Seskab Teddy Indra Wijaya .
Letkol Kopassus, mantan ajudan Prabowo, nol pengalaman diplomasi ,
merespons Dino Patti Djalal dengan sindiran: "diplomat hebat, walau cuma 3 bulan jadi Wamenlu."
Oke, Pak Letkol. Kita bedah satu-satu.
Soal biaya: Lo bilang kelebihan biaya ditanggung "pribadi Presiden." Tapi pesawat kepresidenan, pengamanan TNI-Polri, hotel protokol, tim advance, logistik 50-60 orang , itu semua tetap APBN.
Yang "pribadi" cuma excess-nya.
Dan Prabowo sendiri yang tanda tangan Inpres No. 1/2025 yang perintahkan seluruh K/L pangkas perjalanan dinas 50%.
Guru nyuruh murid hemat, gurunya keliling dunia.
Soal rombongan: Lo bangga rombongan turun dari 120 jadi 50-60 orang.
Dino tidak pernah bicara soal ukuran rombongan. Dia bicara soal frekuensi , 1 dari 6 hari Presiden ada di luar negeri.
Lo jawab pertanyaan yang tidak ditanyakan.
Soal investasi Rp 2.430 triliun: Ini total realisasi investasi PMDN + PMA tahunan , tren jangka panjang yang sudah berjalan sebelum Prabowo menjabat, dipengaruhi hilirisasi, regulasi, dan iklim global.
Lo tidak bisa buktikan berapa dari angka itu kausal dari kunker.
Berdiri di bawah hujan lalu ngaku bisa mendatangkan air.
Soal sindiran "3 bulan":
Dino punya PhD dari London School of Economics, 26 tahun karier diplomatik, 3 tahun Dubes untuk Amerika Serikat.
Yang nyindir dia adalah seorang Letkol yang jabatan Seskab-nya lahir dari loyalitas, bukan keahlian tata negara.
Di negara yang sehat, Seskab dijabat teknokrat.
Di sini, dijabat ajudan yang merangkak naik karena setia , lalu nyindir diplomat doktoral soal pengalaman.
"Speak truth to power," kata Dino.
Yang menjawab justru orang yang hidupnya melayani power.
Saya dapat info bhw ada 17 calon Dubes asing yg sudah tiba di Jakarta tapi sampai sekarang masih MENUNGGU waktu utk memberikan surat kepercayaan kpd Presiden. Dari mereka ada yg sudah menunggu 8 bulan. Ada juga Dubes dari negara ASEAN yg menunggu 6 bulan. Karenanya, mereka belum bisa bekerja secara resmi.
Ini memberikan kesan buruk bagi negara2 sahabat yg mengirim Duta Besarnya ke 🇮🇩, apalagi Dubes 🇮🇩 di luar negeri selalu dgn cepat menyerahkan surat kepercayaan kpd host country. Tanpa menyalahkan siapapun, Mohon masalah ini dapat segera dituntaskan Istana krn menyangkut reputasi diplomatik kita.
Seorang pengejar kesempurnaan yang tanpa kompromi. Ia dikenal sangat terobsesi dengan detail dan takut sekali pada kepuasan diri.
Pernah saat bermain melawan Sporting Lisbon, meski City unggul 4-0 di babak pertama, ia masuk ke ruang ganti dgn marah2 krn pemainnya melakukan beberapa kesalahan teknis. Baginya, saat tim mulai merasa sempurna, maka mereka sudah mulai kalah.
Tak hanya pemain, ia juga menuntut energi yg tinggi bahkan dr staf pendukung. Ia pernah menegur staf karena tdk merayakan gol dgn antusias saat laga persahabatan pramusim.
Tapi, ia juga pemimpin yang hangat dan sangat peduli pada orang di sekitarnya. Pada hari pertamanya di Man City, Pep menghafal semua nama dan wajah setiap staf, mulai dari resepsionis hingga petugas fasilitas.
Pernah ia menangis saat meminta tim memberikan penghormatan bagi staf yang berjuang melawan kanker. Ia juga sangat suportif ketika keluarga staf atau pemain mengalami masalah pribadi. Misalnya saat anak seorang staf lahir prematur.
Ia juga pernah menelepon istri seorang staf untuk meminta izin agar suaminya boleh ikutan berpesta merayakan gelar juara Premier League.
Ia lebih dari seorang mesin taktik yang dingin. Kesuksesan2 besarnya adalah perpaduan antara kecerdasan taktis yang luar biasa obsesif dan kemampuan hebatnya dlm membangun hubungan antarmanusia.
Selamat menjalani masa jeda, Pep Guardiola!
