Mabok agama + mabok miras = kombinasi yang mematikan akal-waras dan bikin BENGAK.
Dan kombinasi mabok dogma + alkohol + parang panjang MENGUBAH TAKBIR menjadi jeritan sumbang ala kucing kejepit pintu:
tuak- biiir...!!!
๐คก๐คก๐คก
Brengsek.
Kami 100% sangat tidak berterima uang pajak kami digunakan untuk membiayai pelatihan Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (SPPI) yang modelannya seperti ini.
Mengapa rokok dan miras diperbolehkan untuk dihisap dan ditenggak bebas di lingkungan barak pelatihan??
Dan pula saat masih berseragam lengkap?? Koperasi, kampung nelayan, dan SPPG model apa yang manajer atau kepalanya orang-orang seperti ini?? Jijik!
Guys Seskab Teddy baru bilang pemerintah tidak akan biarkan rakyat hadapi kesulitan sendiri.
Negara hadir.
Negara bekerja.
Negara berpihak kepada rakyat.
Gw tidak mau debat niatnya.
Gw mau debat faktanya.
Karena di hari yang sama minggu yang sama pernyataan itu keluar ini yang terjadi di lapangan.
Transfer ke daerah dipotong dari 30 persen jadi 17 persen.
Hampir setengahnya hilang.
Yang kena langsung adalah anggaran pendidikan dan kesehatan di daerah.
Jusuf Kalla sendiri yang bilang ini berbahaya.
Anggaran pendidikan nasional dipotong dalam skema efisiensi.
Bukan anggaran perjalanan dinas pejabat yang dipotong duluan.
Bukan pengadaan kendaraan dinas.
Tapi pendidikan.
Subsidi BBM mau dibikin tepat sasaran di saat harga minyak dunia sedang di titik tertinggi.
Timing paling buruk untuk kebijakan yang memang perlu dilakukan tapi tidak perlu dilakukan sekarang.
Koperasi merah putih 7 bulan masih minus.
Solusinya bukan evaluasi model bisnis tapi larang Indomaret dan Alfamart buka cabang baru.
MBG masih jalan dengan anggaran puluhan triliun. Tapi belanja makanannya cuma Rp242 miliar paling kecil dari semua pos.
Kendaraannya Rp1,39 triliun.
Dan Danantara baru mau terbitkan surat utang Rp7 triliun dengan bunga 2% di bawah deposito bank mana saja.
Teddy bilang sudah renovasi 16.000 sekolah dan toilet.
Sudah bangun 218 jembatan gantung.
Itu bagus.
Sungguh bagus.
Tidak ada yang menyangkal itu.
Tapi Gen Z kek gw yang Teddy maksud itu bukan tidak tahu berterima kasih atas jembatan gantung.
Mereka tahu bahwa jembatan gantung dan toilet sekolah tidak bisa menjawab pertanyaan yang lebih besar.
Kenapa lulusan sarjana masih jadi driver ojol karena industrinya tidak ada yang menyerap?
Kenapa kelas menengah turun 9,5 juta orang dalam 5 tahun?
Kenapa pegadaian dan pinjol omzetnya meledak tanda orang sudah makan tabungan?
Kenapa di tengah semua tekanan ini yang dipotong justru yang langsung menyentuh rakyat?
Kami tidak butuh pernyataan yang menenangkan hati.
Kami butuh kebijakan yang angkanya masuk akal. Prioritas yang logis.
Negara hadir itu bukan slogan.
Itu dibuktikan dengan keputusan yang dibuat ketika kondisi sedang paling berat.
Dan keputusan itu yang sekarang sedang kami tunggu.
Sumber: Liputan 6
๐จ Pernyataan Sikap Kami atas Video ini ๐จ
Kawan-kawan, Handai Tolan. Coba perhatikan mulai dari menit 5:41. Kacau ini presiden. Mental dendamnya kentel banget. Kemampuannya dalam mencerna kritik sangat buruk. Amat sangat buruk.
"Berarti kamu butuh MBG ya? Soalnya katanya MBG gak penting. Banyak orang-orang pintar di Jakarta yang bilang kalau MBG gak penting. Buang-buang anggaran."
Woy, Gendut. Kalau sedari awal 'blueprint' MBG itu menyasar anak-anak sekolah yang nasibnya seperti Yamisa, KAMI JAMIN, gelombang kritik dan protes ngga akan semasif seperti sekarang. Nilai gizi perporsi bakalan lebih bagus, anggaran yang dipakai juga nggak bakalan setekor sekarang.
Masalahnya adalah, den, presiden, MBG udah berjalan setahun lebih, sektor yang dikorbankan sudah banyak, anggaran udah kebuang triliunan rupiah, tapi pendistribusiannya masih sangat carut marut. Masih banyak siswa/i kayak Yamisa yang belum kebagian, tapi di lain sisi siswa/i yang ortunya mampu, yang biaya SPP sekolahnya ada di level menengah sampai mahal, malah kebagian, dan bentuk menu yang disajikan terkesan melecehkan kemampuan ekonomi mereka.
Mosok koyok ngono rak paham sih, Ndut?
Tolong hentikan narasi dan berbicara pada khalayak publik perihal banyak orang pintar yang menolak MBG. Tidak ada yang menolak MBG apabila program ini berlandaskan kajian dan riset yang kuat, roadmap yang mateng, dan target kategori penerima manfaat yang sangat jelas. Dengan terus-menerus menarasikan kritik terhadap MBG sebagai bentuk penolakan, maka bukan tidak mungkin kalau kami mengecap presiden sebagai dalang konflik warga vs warga, rakyat vs rakyat.
"Ya kan untuk bisa merata kami perlu waktu."
Alah, omong kosong. Kalau pelaksana program sedari awal mau untuk melakukan riset yang lebih dalam terlebih dahulu, mengizinkan para ahli untuk turut terlibat, waktu dan biaya tidak akan banyak terbuang seperti sekarang. Dan tidak akan ada anak-anak sekolah seperti Yamisa, yang terlambat mendapatkan haknya.
minyak tembus USD110/barrel.
dollar tembus IDR17000/USD.
defisit APBN tembus IDR135T februari lalu.
tapi: MBG jalan terus meski libur lebaran; KDMP digas; impor pickup lanjut. entah apalagi. pokoknya semua program janji politik tak boleh berhenti.
tak ada rasa khawatir akan krisis. tak ada komunikasi publik tentang kondisi sesungguhnya yang dihadapi republik ini. kecuali mengerahkan TNI dan menyatakan siaga 1.
apa yang ada di pikiran pemerintah dan koalisi pendukungnya di DPR saat ini?
kayaknya saya bisa mengerti perasaan warga amerika yang gak milih donald trump dan melihat kelakuan presidennya yang mendukung zionis, gak mengindahkan konstitusi, mengisi kabinetnya dgn orang yg gak kompeten, dan make kekuatan militer buat mempertahankan kekuasaan.