S.O.S dari Pulau Enggano !!!
Sudah 4 bulan pulau berpenduduk 4.000 jiwa ini terisolasi. Orang sakit, pasokan sembako, dan ekonomi lokal, pelan-pelan sekarat. Hasil panen membusuk.
Pesan ini ditulis oleh jurnalis Harry Siswoyo yang sedang berada di Enggano:
"Sejak Maret 2025, transportasi laut menuju Pulau Enggano terhenti akibat dangkalnya alur Pelabuhan Pulau Baai, Kota Bengkulu.
Berhentinya angkutan kapal penumpang dan barang menuju Pulau Enggano yang terletak 150 mil laut di Samudera Hindia ini, membuat pulau ini terisolir.
Orang-orang terkurung. Warga yang kritis terpaksa bertahan. Sejumlah warga Enggano sudah mendesak agar ada kapal alternatif untuk mereka. Namun tak pernah diwujudkan.
Menurut warga pulau, pemerintah Bengkulu hanya menunggu proses keruk alur selesai. Padahal, jika memang hendak membantu warga di pulau Enggano maka ada banyak kapal alternatif yang bisa membantu mendistribusikan hasil bumi dan orang atau warga yang kritis.
Hingga pekan pertama Juni 2025, Kapal Ferry Pulo Tello baru bisa berlayar ke Enggano. Ratusan orang bisa dibawa ke kota. Karena pelabuhan belum normal. Mereka akhirnya bersandar di tengah laut dan dipindahkan menggunakan kapal Basarnas.
Sejauh ini, proses antar jemput penumpang sudah mencukupi meski dengan skema turun di tengah. Namun, yang memprihatinkan. Belum ada kapal yang bisa membawa hasil bumi milik masyarakat adat Enggano.
Pisang, kakao, pinang, jengkol, kelapa, ikan dan lainnya akhirnya menumpuk dan membusuk di Enggano. Pemerintah enggan menyediakan kapal alternatif khusus barang.
Saat ini, warga yang memiliki relasi dengan penampung di kota, harus merogoh kocek sampai Rp20 juta untuk membayar kapal nelayan agar hasil bumi dibawa ke kota.
Sayangnya, untuk yang tidak memiliki uang, terpaksa membiarkan hasil panen mereka membusuk di kebun.
Kini, kondisi di Enggano mulai memprihatinkan. Krisis ekonomi mulai membelit warga. Tidak ada pemasukan di rumah, sejak Maret membuat warga putus asa.
Orang-orang yang mau memenuhi kebutuhan harian, terpaksa barter. Satu kilogram ikan ditukar dengan beras. Seluruh warung sepi. Rumah makan banyak yang gulung tikar.
Situasi ini sampai kini berlanjut. Sementara kepedulian pemerintah tak ada sama sekali. Meski pada April lalu, pernah ada pengiriman beras ke Enggano. Namun, selain distribusinya tak sesuai. Jumlahnya juga tidak mencukupi kebutuhan warga."
Perjalanan bulan Maret 2025.
Agramas Sleeper Premiere
Rank: B(agus)
Harga: 440k (promo dari 470k)
Konfigurasi duduk: Captain seat 2-1 double leg rest.
Ulasan lengkap dapat dibaca di:
https://t.co/trPXNzoff1
Statement yang berani, kompak, dan tegas. Salut untuk kawan-kawan BCS dan Sleman Fans lainnya.
Sementara di belahan kota lainnya, ada suporter yang takut untuk kritik manajemen klub karna udah dicuci otaknya dan diancam oleh internal suporternya sendiri.