Guys, pemerintah baru saja mengumumkan sesuatu yang dikemas sebagai kabar baik untuk rakyat kecil.
KPR 40 tahun.
Cicilan hanya Rp773.000 per bulan.
Pekerja bergaji Rp2 juta bisa punya rumah.
Kedengarannya bagus.
Kedengarannya pro rakyat. Kedengarannya seperti solusi.
Tapi gue minta lo berhenti sejenak dan pikirkian apa yang sebenarnya sedang terjadi.
Ini bukan solusi.
Ini adalah desain perbudakan yang dilegalkan.
KPR 40 tahun artinya lo mulai mencicil rumah
usia 25 lo baru selesai di usia 65 tahun.
Tepat saat pensiun.
Tepat saat lo tidak punya penghasilan lagi.
Seluruh masa produktif hidup lo dari muda sampai tua habis untuk membayar satu rumah.
Bukan untuk menabung.
Bukan untuk investasi.
Bukan untuk pendidikan anak.
Bukan untuk menikmati hidup.
Untuk cicilan rumah yang tidak akan lunas sampai lo pensiun.
Dan ini yang paling mengerikan dari kalkulasinya:
Gaji Rp2 juta per bulan.
Cicilan Rp773.000 per bulan.
Itu 38,6% dari seluruh penghasilan hanya untuk cicilan rumah.
Belum makan.
Belum transportasi.
Belum listrik.
Belum air.
Belum biaya anak sekolah.
Belum biaya sakit.
Sisa untuk hidup: Rp1,2 juta sebulan.
Rp40.000 per hari.
Dengan Rp40.000 per hari lo harus makan, transport, bayar semua kebutuhan hidup.
Di era rupiah Rp17.600 per dolar.
Di era harga pangan yang terus naik karena kedelai, gandum, dan minyak semuanya impor dalam dolar.
Dan ini yang tidak pernah diceritakan pemerintah:
Total yang lo bayar selama 40 tahun dengan bunga bukan hanya harga rumahnya.
Lo membayar harga rumah ditambah bunga selama 40 tahun.
Yang bisa berarti lo membayar dua sampai tiga kali lipat harga asal rumah itu.
Rumah yang secara teknis bisa lo beli Rp200 juta lo bayar Rp400-600 juta selama 40 tahun.
Selisihnya masuk ke mana?
Ke sistem keuangan. Ke bank. Ke Tapera.
Rakyat kecil yang tidak punya pilihan lain dipaksa membayar premium berlipat-lipat hanya karena mereka tidak punya uang di awal.
Dan lo tahu apa yang paling gue ingat dari ini:
John D. Rockefeller pernah bilang sesuatu yang sangat terkenal dan sangat mengerikan:
"Saya tidak menginginkan bangsa pemikir.
Saya menginginkan bangsa pekerja."
Dan cara paling efektif untuk memastikan orang tidak berpikir kritis adalah memastikan mereka terlalu sibuk memikirkan cicilan.
Orang yang gajinya Rp2 juta dan cicilannya Rp773.000 tidak punya bandwidth mental untuk memikirkan kenapa rupiah melemah.
Tidak punya waktu untuk mempertanyakan kenapa anggaran pendidikan dipotong 44%.
Tidak punya energi untuk marah tentang Nadiem yang dituntut 27 tahun atau Noel yang bilang menyesal tidak korupsi lebih banyak.
Mereka terlalu lelah.
Terlalu sibuk bertahan.
Terlalu tenggelam dalam tekanan cicilan yang tidak akan selesai sampai mereka pensiun.
Itu bukan kebijakan perumahan.
Itu adalah mekanisme kontrol sosial.
Dan ini sambungkan dengan semua yang sudah terjadi:
Gaji tidak naik signifikan.
Kelas menengah menyusut dari 57 juta ke 46 juta.
Tabungan rata-rata turun dari Rp3 juta ke Rp1,5 juta. Rupiah Rp17.600.
Harga pangan naik.
Guru honorer digaji di bawah UMP.
Tapi solusi yang ditawarkan bukan menaikkan upah.
Bukan menciptakan lapangan kerja berkualitas.
