ganjar sejatinya muncul karena takut kalah berantem sendirian. Tapi keroyokan jelas bukanlah gagasan smart. Itu tindak putus asa.
Dan maka pasangan Prabowo - Gibran justru diuntungkan. Ada tiba - tiba sangat banyak pemilih yang punya nalar, baik di kubu Anies maupun Ganjar pindah ke Prabowo. Atau sekalian memilih golput alias tidak akan nyoblos. Mereka tak sebodoh para bodoh pemilik ide bodoh gobang gabung demi yang penting menghukum Jokowi.
.
.
Di tengah puluhan ribu massa, Gibran pun datang. Dia sadar, di sana banyak anak muda berharap pada dirinya. Dia hanya perlu menyapa dan bertanya :
“Apa kabar teman - teman di Bali?”
Dan meriah sambutan pun didapat. Elu - elu pada nama dirinya seperti membahana jauh melampaui batas suara bisa menembus.
Seiring hasrat agar anak muda bisa ikut berkiprah di lahan yang selama ini milik tetua, dia mendapatkan dirinya sudah menyeruak paksa dalam makna harus hadir.
Dan dia ambil beban itu. Dia seperti menggenapi rasa ingin anak - anak muda kepada dirinya. Di Bali, di lapangan Renon, dalam meriah Konser PRABU (Prabowo Budiman Bersatu) bersama Dewa19, sekali lagi dia menyatakan dirinya HADIR. Dia cawapres muda satu - satunya.
.
.
.
https://t.co/YSoTxdCtYQ
NATAL SUDAH LEWAT |tahun baru juga hampir tiba, mosok masih ngebahas debat cawapres mulu sih?
Gibran sudah menang, Gibran ternyata bisa tampil superior menggulung malu dua senior jauhnya, mbok sudah sadar diri dan introspeksi saja mana salah mana benar dan lalu yang salah diperbaiki.
“ Orang ngamukan mana bisa begitu?”
Kadang umur ga linier sama kelakuan dan maka disebut kekanak - kanakan.
Gak masalah bila Indonesia mendapat cawapres muda dan sering disebut anak bau kencur, tapi jelas masalah bila negara ini punya terlalu banyak orang tua kekanak - kanakan. Mereka hobi ngamuk dan gak kelar - kelar berperkara dengan satu perkara.
.
.
Closing statement terbaik sepanjang sejarah debat capres cawapres Indonesia. Ga ada kata lebih pantas selain luar biasa bagi Gibran.
KAMU TERBAIK dan tersopan dari seluruh cawapres yang pernah tampil debat. Bapakmu pasti bangga🙏🙏
.
.
.
Hi Bro dan Sis, setelah melewati proses doa, dan kontemplasi yg cukup panjang.
Dengan ini saya mengumumkan bahwa kali ini saya maju sebagai Caleg DPR RI untuk seluruh wilayah Jakarta Utara, Jakarta Barat dan Kep. 1000.
Saya mohon dukungannya dgn mendonasikan 1detik waktu dgn me RT, donasi waktu 1detik anda merupakan bentuk partisipasi kita semua utk Indonesia yg lebih baik.
Semoga sekembalinya saya dari Harvard, saya bs kembali mengabdi utk mewakili cakupan masyarakat yg lebih luas lagi di DPR RI dibandingkan dengan ketika saya menjabat di DPRD DKI.
LITBANG KOMPAS = PILPRES 2024 SATU PUTARAN SAJA
.
.
.
Kalau benar kita jeli, data survei yang disampaikan oleh Litbang Kompas bicara pilpres SATU PUTARAN. Dan itu tentang kemenangan pasangan Prabowo - Gibran.
“Tapi bukankah suara Prabowo dan Gibran gak sampai 40 persen?? Koq bisa jadi satu putaran itu gimana rumusnya??”
Menurut data tersebut, Prabowo mendapat keterpilihan 39,7% sebagai capres dan Gibran 37,2% untuk cawapres. Keduanya ada di posisi tertinggi sebagai yang terpilih.
Kita mulai dari capres. Data berkata bahwa capres no urut 1 mendapat 17,4%, capres 2 mendapat 39,7% dan capres 3 mendapat 18%.
Bila dijumlah ada sekitar 75,1% pemilih ikut terlibat. Artinya ada 24,9% pemilih tidak menjawab atau memilih untuk tidak terlibat. Dulu kelompok yang seperti ini sering disebut dengan golput.
Seandainya pemilih bungkam itu benar kita anggap golput, 75,1% jumlah pemilih yang terlibat itu adalah jumlah yang dapat kita anggap sebagai pemilih sah. Secara sederhana, itu otomatis adalah juga setara dengan 100% suara sah pemilih.
Bila kita sepakat, lantas berapakah ekuivalen 17,4%, 39,7% dan 18% itu?
Anggap saja pemilih yang turut dalam survei itu adalah 1.000, maka yang Golput adalah 249 orang. Jadi jumlah pemilih sah adalah 751 orang.
