Guys, ada netizen yang cerita pengalamannya habis belanja di Kopdes dan cukup bikin mikir.
Awalnya dia datang dengan ekspektasi bakal dapat harga lebih murah dibanding toko sekitar. Maklum, selama ini narasinya kan Kopdes hadir untuk membantu masyarakat dan menggerakkan ekonomi lokal.
Tapi setelah belanja, menurut dia harganya kurang lebih sama saja, bahkan ada beberapa barang yang bisa ditemukan lebih murah di tempat lain.
Yang bikin dia heran, suasana tokonya sepi banget. Katanya pas masuk langsung disambut beberapa pegawai dan ada aparat TNI yang berjaga yang siap melayani.
Sampai dia bercanda, rasanya lebih ramai jumlah pegawainya daripada jumlah pembelinya.
Terus ada hal lain yang bikin pengalaman belanjanya agak ribet. Banyak rak belum dilengkapi label harga, jadi hampir setiap mau ambil barang harus tanya dulu ke pegawai. Akhirnya bolak-balik nanya harga satu per satu.
Menurut dia juga, barang yang dijual mayoritas produk pabrikan yang biasa ditemukan di minimarket. Barang UMKM lokal yang sering disebut-sebut belum terlihat.
Bahkan Minyakita yang biasanya dicari masyarakat juga tidak tersedia saat dia datang. Variasi barangnya pun menurut dia masih kalah lengkap dibanding warung Madura di dekat rumahnya.
Nah yang jadi pertanyaan besar sebenarnya sederhana. Kalau harga tidak lebih murah, pilihan barang tidak lebih lengkap, dan pengalaman belanja belum lebih praktis, apa alasan masyarakat harus beralih belanja ke sana?
Karena pada akhirnya masyarakat itu sederhana. Mereka nggak peduli nama programnya apa, siapa yang meresmikan, atau berapa besar anggarannya. Yang mereka lihat cuma: lebih murah nggak, lebih lengkap nggak, dan lebih mudah nggak.
Kalau jawabannya belum, ya jangan kaget kalau orang tetap memilih belanja di tempat yang selama ini sudah mereka percaya.
toko tidak hidup karena banyak seremoni atau banyak pegawai. Toko hidup karena ada pembeli yang datang lagi, lagi, dan lagi karena merasa lebih untung belanja di sana.
Guys, ada pernyataan Prabowo yang menurut gue paling berbahaya yang pernah gue dengar dari seorang presiden soal mata uang negaranya sendiri.
Dan dia ngomong ini bukan di forum terbatas.
Bukan slip of the tongue.
Tapi di depan ribuan rakyat dengan penuh keyakinan:
Mau dolar berapa ribu kek
kalian di desa-desa kan enggak pakai dolar.
Yang pusing yang suka ke luar negeri.
Ini bukan candaan.
Ini adalah cara berpikir yang sangat berbahaya.
Gue mau kasih lo contoh nyata negara yang pemimpinnya pernah berpikir persis seperti ini.
Dan apa yang terjadi setelahnya.
Zimbabwe
ketika presiden bilang rakyat desa tidak butuh mata uang yang kuat:
Robert Mugabe selama bertahun-tahun bilang kepada rakyatnya bahwa pelemahan nilai mata uang adalah konspirasi Barat.
Bahwa rakyat desa yang tidak bertransaksi dalam dolar tidak perlu khawatir.
Hasilnya?
Inflasi Zimbabwe mencapai 89,7
sextillion persen per tahun di 2008.
Orang membawa uang keranjang penuh hanya untuk beli roti.
Petani di desa yang "tidak pakai dolar" mendapati hasil panennya tidak bisa dibeli siapapun karena harga berubah setiap jam.
Tabungan seumur hidup hilang dalam semalam.
Mereka akhirnya menyerah dan menggunakan dolar Amerika sebagai mata uang resmi.
Mata uang mereka sendiri sudah tidak ada nilainya sama sekali.
Venezuela
ketika pemerintah melarang rakyat khawatir soal kurs:
Hugo Chavez dan Maduro selama bertahun-tahun meyakinkan rakyat bahwa kurs tidak relevan bagi rakyat kecil.
Yang penting ada subsidi.
Yang penting ada program sosial.
Hasilnya?
Inflasi Venezuela mencapai 1.000.000% di 2018.
Dokter, guru, insinyur semua yang punya pendidikan dan bisa pergi pergi.
Lebih dari 7 juta warga Venezuela meninggalkan negaranya.
Rakyat desa yang "tidak pakai dolar" itu akhirnya mengantri berhari-hari untuk dapat sekarung tepung.
Mereka juga akhirnya terpaksa bertransaksi dalam dolar di pasar gelap karena mata uang mereka sendiri tidak dipercaya siapapun.
Dan sekarang kembali ke Indonesia yang ternyata sangat relevan:
Prabowo bilang rakyat desa tidak pakai dolar.
Tapi benarkah demikian?
Kedelai bahan baku tempe dan tahu yang dimakan rakyat desa setiap hari 90% diimpor dari Amerika Serikat.
Harganya ditentukan dalam dolar.
Ketika rupiah melemah dari Rp13.000 ke Rp17.000 — harga kedelai naik.
Harga tempe naik.
Harga tahu naik.
Penjual tahu dan tempe di desa yang "tidak pakai dolar" itu langsung merasakan dampaknya di meja makan mereka.
Gandum bahan baku roti, mie instan, biskuit yang dikonsumsi rakyat desa 100% diimpor.
Harganya dalam dolar.
Pupuk yang dipakai petani desa untuk bercocok tanam sebagian besar bahan bakunya diimpor.