Bukan memastikan inflasi terkendali.
Solusinya:
perpanjang tenor KPR dari 30 tahun menjadi 40 tahun.
Supaya cicilan per bulannya kelihatan lebih kecil padahal total yang dibayar jauh lebih besar.
Supaya lebih banyak orang bisa masuk ke dalam sistem utang jangka panjang yang mengikat mereka seumur hidup produktif.
Ini bukan membantu rakyat memiliki rumah.
Ini membantu sistem keuangan memiliki rakyat.
Dan yang paling miris:
Pemerintah mengklaim ini sebagai kebijakan pro rakyat.
Sebagai solusi untuk krisis perumahan.
Sebagai bukti bahwa pemerintah peduli dengan masyarakat berpenghasilan rendah.
Tapi coba bayangkan satu skenario sederhana:
Lo mulai KPR di usia 25 dengan gaji Rp2 juta.
Lo cicil selama 40 tahun.
Di tahun ke-15 usia lo 40 rupiah makin melemah, harga kebutuhan pokok naik, dan lo di-PHK karena otomasi AI atau karena bisnis tempat lo kerja bangkrut karena investor asing kabur.
Cicilan tetap harus dibayar.
Rumah disita kalau tidak bayar.
Lo kehilangan segalanya setelah 15 tahun mencicil.
Itu bukan kepemilikan rumah.
Itu adalah ilusi kepemilikan yang bisa diambil kapan saja kalau lo tidak bisa membayar.
KPR 40 tahun bukan solusi krisis perumahan.
Itu adalah pengakuan resmi bahwa gaji rakyat Indonesia terlalu kecil untuk membeli rumah dengan cara yang wajar dan alih-alih menaikkan gaji atau menurunkan harga rumah, pemerintah memilih memperpanjang masa perbudakan finansialnya.
Rockefeller tidak membutuhkan rantai untuk mengikat pekerjanya.
Dia cukup memastikan mereka punya cukup utang untuk tidak berani berhenti bekerja.
KPR 40 tahun adalah versi modern dari filosofi itu. Diberikan dengan senyum.
Dikemas sebagai bantuan. D
an dirayakan sebagai terobosan kebijakan.
Sementara yang sebenarnya terjadi adalah: rakyat yang sudah kelelahan dipastikan akan terus kelelahan untuk empat puluh tahun ke depan.
Guys, Prof. Ferry Latuhihin ekonom dengan 40 tahun pengalaman baru ngomong sesuatu yang menurut gue paling mengerikan yang pernah gue dengar soal rupiah dalam beberapa tahun terakhir.
Dan yang bikin ini mengerikan
bukan hanya angkanya.
Tapi fakta bahwa prediksi-prediksi dia sebelumnya semua terbukti.
Track record prediksi Ferry yang perlu lo ketahui dulu:
Tahun lalu dia prediksi rating Indonesia akan di-downgrade.
Terjadi outlook dari stable menjadi negatif.
Tahun lalu dia prediksi dolar akan ke Rp17.000. Terjadi sekarang sudah Rp17.600.
Tahun lalu dia prediksi IHSG akan ambruk.
Terjadi sekarang di 6.700-an dan terus turun.
Bahkan ketika seluruh pasar modal Asia naik Indonesia satu-satunya yang minus.
Tiga prediksi.
Tiga-tiganya benar.
Dan sekarang dia punya prediksi baru.
Prediksi terbaru Ferry dan ini yang bikin gue tidak bisa tidur:
"Ramalan saya bisa 22.000 sampai 25.000 di semester kedua."
Dolar Rp22.000 sampai Rp25.000.
Dalam hitungan bulan.
Dan dia punya alasan yang sangat konkret bukan spekulasi kosong.
Mengapa bisa sampai ke sana penjelasannya:
Pertama — harga minyak yang terus naik.
Harga minyak sudah di atas Rp100 per barel.
Kalau spot price-nya menyentuh Rp120 Indonesia yang masih mengimpor minyak dalam jumlah besar akan membutuhkan jauh lebih banyak dolar.
Permintaan dolar meledak.