Siswa beragama Katholik di SMK Muhammadiyah Pekalongan jadi lulusan terbaik ke-2 dan berhak magang ke Jepang. Hebatnya lagi pihak sekolah menyediakan guru agama khatolik utk siswa spt dia.
Gak perlu koar2 Toleransi tiba2 sudah action, Muhammadiyah semakin terdepan 👍
DILAPORKAN: Setelah tadi malam dijaga Dishub dan dipasang palang pintu manual. Terlihat pada tadi sore, Perlintasan Kereta Ampera kembali dijaga orang tidak berseragam alias
Dari kejadian kemaren, kita tidak belajar apa apa.
When Germany got eliminated from the group stage in Euro 2000, they pressed a hard reset button.
Bild called them “the worst team in the history of mankind”.
Oliver Kahn said “when it comes to outstanding players, we neither have the quality nor the quantity”. That was under Erich Ribbeck, a man not many Germans fancied, but respected.
Germany simply went to work after the Euros embarrassment.
It was a rude reawakening. They'd been warned for a long time that their talent generation had stalled. They were thrashed by Croatia in the last 8 at France 98.
What did they do after their new millennium woes?
The “Extended Talent Promotion Programme”. German professional clubs and the German FA spent €48m on this programme every year. They spend more on it now. It’s expensive but very promising.
They figured their search for talent was narrow. They were not finding enough gems. Their concentration was too focused on the centre. And talented Germans were in the lower cadres.
For example, Miroslav Klose who was their star at the 2002 World Cup was playing amateur football at 21. He didn't play academy football. He played local football before joining Kaiserslautern reserves. In 2001, he made his Germany debut and became the hallmark of the revival of German football — a system that now democratises access for every talent.
Many like Klose had gone without notice. When they switched policies and went deeper in their search, Jorg Daniel, the Director of the Extended Talent Programme said;
“If the talent of the century happens to be born in a tiny village behind the mountains, from now on we will find him."
They lived that quote.
They invested in coaching education. The Extended Talent Programme also made it compulsory for every professional German football club to have and maintain a centre of excellence.
They developed two systems known as “Stützpunkte” for the regional talent centres, and the ones run by the German clubs in Bundesliga and 2. Bundesliga. These are known as “Leistungszentren”.
They built 366 Stützpunkte and hired 1,000 coaches paid by the DFB.
The best local footballers are found and sent to the Stützpunkt and if they do well, they'll be sent to the Leistungszentren which is run by the elite sides.
Germany scouts hundreds of thousands of talents as a result, and have an endless stream of football players. Today, it's hard to see a good football talent in Germany who's not on their radar.
The system spelled out a rule on the number of German talents they must have, the number of physios, coaches, and how those clubs should relate with local schools to get talent. They also bore the risk of losing their license if they didn't follow these rules.
What this did for German football is the access we see today. It's now become a very cosmopolitan football team. A team that has players of varying roots, yet one love for the country that's made them.
The man who shone in 2002, Klose had Polish roots. They also had their first African-born player. They've had players of Turkish, Nigerian, Polish, Sierra-Leonean, Togolese, Ivorian, Tunisian, etc roots play and perform well for them ever since. Fantastic talents whose parents came from different parts of the world have since represented Germany and they look good for it.
Young coaches also became more accepting of the norm. They want to succeed.
England’s hard reset after its stark failure between 2008 and 2012 led to the EPPP. It has worked for them so far.
You may have talents in a country but you must find a way to bring them together. You must find a way to find them.
My name is Rilwan, I love and write about football systems, memories and the depths behind the game. Follow me and repost if you want more of this.
Min @KemensetnegRI, ini saya bertanya murni ya. Berbasis protokoler dan kapatutan pertemuan pemimpin dua negara. Kepala Negara.
Ini kan acara resmi undangan Kaisar Jepang ya. Artinya undangan Kepala Negara pada Kepala Negara. Tapi yg mengganjal saya, itu Mas Teddy duduk sebagai apa di meja? Posisi terhormat yang Perdana Menteri Jepang saja tidak akan ambil jika itu pertemuan dua kepala negara (CMIIW).
Kedua, Mas Teddy itu hanya eselon 2 di Setneg kan? Masih ada di rombongan yang jauh di atas itu, eselon 1 bahkan Menteri hingga Menko. Kenapa koq malah eselon 2 yang di sebelah kanan Presiden?
Kalau putra Presiden, itu wajar dalam jamuan kenegaraan, apalagi memang Pak Prabowo saat ini masih sendiri, wajar duduk bersama Kaisar mendampingi bapaknya di jamuan kenegaraan.
Coba jelaskan agar tidak jadi isu, bukan hanya nasional juga International.
Mungkin bisa dicek di protokoler Kemenlu, apa pernah kejadian seperti ini.
