@menuembegejelek Bener ga sih katanya sekolah dpt jatah insentif jg perhari dr dapur tergantung jumlah siswanya, dan katanya jg kader Posyandu jg dpt insentif jg sesuai dgn data bumil yg mereka punya
@toe_giman Minimal bisa ga sih syarat jadi wakil rakyat gitu setara dengan syarat ngelamar ke BUMN atau perusahaan swasta yg minimal S1 di bidang yg relevan, aktif berorganisasi, toefl 450, skck
Melihat keributan di timeline soal laki-laki yg menolak vasektomi dengan berlindung di balik dalih agama, rasanya kita sedang melihat realisasi dari ego patriarki ala Tokiomi Tohsaka di seri Fate/Zero.
Tokiomi adalah contoh dari kengerian psikoanalisis Lacanian, ia rela menghancurkan hidup anak dan istrinya sendiri demi memenuhi dogma suci keluarganya untuk mencapai Root.
Laki-laki di dunia nyata yg menolak vasektomi, padahal istrinya sudah bertaruh nyawa melahirkan berkali-kali, sebenarnya mengidap delusi ego yg sama persis dengan Tokiomi. Mereka membungkus keegoisan maskulinitas mereka dengan narasi besar soal "tugas suci menyebar umat", padahal aslinya mereka cuma ketakutan kehilangan phallus atau simbol kekuasaan biologis mereka sebagai laki-laki yg "subur".
Di sinilah letak kemunafikan terbesarnya, dan ini berkaitan langsung dengan eksploitasi tubuh perempuan. Sama seperti Tokiomi yg menutup mata terhadap penyiksaan fisik yg dialami Sakura di ruang bawah tanah Matou, laki-laki anti-vasektomi ini dengan sengaja menutup mata terhadap horor biologis yg harus ditanggung istri mereka.
Vasektomi itu prosedur yg sangat cepat, minim risiko, dan pemulihannya singkat. Tapi karena ego patriarki yg rapuh tadi, beban kontrasepsi akhirnya dilempar sepenuhnya ke tubuh perempuan.
Istri yg disuruh menelan pil KB dengan efek samping hormonal yg mengacak-acak emosi dan fisik, istri yg harus pasang IUD yg menyakitkan, atau istri yg disuruh potong/ikat tuba falopi yg risikonya jauh lebih besar daripada vasektomi.
Parahnya lagi, kalau kontrasepsi gagal, tubuh perempuan pula yg harus kembali menjadi inang, mempertaruhkan nyawa untuk kesekian kalinya di meja persalinan.
Ketika agama dipakai sebagai tameng untuk membenarkan penolakan vasektomi, itu bukan lagi manifestasi dari keimanan, melainkan senjata biopolitik untuk menundukkan otonomi tubuh perempuan.
Laki-laki yg merasa "kejantanannya" direduksi oleh vasektomi sebenarnya sedang mengakui bahwa nilai mereka sebagai manusia cuma sebatas fungsi reproduksi. Mereka lebih memilih membiarkan tubuh pasangannya rusak digempur siklus kehamilan dan efek samping alat kontrasepsi, asalkan ilusi maskulinitas mereka di mata circle nya tetap utuh.