Rupiah makin tertekan.
Kedua — badai PHK yang sudah di depan mata.
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang sendiri yang bilang: badai PHK di depan mata.
Di tengah klaim pertumbuhan 5,61% dari Prabowo menterinya sendiri memberikan antitesis yang sangat telak.
Bisnis kaing-kaing karena dolar mahal.
Royalti pertambangan dinaikkan.
Komisi ojek online dipaksa turun ke 8% padahal 20% saja GoTo masih bleeding selama 10 tahun lebih.
Kalau platform ojek online berhenti operasi karena tidak bisa bayar 7 juta driver ojol menjadi pengangguran dalam semalam.
Ketiga — defisit fiskal yang makin tidak terkendali.
Kuartal pertama saja sudah minus Rp240 triliun. Ditutup dengan utang tambahan Rp258 triliun.
MBG saja menghabiskan Rp335 triliun pos terbesar dalam APBN untuk program yang Ferry sebut sebagai bancakan.
Dan ketika pemerintah kehabisan uang dan terus terbitkan surat berharga negara yang dibeli oleh Bank Indonesia sendiri itu bukan keuangan yang sehat. Itu money printing untuk menutup program bakar duit.
Keempat — El Nino yang masuk bulan Juli-Agustus.
El Nino akan memicu krisis pangan global. Indonesia yang masih impor kedelai, gula, beras, jagung, gandum semua dalam dolar akan menghadapi tekanan yang berlipat ganda.
Dolar makin mahal.
Bahan pangan makin mahal.
Rakyat makin tercekik.
Dan ini yang paling mengerikan dari seluruh analisis Ferry:
"Kalau dolar ke atas Rp20.000 98 bisa terulang."
Dia tidak bilang ini untuk menakut-nakuti.
Dia bilang ini berdasarkan logika ekonom dengan 40 tahun pengalaman.
Masyarakat sekarang sudah tidak makan tabungan lagi.
Mereka makan pinjaman.
Pinjol sudah Rp110 triliun di luar sistem perbankan resmi.
Tabungan rata-rata masyarakat turun dari Rp3 juta ke Rp1,5 juta.
Kelas menengah menyusut dari 57 juta menjadi 46 juta.
Tinggal satu trigger.
Dan trigger itu bisa datang dari dolar yang menembus Rp20.000.
Dua rekomendasi darurat Ferry yang menurut gue sangat masuk akal:
Pertama — hentikan MBG sekarang juga.
Bukan bertahap.
Sekarang.
Karena ratusan triliun yang diselamatkan bisa menjadi bumper untuk menahan tekanan rupiah.
Kedua — ganti Purbaya dengan orang yang benar-benar dipercaya oleh market.
Karena selama Purbaya yang bicara dolar tetap naik. Market tidak berbohong.
Kalau kata-katanya dipercaya dolar tidak akan terus ngacir.
Dan soal pernyataan pemerintah yang bilang fundamental kuat:
Ferry bilang dengan sangat blak-blakan:
"Enggak dipercaya.
Lu mau ngomong apa juga di sana dolar tetap ngacir. Harga saham tambah ambruk.
Artinya omongan Anda tidak dipercaya oleh market."
Dan dia tambahkan sesuatu yang lebih pedas lagi:
Statement Purbaya soal kita keluar dari jebakan 5% menurut Ferry itu bukan untuk meyakinkan rakyat.
Itu untuk menghibur presiden supaya Purbaya tidak dipecat.
Ferry Latuhihin bukan dukun.
Dia ekonom.
Tiga prediksi sebelumnya terbukti semua.
Dan sekarang dia bilang Rp22.000 sampai Rp25.000 bisa terjadi di semester kedua 2026.
Kalau itu terjadi bukan hanya dompet yang terdampak.
Bukan hanya harga sembako yang naik.
Tapi fondasi dari seluruh sistem ekonomi yang sudah rapuh ini bisa runtuh dalam waktu yang jauh lebih cepat dari yang siapapun siapkan.
Dan presiden kita masih berdiri di podium bilang: "Selama Purbaya masih senyum tenang aja."