Ketika 751 pemilih itu adalah 100% jumlah suara sah, maka kita akan mendapat angka atau persentase baru sbb :
Capres 1 mendapat 23,17%. Angka itu didapat dari 174 sebagai perolehan suara dikali 100 dan dibagi 751 sebagai jumlah suara yang sah.
Atas cara perhitungan seperti itu maka pasangan nomor 2 mendapat 52,8% dan pasangan nomor 3 punya keterpilihan 23,9%.
Artinya, capres nomor 2 adalah juara. Ga tanggung - tanggung, Prabowo mendapat suara 52,8%. Perolehan Prabowo sebesar itu jelas adalah tentang pemenuhan diksi MENANG DALAM SATU PUTARAN.
Pun ketika kita bicara data survei Litbang Kompas untuk cawapres. Cawapres no urut 1 mendapat 12,7%, cawapres 2 dapat 37,2% dan cawapres 3 mendapat suara 21,8%.
Menggunakan cara berhitung yang sama, meski yang golput pada segment ini lebih besar yakni 28,3% dan maka pemilih sah hanya 71,7%, cawapres nomor urut 2 pun adalah cawapres terpilih dengan kemenangan SATU PUTARAN.
Gibran mendapat 51,9% suara sah sebagai ekuivalen dari 37,2% seperti data Litbang Kompas Desember 2023 bila suara sah adalah 71,7%.
“Bagaimana hasil survei Litbang sebagai pasangan?”
Makin telak. Dalam survei itu pasangan Prabowo - Gibran mendapat 39,3%, Anies - Muhaimin 16,7% dan Ganjar - Mahfud 15,3%.
Tapi ketika angka yang belum menentukan pilihan dan diklasifikasikan sebagai tidak memilih yakni 28,7%, maka perolehan Prabowo - Gibran setara dengan 55,1%. Itu jauh meninggalkan dua pasangan yang lain. Pasangan nomor urut 1 mendapat 23,4% dan pasangan dengan nomor urut 2 hanya 21.5%.
Dengan kata lain Litbang Kompas bulan Desember ini berkata bahwa pilpres 2024 hanya akan berlangsung dalam SATU PUTARAN saja.
Dan hal paling bikin sakit hati, pasangan Ganjar - Mahfud akhirnya benar adanya jatuh pada urutan paling buncit. Ini sesuai prediksi banyak pihak yang menilai cara kampanye pasangan itu.
Apakah survei Litbang Kompas ini lalu akan dianggap sebagai survei abal - abal sama seperti survei - survei lain ketika dianggap merugikan, bagi yang bijak pasti akan berpikir lain.
.
.
KEMARIN BILANG TUNGGU HASIL LITBANG KOMPAS |katanya survei dari lembaga ini lebih bisa dipercaya dibanding yang lain.
Jadi gimana pendapat anda saat sadar bahwa keterpilihan Ganjar lebih rendah daripada keterpilihan Mahfud?
Apakah ada terbersit ide bahwa Mahfud sebaiknya memang lebih pantas dijadikan capres dibanding Ganjar?
Elektabilitas capres sepantasnya memang lebih tinggi dibanding cawapres. Fungsi cawapres seharusnya adalah menambal kurang apa yang tak dimiliki oleh capres.
Bila sebaliknya, anda pasti tahu apa yang akan terjadi bila sosok seperti itu kelak jadi presiden. Bukan hal mustahil bila si capres benar - benar cuma akan ngandalin wapresnya. Itu BURUK bagi citra negara sebesar Indonesia.
Dan maka bukti keterpilihannya sebagai capres makin hari makin menurun. Itu sekaligus bukti bahwa pemilih kita adalah pemilih punya nalar.
“Siapa terpilih sebagai capres dan cawapres dengan score tertinggi menurut Litbang Kompas?”
Prabowo dan Gibran.
Luar biasanya dua orang dengan keterpilihan tertinggi itu pun ada dalam satu pasangan, NOMOR URUT 2.
“Mungkinkah Litbang Kompas juga sudah masuk angin?”
Delusional, keyakinan atau kenyataan semu yang diyakini terus menerus meski bukti sudah berkata sebaliknya.
Jadi, masih terus ingin denial dengan pertanyaan konyol seperti itu?
Atau serius ga mau pindah pilihan aja ke paslon nomor urut 2 agar mental tetap terjaga sehat?✌️
Kita, bangsa ini butuh teman - teman yang sehat fisik dan mental demi menyongsong Indonesia Emas 2045 loh…
.
.
Debat itu pada tempat nya 😁
Mas @gibran_tweet siap adu gagasan di debat capres-cawapres ✌🇮🇩
#PrabowoGibran adalah Keberlanjutan dan penyempurnaan program kerja pa @jokowi
Cari saja ada berapa banyak kader Gerindra di bawah kepemimpinannya yang sukses menjadi Gubernur, Walikota dan Bupati.
Dan untuk kinerja membesarkan partai, Prabowo adalah Ketum paling berprestasi yang pernah ada. Tiga kali Gerindra ikut pemilu, tiga kali pula partai itu selalu menjadi semakin besar.
Pada pemilu legislatif pertama, setahun setelah partai itu berdiri pada 2009, Gerindra langsung mendapat suara 4,64% atau setara dengan 26 kursi di DPR RI.
