tbf, dulu tuh seninya jadi penimpa adalah timpaannya sengaja dibikin gak rapi (supaya lucu + bikin orang cari doksli + tapi gak sampe bikin orang kecele). kalo udah kaya gini sih no respect ya, apalagi kalo masuk grup wa gen boomer-gen x, yakin banyak yang percaya itu riil
Anggota DPRD Jember Sebut Dirinya Bablas Main 'Mobile Legends' saat Rapat demi Capai Rank 'Mythic'
"Awalnya cuma login harian buat klaim peti, pas coba segame tahu-tahu winstreak 7 kali jadi saya lanjut."
Jujur enak banget jadi orang bego di jaman Prabowo ini. Gak usah mikirin rupiah dan IHSG anjlok, gak mikirin kriminalisasi Nadiem sama Ibam, gak perlu peduli sama kasus Andrie Yunus, gak perlu tau tentang konflik agraria di pesta babi, yang penting cuma joget2 dan terima bansos
2 Dissenting Opinion dalam penjatuhan vonis Ibrahim Arief yang menyatakan seharusnya terdakwa bebas murni SANGAT JARANG terjadi dalam kasus Tindak Pidana Korupsi.
Setelah saya mendengarkan langsung di ruang persidangan terkait dissenting opinion dari hakim yang dapat juga dilihat di https://t.co/HjovtkiVE8, setidak-tidaknya ada 1 pernyataan dari hakim yang menunjukkan ketajaman intuisi dari 2 hakim yang memiliki dissenting opinion, yakni terkait dengan “memidanakan orang yang tidak bersalah”.
Dissenting opinion tersebut bukan hanya berisikan opini pendek menggunakan paradigma ex-post yang berfokus dengan pemenuhan unsur-unsur yang patutnya ditafsirkan secara ketat (bukan secara luas seperti 3 hakim lain), namun juga paradigma ex-ante yang mempertimbangkan konsekuensi dari memidana orang yang tidak bersalah di masa depan.
Apa yang ditekankan oleh Hakim Andi Saputra dan Hakim Eryusman terkait dengan memenjarakan orang yang tidak bersalah ini bahkan kurang mendapatkan perhatian dari ahli-ahli yang dihadirkan di persidangan.
Mereka mengutip pendapat dari William Blackstone hingga John Fortescue terkait dengan lebih baik membebaskan orang jahat daripada memidana orang yang tidak bersalah.
Dalam studi hukum kontemporer, apa yang dikhawatirkan oleh Blackstone dan dikutip oleh hakim Andi Saputra dan Eryusman adalah apa yang dikenal sebagai Type-II errors (memenjarakan orang tidak bersalah).
Ini adalah salah satu fokus dalam artikel yang ditulis oleh Mitchell Polinsky dan Steven Shavell dalam The Economic Analysis of Public Enforcement of Law yang saya dan rekan saya Dr. Giovanni Christy (@gvnchrsty) kutip dalam artikel kami di The Jakarta Post: How Obscure Interpretation of State Losses Fuels Capital Flight.
Yang menjadi persoalan dari memenjarakan orang tidak bersalah sebagaimana dijelaskan oleh Polinsky dan Shavell adalah "turunnya perbedaaan ongkos antara melakukan kejahatan dengan tidak melakukan kejahatan".
Dengan kata lain, apabila hukum pidana memenjarakan orang yang tidak bersalah, maka tidak ada gunanya menjadi warga yang baik dan mematuhi hukum. Hukum pidana akan kehilangan fungsi efek jera atau efek pencegahannya (deterrent effect) karena hukum tidak lagi akan dipercayai oleh masyarakat.
Yang jadi persoalan adalah kesalahan tipe-II ini sudah berulang-ulang kali terjadi, tampaknya akan terus terjadi, dan dalam jangka pendek hanya akan bisa dihentikan dengan memberikan grasi, amnesti, rehabilitasi maupun abolisi dari Presiden Prabowo.
Pendapat Hakim Eryusman maupun Hakim Andi Saputra yang ditulis runut tetap kalah dibandingkan argumen buruk dan busuk 3 hakim lain yang menutup mata dari fakta yang dipertunjukkan dengan terang di ruang persidangan.
Argumen buruk dan busuk dari 3 hakim yang mana salah satunya adalah Hakim Purwanto Abdullah yang turut memvonis bersalah Tom Lembong dengan alasan pemberat mengedepankan ekonomi kapitalisme.