Ada sebuah cerita, pasangan muda Gen Z. Suami istri,
Gajinya Rp 8 juta. Istrinya Rp 6 juta.
Total: Rp 14 juta sebulan.
Dua orang kerja.
Dua karir.
Dua sarjana.
Tiap akhir bulan, mereka cek saldo rekening bersama.
Bulan ini: minus Rp 340.000. Bulan lalu: minus Rp 820.000. Dua bulan lalu: minus Rp 1,2 juta.
"Gaji kita segitu. Kok makin minus?"
Sampai suatu malam mereka duduk. Hitung satu per satu.
Dan hasilnya, bikin mereka terkejut
Mereka tulis semua pengeluaran tetap:
Kontrakan: Rp 3.000.000
Listrik + air + internet: Rp 800.000
Cicilan 2 motor: Rp 1.500.000
Makan harian: Rp 2.500.000
Bensin: Rp 600.000
Kebutuhan anak: Rp 1.200.000
BPJS + asuransi: Rp 400.000
Kiriman ke orangtua: Rp 1.000.000
Total: Rp 11.000.000
Sisa: Rp 3.000.000
"Masih ada Rp 3 juta. Harusnya cukup."
Tapi bulan ini ada:
Kondangan teman kantor +nengok bayi: Rp 600.000
Anak demam + dokter + obat: Rp 450.000 Seragam anak baru: Rp 380.000
Tagihan kartu kredit bulan lalu: Rp 870.000 Service motor: Rp 350.000
"Lain-lain": Rp 700.000
Total tak terduga: Rp 3.350.000
Rp 3.000.000 sisa. Dikurangi Rp 3.350.000.
= MINUS Rp 350.000.
Dan "lain-lain" itu selalu ada.
Setiap bulan.
Berbeda wujudnya.
Tapi selalu datang.
+62 pasangan muda, pada ngerasain jg kah?
Source : thread
Guys, Leon Hartono baru balik dari Singapura dan dia nemuin satu hal yang bikin dia mikir keras.
Rata-rata orang Singapura punya kekayaan Rp7,5 miliar.
Jadi kata dia Pemerintah Singapur tuh Paksa Rakyatnya Jadi Miliarder
Bukan orang kaya.
Bukan CEO.
Bukan entrepreneur.
Orang rata-rata.
Profesional biasa.
Manajer.
Pegawai kantoran.
Mediannya?
Rp1,9 miliar.
Buat konteks Indonesia kita sekitar 25 sampai 30 kali lebih rendah dari angka itu.
Dan yang lebih menyakitkan gap ini makin lebar dari tahun ke tahun.
Di 1970 GDP per kapita Singapura cuma 11 kali lipat lebih besar dari kita.
Sekarang udah 18 kali lipat.
Artinya mereka tumbuh lebih cepat dari kita bukan cuma lebih kaya tapi makin jauh meninggalkan kita.
Dan rahasianya bukan cuma soal korupsi rendah atau negara kecil.
Ada satu program yang jarang dibahas tapi ini yang beneran jadi mesin kekayaan massal di Singapura.
Namanya HDB Housing Development Board.
Kalau lo pikir ini cuma rusun untuk orang miskin lo salah total.
HDB itu bukan program perumahan.
Ini program distribusi kekayaan.
Begini cara kerjanya.
Orang Singapura bisa beli apartemen HDB dengan diskon 50 sampai 60% dari harga pasar.
Rumah yang harusnya lu bayar Rp1 miliar lo cuma bayar Rp400 sampai Rp500 juta.
Dengan bunga fixed 2,6% selama 25 tahun.
Bukan floating rate yang bisa naik kapan aja.
Fixed. Dua koma enam persen.
Dua puluh lima tahun.
Di Indonesia bunga KPR kita berapa?
10% ke atas.
Floating.
Seringkali yield sewa properti kita pun cuma 2-3% jauh di bawah bunga pinjamannya.
Jadi properti di Indonesia secara matematis nggak bisa bayar dirinya sendiri.
Di Singapura?
Properti yang cicilan bulanannya sekitar Rp14 juta bisa disewain Rp40-50 juta sebulan.