Pada pemilihan umum legislatif Indonesia 2014, Gerindra berhasil menjadi partai politik ketiga terbesar di Indonesia dan mendapatkan 73 kursi di DPR setelah meraih 14.760.371 suara atau 11,81%.
Pada pemilihan umum legislatif Indonesia 2019, Gerindra kembali mencetak prestasi dengan berhasil menjadi partai politik kedua terbesar di Indonesia bila diukur dari perolehan suaranya yaitu 17.594.839 suara atau 13,57%. Gerindra mendapat 78 kursi di DPR RI.
“Tapi bukankah Prabowo kalah mulu dalam pilpres?”
Pun Megawati, sama dengan Prabowo, dua orang itu pernah kalah dalam dua pilpres. Megawati pada pilpres 2004 dan 2009 sementara Prabowo kalah dalam pilpres 2014 dan 2019. Keduanya sama - sama sebagai Ketua Umum Partai.
Tapi bila anda jeli, dua kali kekalahan Prabowo masih menyisakan sisi heroik dibanding bu Mega misalnya. Prabowo kalah dalam pilpres tapi partai yang dia pimpin selalu semakin besar.
Berbeda dengan bu Mega, beliau nyapres dan kalah pada 2024 tapi kekalahan itu juga diikuti kekalahan elektoral partainya yang ikut turun. Dari 33,75% perolehan suara PDIP di 1999 turun lebih dari 15% menjadi 18,3% di 2004.
Pun saat bu Mega kembali kalah di pilpres 2009, perolehan suara partai dalam pemilu legislatif juga turun dari 18,3% menjadi tinggal 14,8%.
Meski sama - sama kalah dalam dua pilpres, coattail effect Prabowo ternyata masih lebih bagus dibanding bu Mega.
Artinya, bila prestasi Prabowo sebagai politisi sekaligus sebagai Ketua Umum partai ingin dinilai, dia belum ada lawan setaranya bahkan ketika disandingkan dengan bu Mega.
Lawan setara itu memang tidak atau belum pernah ada. Seorang Ketum Partai yang dalam 3 kali pemilu legislatif berturut - turut dapat menaikkan perolehan kursi di DPR bagi partainya, cuma ada pada sosok bernama Prabowo.
Bermula dari 26 kursi dan lalu jadi 73 kursi dan kemudian meningkat lagi menjadi 78 kursi, hanya pernah dicapai oleh partai Gerindra yang dipimpin oleh Prabowo Subianto yang kini adalah salah satu capres pada pilpres 2024.
“Tapi bukankah pemilu 2014 dan 2019 PDIP juga selalu konsisten naik?”
Itu karena hadirnya ice breaker bernama Jokowi. Dan anehnya, beliau yang turut membawa partai itu melejit setinggi langit kini sedang dikuliti oleh teman - teman separtainya. Itulah politik, abu - abu dan selalu demi kepentingan.
.
.
.
KAMPANYE SUDAH DIMULAI. Ini adalah soal strategi bagaimana menjual. Ada pihak yang concern pada gagasan tapi ada pula yang senang bicara sisi buruk lawan politiknya.
Silahkan…
Tapi apapun itu, pada akhirnya kita PASTI akan mencari dan lalu menemukan jalan keluar, jalan tengah. Ga ada keras yang tak bisa pecah. Kita selalu punya cara mencari jalan keluar itu.
Seharusnya, itu bukan perkara sulit…
“Di balik setiap kehormatan mengintip kebinasaan. Di balik hidup adalah maut. Di balik persatuan adalah perpecahan. Di balik sembah adalah umpat. Maka jalan keselamatan adalah jalan tengah. Jangan terima kehormatan atau kebinasaan sepenuhnya. Jalan tengah, jalan ke arah kelestarian”.
– Pramoedya Ananta Toer
.
.
.
KALAU PERNYATAAN ITU DITUJUKAN UNTUK REZIM JOKOWI | jelas adalah tindakan kurang bijak. Jokowi sampai saat ini masih kader PDIP.
Pun diksi petugas partai yang melekat padanya dong?
Atau apakah pak Jokowi sudah bukan lagi kader dan petugas partai yang presiden?
Bila ya, umumkan pemecatan itu supaya tidak bias dan lari kemana - mana.
Narasi seolah kelakuan pak Jokowi sudah mirip Orba jelas salah alamat. Divestasi Freeport dan pengambilalihan Taman Mini Indonesia Indah misalnya, itu 180 derajat berlawanan dengan diksi beliau bagian dari Orba.
Tapi di lain tempat, cara - cara yang dipilih oleh capresnya saat yang bersangkutan menjadi Gubernur Jawa Tengah misalnya, adakah warna Orde Baru justru tak sangat kental telah terjadi pada warga Kendeng dan Wadas?
Meneriakkan perlawanan pada saudara satu kader yang kebetulan adalah juga seorang presiden, ini jelas gak baik bagi partai maupun capresnya. Ini seperti teriakan putus asa yang sulit dicarikan obat apalagi penawarnya.
.
.