Sebuah putusan serupa yang miskin dengan argumen, logika dan tidak sesuai dengan fakta persidangan.
Besar harapan saya agar mas Ibam dan keluarga menemukan keadilan dalam waktu dekat sehingga bebas dari jeratan pidana yang dibuat-buat dan hanya merusak tatanan hukum kita yang sudah busuk dan terus membusuk.
🚨 BREAKING: Someone just built the exact tool Andrej Karpathy said someone should build.
48 hours after Karpathy posted his LLM Knowledge Bases workflow, this showed up on GitHub.
It's called Graphify. One command. Any folder. Full knowledge graph.
Point it at any folder. Run /graphify inside Claude Code. Walk away.
Here is what comes out the other side:
-> A navigable knowledge graph of everything in that folder
-> An Obsidian vault with backlinked articles
-> A wiki that starts at index. md and maps every concept cluster
-> Plain English Q&A over your entire codebase or research folder
You can ask it things like:
"What calls this function?"
"What connects these two concepts?"
"What are the most important nodes in this project?"
No vector database. No setup. No config files.
The token efficiency number is what got me:
71.5x fewer tokens per query compared to reading raw files.
That is not a small improvement. That is a completely different paradigm for how AI agents reason over large codebases.
What it supports:
-> Code in 13 programming languages
-> PDFs
-> Images via Claude Vision
-> Markdown files
Install in one line:
pip install graphify && graphify install
Then type /graphify in Claude Code and point it at anything.
Karpathy asked. Someone delivered in 48 hours.
That is the pace of 2026.
Open Source. Free.
Jadi meninggalnya korban commuter line itu akibat dari serentetan random tai babi situation
Ada perlintasan gak resmi, tapi pas mau ditutup sama pemda, ada ormas tai babj yg nolak, lalu pemdanya juga tai babi gak mampu ngatasin tekanan ormas tai babi
Lalu ada sopir tai babi dari armada tai babi melintas di lintasan tai babi, lalu ditabrak oleh kereta, kemudian sangking tai babinya, taxi ini menolak diderek oleh KAI karena kebijakan manajemen armada taksi tai babi bilang kalo gak diderek oleh derek dari perusahaan tai babi, itu duit derek keluar dari sopir tai babi itu.
Dan sialnya sinyal kereta api pagi tai babi sehingga KA antar kota menabrak Commuter line yg terpaksa menunggu akibat tai babi tai babi di atas.
Gue kalo jadi keluarga korban sih akan ngamuk pol
2025: prompt engineering era.
2026: harness engineering era.
baca handbook AI Engineering Insider, 195 halaman, breakdown lengkap stack di balik production agent.
key reframe-nya adalah agent = model + harness. karena model bisa ganti tiap 6 bulan, tapi harness tetep konsisten. yang penting long-term = harness, bukan prompt.
7 layer-nya adalah = instruction, tools/MCP, memory, execution sandbox, policy + approval, observability, eval.
dev yang masih obses ke “prompt sempurna” = lagi main di layer yang salah, karena layer 1 udah komoditas.
dan yang ngebedain agent toy vs production agent adalah layer 2–7, itu yang ga bisa di-AI-kan.
shift-nya kerasa banget, recommended.
Bismillahirrahmanirrahim.
Hari ini, izinkan saya Ririe, mewakili Ibam dan anak-anak kami, menyampaikan Surat Terbuka kepada Pemimpin tertinggi negeri, Presiden Republik Indonesia, Bapak Prabowo Subianto.
Dengan segala kerendahan hati, kami memohon perlindungan hukum dari ketidakadilan yang kami hadapi. Agar kebenaran tidak dikalahkan oleh hal-hal di luar fakta persidangan. Agar keadilan benar-benar ditegakkan sebagaimana mestinya.
Kami percaya, negara tidak boleh membiarkan warganya merasa sendirian dalam menghadapi ketidakadilan.
Semoga surat ini sampai dan diterima dengan baik oleh Bapak Presiden. Demi keadilan berdiri setegak-tegaknya di negeri ini. Demi hilangnya rasa takut dari mereka-mereka yang dengan jujur dan tulus hendak membantu negara dengan keahlian mereka.
Terima kasih, Bapak Presiden @prabowo 🙏🏻