Propertinya bayar dirinya sendiri dan masih ada sisa.
Dan ini contoh nyata yang Leon kasih:
Teman SD-nya beli apartemen HDB 60 m² di tahun 2016 seharga 350.000 dolar Singapura.
Bayar dulu cuma 5%.
Empat tahun nunggu sambil kuliah dan awal karir.
Serah terima 2020.
Baru mulai nyicil.
Sekarang 2026 apartemennya dijual di harga 850.000 dolar Singapura.
Capital gain: 500.000 dolar.
Sekitar Rp5,5 miliar.
Dan dia baru nyicil 6 tahun dari 25 tahun.
Artinya dia baru bayar sekitar 120.000 dolar tapi udah dapat keuntungan lebih dari 4 kali lipat modal yang dia keluarkan.
Lu baru bayar sedikit, dalam waktu singkat lu udah dapat 45X upside.
Sistem ini dirancang buat semua fase hidup.
Waktu muda beli yang kecil.
Keluarga berkembang jual, beli yang lebih besar, tetap dapat harga subsidi.
Per keluarga bisa dua kali.
Setiap kali jual, dapat capital gain.
Setiap kali beli, tetap dapat diskon.
Dan kalau mereka udah tinggal sama orang tua HDB-nya disewain.
Uang sewanya jauh lebih besar dari cicilan.
Passive income masuk, cicilan lunas, masih ada sisa.
Lihat datanya dan ini yang paling nyesek:
Untuk 20% warga Singapura paling bawah secara pendapatan 93% kekayaan mereka berasal dari HDB dan CPF yang adalah program pemerintah.
Bukan dari kerja keras ekstra. Bukan dari investasi saham pintar. Tapi dari program yang pemerintah design khusus supaya rakyatnya kaya.
Dan semakin lo naik ke bracket pendapatan yang lebih tinggi porsi HDB dan CPF makin kecil karena mereka udah bisa bikin kekayaan sendiri. Tapi buat yang di bawah pemerintah hadir dan bikin mereka naik kelas.
Sekarang balik ke Indonesia. Dan ini yang bikin gue nggak enak hati.
Program 1 juta rumah kita fokusnya affordability supaya orang bisa beli rumah. Itu bagus. Tapi berhenti di situ.
Nggak ada design untuk capital gain. Nggak ada bunga fixed jangka panjang yang masuk akal. Nggak ada sistem upgrade yang terstruktur. Nggak ada mekanisme supaya properti bisa bayar dirinya sendiri.
Kita bikin program supaya orang punya rumah. Singapura bikin program supaya orang punya kekayaan.
Bedanya itu yang bikin rata-rata orang Singapura jadi miliarder sementara kelas menengah Indonesia makin terjepit.
Yang Leon sarankan dan ini masuk akal:
Nggak harus langsung seluruh Indonesia. Mulai dari Jakarta. Mulai dari Surabaya. Bikin program perumahan terjangkau di lokasi strategis dengan skema yang dirancang bukan cuma untuk tempat tinggal tapi untuk membangun kekayaan kelas menengah.
Kalau pemerintah mau hadir bukan cuma untuk yang paling miskin tapi untuk kelas menengah yang sering kali justru paling nggak dapat apa-apa ini bisa jadi titik balik.
Tapi selama program perumahan kita masih didesain hanya untuk charity dan bukan untuk wealth building gap antara kita dan Singapura akan terus melebar.
Dan 50 tahun lagi kita mungkin masih ngomongin hal yang sama.
"Kok Singapura bisa, kita nggak bisa?"
@utdfocusid Gw mau ikutan min, gw kasih pantun aja ya (boleh pake tjakep)
Bunga mawar tumbuh di taman,
Disiram pagi agar berseri.
MU menang jadi kebanggaan,
Fans tersenyum setiap hari.
✌️
Karena MU abis menang, dan hari ini gue full senyum, gue mau bagi-bagi THR giveaway image IPhone 13 Pro 256gb buat salah satu dari lo yang ngeliat postingan ini, syaratnya cuma komen dan retweet aja, tambahin like juga boleh, gue umumin pemenangnya besok malam.