Harganya dalam dolar.
Obat-obatan generik bahan bakunya sebagian besar diimpor dari China dan India.
Harganya? Dalam dolar.
Rakyat desa tidak pegang dolar secara fisik.
Tapi seluruh kehidupan mereka dari makan pagi sampai obat yang mereka minum harganya ditentukan oleh kurs dolar.
Dan inilah yang paling miris:
Presiden yang seharusnya menjaga kepercayaan pasar terhadap mata uang negaranya justru dengan entengnya bilang kurs dolar tidak relevan bagi rakyat.
Padahal kepercayaan itulah
yang membuat rupiah bisa stabil.
Kepercayaan itulah yang membuat investor mau masuk.
Kepercayaan itulah yang membuat rakyat tidak lari ke dolar dan emas seperti yang sekarang terjadi dan dikhawatirkan oleh ekonom-ekonom kita.
Ketika presiden sendiri tidak menganggap serius pelemahan mata uangnya sinyal apa yang dikirim ke pasar?
Sinyal apa yang dikirim ke investor asing?
Sinyal apa yang dikirim ke rakyat yang tabungannya dalam rupiah?
Bandingkan dengan pemimpin yang serius:
Lee Kuan Yew dari Singapura negara tanpa sumber daya alam apapun menjadikan kestabilan mata uang sebagai prioritas utama pemerintahannya.
Dia tahu bahwa kepercayaan terhadap mata uang adalah kepercayaan terhadap negaranya secara keseluruhan.
Hasilnya?
Singapura hari ini punya GDP per kapita lebih dari 80.000 dolar.
Rakyat Singapura yang "cuma pedagang kecil" pun hidupnya jauh lebih sejahtera dari rakyat kita yang punya sumber daya alam berlimpah.
Bukan karena Singapura kaya alam.
Tapi karena pemimpinnya tidak pernah menganggap remeh nilai mata uangnya.
Pernyataan "mau dolar berapa ribu kek, di desa kan tidak pakai dolar" bukan pernyataan yang menunjukkan ketenangan seorang pemimpin.
Itu adalah pernyataan yang menunjukkan ketidakpahaman atau lebih buruk lagi, ketidakpedulian terhadap bagaimana ekonomi nyata bekerja di tingkat paling bawah.
Rakyat desa tidak pegang dolar.
Tapi rakyat desa makan tempe dari kedelai impor yang harganya dalam dolar.
Rakyat desa bertani dengan pupuk yang bahan bakunya dalam dolar.
Rakyat desa berobat dengan obat yang bahan bakunya dalam dolar.
Ketika presiden tidak peduli dengan kurs yang tidak peduli bukan hanya presidennya.
Tapi seluruh sistem di bawahnya ikut tidak peduli.
Dan ketika seluruh sistem tidak peduli dengan nilai mata uangnya sendiri kita tinggal menunggu giliran menjadi Zimbabwe atau Venezuela berikutnya.
Semoga kita tidak sampai di sana.
Tapi pernyataan seperti ini tidak membuat gue yakin bahwa kita sedang bergerak menjauhi arah itu.
@unila_base klo ga mau ribet, cpet lulus, memng bner pake kuanti nder. data kuali lebih sulit dianalisis daripada data kuanti yg jelas dan akurat. kalo kuali masih abstrak dan berdasarkan pendapat sang peneliti secara subyektif.
Ternate itu kecil, penduduknya sedikit. Provinsi kami jauh, bahkan kurang populer, sehingga kabar duka dari kami tertutup oleh riuh Jakarta yang rupa-rupa. Besok, kalau kami marah, nikel kami makan, laut kami telan. Jakarta tidak dapat apa-apa, kecuali surat wasiat.
"Tempat saya terdampak Tsunami dari Megathrust Jawa ga?"
"Kapan Gempa Megathrust terjadi ?"
Zona bahaya Tsunami hanya meliputi wilayah pesisir pantai.
Umumnya pantai yang berhadapan langsung atau berdekatan zona subduksi dengan topografi landai dan rendah, minim penghalang alami seperti pulau atau tebing, juga pantai yang memiliki muara sungai atau berbentuk teluk.
Potensi Megathrust sudah 10 tahun terakhir diperbincangkan ilmuan Indonesia dan sudah beberapa tahun kebelakang viral. Perbincangan ini akan terus berlanjut karena memang akan selalu diingatkan instansi berwenang.
"Kenapa potensi gempa megathrust selalu diingatkan ?"
Karena segmen mana yang pecah dan kapan waktu terjadinya tidak dapat diketahui secara pasti.
Bisa hari ini, besok, bulan depan, tahun depan atau 100 tahun lagi, dan seterusnya.
"Bagaimana masyarakat harus menyikapinya?"
- Belajar mitigasi
- Menyiapkan dan melatih mitigasi secara berkelanjutan
- Membangun rumah tahan gempa
- Tidak membangun rumah di bibir pantai yang rawan tsunami
- Beraktifitas seperti biasanya
- Beribadah seperti biasanya
- Jangan lupa tetep ngopi-ngopi masee...
rekomendasi paparan bunyi di tempat kerja adalah 85 desibel selama 8 jam
kalau bising naik 3 dB, jadi 88 dB maka durasi paparan maksimal turun separuh jadi 4 jam
penting banget jaga kesehatan telinga kalau gak mau hearing loss di usia muda (40-an tahun)
imo, salat (shalat/sholat) is one of the most humbling moments for a person.
no matter how significant you are in this world, when it comes to salat, you are compelled to perform sujud; to lower yourself, your ego, your pride, and everything else before the Almighty.