Terimakasih jika dijelaskan.
Seskab Teddy sebut nama Kaisar & Putera Mahkota Jepang kyak nyebut nama teman-teman dia di kujungan resmi kenegaraan.
Orang ini paham sopan santun diplomatik gak sih?
Pdhal dlm dunia diplomasi, protokol bukan sekadar formalitas basa-basi; ia bahasa penghormatan antarnegara.
Mengabaikan gelar resmi kepala negara asing, terutama monarki dgn sejarah panjang sprt Jepang, merupakan bentuk kecerobohan komunikasi yg sangat serius & memalukan.
Kaisar Jepang: His Majesty (HM) Emperor Naruhito (Yang Mulia Kaisar Naruhito). Di Jepang, beliau juga disebut sebagai Tenno Heika.
Putra Mahkota Jepang: His Imperial Highness (HIH) Crown Prince Akishino (Yang Mulia Putra Mahkota Akishino)--tidak dipanggil lagi nama lahirnya: Fumihito.
Penggunaan nama langsung terhadap simbol tertinggi negara sahabat oleh seorang Seskab adalah cermin dari dangkalnya literasi diplomatik.
Sebagai pejabat tinggi yg melekat pada lingkar utama kekuasaan, Seskab Teddy seharusnya memahami bahwa setiap kata yg keluar dari mulutnya membawa beban representasi negara.
Menyebut nama Kaisar Naruhito tanpa embel-embel "Yang Mulia" bukan sekadar menunjukkan keakraban yg dipaksakan, melainkan arogansi linguistik yang memalukan.
Di panggung internasional, ketidakmampuan membedakan cara bicara di warung kopi dgn forum kenegaraan adalah sinyal ketidaksiapan mental & intelektual dlm mengemban tugas birokrasi tingkat tinggi.
Tindakan ini merendahkan marwah diplomasi Indonesia & mempertontonkan defisit etika yg nyata.
Jika seorang Seskab gagal menguasai tata krama dasar protokoler, hal itu memberikan kesan bahwa pemerintahan kita dikelola oleh individu yg tidak menghargai kedaulatan budaya bangsa lain.
Diplomasi menuntut presisi, bukan sekadar gaya; dan dalam kasus ini, Seskab Teddy telah gagal memberikan rasa hormat yg menjadi hak dasar mitra internasional kita.
Praka Farizal Romadhoni
Kapten Inf Zulmi Aditya Iskandar
Sertu Ikhwan
Innalillahi wa inna ilaihirojiun
Dan blm ada sepatah katapun dr presiden?
Al-fatihah..
🥀
Sekitar 16 tahun yang lalu, Maroko berinvestasi sebesar $65 juta untuk membangun Akademi Mohammed VI.
Di tanah seluas 30 hektar mereka membangun lapangan latihan, hotel mewah, pusat kebugaran, sekolah, dan fasilitas lainnya.
Tujuannya adalah untuk mengembangkan generasi bintang berikutnya dan membawa kembali bakat yang lahir di luar negeri dengan darah Maroko.
Dan mereka berhasil
🏆 Juara FIFA Arab Cup 2025
🏆 Juara Piala Dunia U20 2025
🏆 Juara AFCON U23 2023
🏆 Juara AFCON U17 2025
🥈 runner-up AFCON U20 2025
🥉 Juara 3 Olimpiade 2020
✅ Semifinalis Piala Dunia 2022
Dan kini mereka berhasil menembus ke final AFCON 2025, di laga puncak tersebut mereka akan menghadapi Senegal.
1 - AC Milan (W12 D7 L1) have suffered just a single defeat in their first 20 Serie A games of the season, for only the third time in the three points for a win era (since 1994/95), after 1995/96 and 2003/04. Foundations.
#ComoMilan
Mau mengeluh ya krn ini terjadi berulang2.
Aku nggak masalah ya kalau tulisan2 itu mau dicopas, dijadikan konten baru, dan tanpa izin. Tapi setidaknya, berikan kredit tempat tulisan2 itu dicomot. Setidaknya, jadilah manusia yg beradab.
Follower: 1 juta
Moralitas: NOL
Tiga kompetisi, tiga pelatih, tiga kegagalan. Tahun 2025 menelanjangi ilusi bahwa sepakbola Indonesia sudah keren dan “level Asia”. Faktanya, kita tidak pernah ke mana-mana.
@PSSI lebih sibuk dengan beragam keputusan impulsif dan drama tanpa ujung daripada membangun fondasi yang jelas.
Hasilnya? Gagal ke Piala Asia U-23, gagal ke Piala Dunia, dan bahkan gagal di SEA Games. Ini bukan nasib buruk, melainkan buah dari tata kelola yang kacau.