Semoga beruntung ❤️
[giveaway] happy chorong day 🥳
dalam rangka ultah chorong, aku mau bagiin 3 album apink yang re:love
deadline: 6 Maret 2026 jam 18:00 WIB
syarat:
1. reply tweet ini dengan momen chorong yang kalian suka
bisa yg menyentuh maupun yg lucu
2. pakai foto/video lebih baik
📢 OHH TERNYATA.. TERJAWAB SUDAHHHH❗
finally awalnya kmrin aku ragu buat konsumsi vitamin IPI krn harganya. Ternyata ada fakta mengejutkan di balik harga yang muraah😭😭
Indonesia jadi negara PALING AMAN ke-4 kalau terjadi Perang Dunia ke-3.
Bahkan kita ngalahin Switzerland yang terkenal sebagai negara paling netral ratusan tahun.
Bukan karena kebetulan.
Ini hasil DESAIN sejak 80 tahun lalu.
Founding fathers kita ternyata jenius.
Gue breakdown kenapa:
HP Android lo dicopet?
Lo bisa dapet FOTO MUKA maling + lokasi dia. Real-time.
Bukan hoax. Fitur ini hidden di Android tapi 99% orang gak tau.
Gue setup ini di Samsung gue 2 menit. Gini caranya:
Fakta yang tidak sesuai ekspektasi penonton.
Dalam Money Heist,
El Professor sering berbicara tentang sistem yang korup, ketidakadilan negara, dan kekuasaan finansial. Ia menyerang legitimasi pemerintah, memperlihatkan kelemahan aparat, dan membangun citra seolah-olah dirinya berdiri di sisi rakyat.
Tapi jika ditelanjangi dari simbol dan dramatisasi, ada satu pertanyaan mendasar:
Apakah ia benar-benar berjuang untuk rakyat? Atau dia hanya memanfaatkan suara rakyat untuk kepentingannya sendiri?
Dia menyusun rencana pencetakan uang di Royal Mint of Spain bukan untuk dibagikan kepada masyarakat.
Dia merancang strategi menghadapi Bank of Spain bukan untuk mengguncang sistem demi reformasi.
Semua narasi tentang “melawan pemerintah” berfungsi sebagai tameng moral.
Sebagai alat untuk:
• Menggiring opini publik.
• Mendapat simpati massa.
• Menekan pemerintah agar terlihat sebagai pihak jahat.
Namun hasil akhirnya tidak pernah berubah: uang itu untuk dirinya dan timnya.
Bukan untuk rakyat kecil.
Bukan untuk memperbaiki ketimpangan.
Bukan untuk membangun perubahan.
Narasi perlawanan hanyalah strategi komunikasi.
Ia menyerang pemerintah bukan untuk membela publik,
tetapi untuk melindungi rencananya.
Bukan demi keadilan sosial,
melainkan demi keselamatan dan kekayaan kelompoknya.
Dan di situlah kesadarannya:
El Professor tidak berdiri di depan rakyat.
Ia berdiri di belakang layar, menggunakan kemarahan rakyat sebagai bahan bakar untuk keberhasilannya sendiri.
Kadang, yang paling berbahaya bukanlah orang yang memegang senjata, tetapi orang yang pandai berbicara atas nama banyak orang, padahal tujuannya hanya satu: mengisi perutnya sendiri.
Lo bayar IndiHome 325rb/bulan. Katanya dapet 150 Mbps.
Tapi nonton Netflix buffering.
Zoom meeting patah-patah.
Download 1GB nunggu 2 jam.
Masalahnya bukan provider lo, tapi masalahnya di rumah lo sendiri.
Gue fix WiFi rumah dari 12Mbps → 47Mbps.
Tanpa upgrade paket dan tanpa beli router baru.
Gini caranya:
🏛️Umur 30, bahkan hampir 35, tapi belum punya rumah. Apakah kita kebanyakan ngopi & beli matcha? 🏛️
Ya Tidak
alasannya sederhana saja. struktur ekonomi kita ga memungkinkan buat kita punya rumah.
Mari kita lihat, lanskap Kepemilikan Rumah & Populasi Muda Indonesia (Usia 21-35 Tahun).
• Era 1980
⚡Kepemilikan Rumah di Usia 35: 78%
⚡ Populasi Usia 21–35: ± 32 Juta Jiwa.
• Era 1990
⚡ Kepemilikan Rumah di Usia 35: 72%
⚡ Populasi Usia 21–35: ± 41 Juta Jiwa
Era ini, ada program perumahan skala besar dan bunga KPR yang disubsidi membuat kepemilikan rumah di usia 30-an awal tetap tinggi meski populasi mulai padat.
• Era 2000
⚡Kepemilikan Rumah di Usia 35: 64%.
⚡ Populasi Usia 21–35: ± 53 Juta Jiwa
Mulai muncul fenomena "komuter". Usia 35 tahun masih mampu membeli rumah, namun lokasinya mulai bergeser menjauh dari pusat kota demi harga yang masuk akal.
• Era 2010
⚡ Kepemilikan Rumah di Usia 35: 52%.
⚡Populasi Usia 21–35: ± 62 Juta Jiwa.
Harga properti naik "gila-gilaan" (sering disebut Property Bubble). Kelompok usia 35, separuhnya mulai kesulitan melakukan akad kredit karena kenaikan harga rumah jauh melampaui kenaikan pendapatan tahunan.
• Era 2020
⚡Kepemilikan Rumah di Usia 35: 35%.
⚡ Populasi Usia 21–35: ± 68 Juta Jiwa
Berdasarkan tren BPS, terjadi penurunan drastis. Banyak individu usia 35 yang masih mencicil apartemen studio atau tinggal di rumah mertua karena besarnya uang muka (DP) yang sulit terkumpul.
• Era 2025
⚡Kepemilikan Rumah di Usia 35: 24%.
⚡Populasi Usia 21–35: ± 70 Juta Jiwa.
Meskipun usia 35 memberikan profil kredit yang lebih matang, harga rumah di area kerja (urban) sudah menyentuh angka Rp 800 Juta – Rp 1,5 Miliar untuk tipe paling kecil. serem banget. duit siapa coba segitu.
memang harga rumah udah ga masuk akal, jadi chill aja.
Kalau bisa beli ya beli, kalau bisanya kredit ya kredit.
Kalau belum bisa keduanya, ngontrak atau kos aja.
sans aja.
📹: contoh rumah tapak
Gojek dan Grab kasih harga BEDA ke tiap orang.
Rute sama. Waktu sama. Harga beda.
Gue bandingin sama temen kemarin. Dia Rp23rb. Gue Rp31rb. SAMA PERSIS rutenya.
Ini bukan bug. Ini ALGORITMA.
Mereka tau siapa yang mau bayar lebih mahal.
Gue nemu cara biar bikin harga Gojek/Grab lebih murah dan bikin gue hemat ratusan ribu tiap bulan.
Gini caranya:
tahun 1990 ayah saya beli rumah di ciputat tangsel harganya Rp 6 juta luas tanah 80 m2 luas bangunan 36 m2. gaji nya kira2 Rp 200.000/bulan sebagai dosen.
artinya perbandingan gaji dan rumah kira2 1 : 30X. dapet luas tanah 80 m2.
kalau asumsikan gaji dosen saat ini Rp 5 juta dikali 30 sama dengan Rp Rp 150 juta. apakah mungkin harga Rp 150 juta dapat luas tanah 80m2? berattttt harus di tempat jin buang anak wkwk 😅
jadi bukan salah ngopi nya, memang dulu harga rumah msh wajar, sekarang jadi instrumen investasi dan naiknya kelewat kenceng.
Mari kita usahakan wangi hotel mewah itu
1. Hotel Shangri-La : Elescent
2. Hotel Tentrem : Lemongrass
3. Hotel Hyatt : Mine Perfumery
4. Hotel JW Marriott : Desert Mist
5. Hotel Majapahit : Euodia Rosette
6. Hotel Mason Pine : HMNS AMBAR
7. Hotel Amanjiwo : Camani Mahapengiri