Bukan hendak memintanya diam ataupun membungkam gema yang tengah mencari jalan keluar. Tak perlu @twineruin menjawab. Aku hanya ingin suaraku berlabuh diantara berat hela napasnya, menjadi hangat lain yang dapat ia rasakan, selain yang mengalir dari sentuhan.
Aku melihatnya bukan sebagai simpul yang harus diurai, melainkan benang yang tak ingin kupaksa menemukan ujungnya. Lalu kupanggil namanya satu kali, namun angin malam seolah melahap sisa-sisa suaraku yang samar, menyisakan bisik yang beradu dengan isak tangis Maira.
ㅤ
ㅤ
“Sudah selesai, Sukma.”
Kau dan aku, serta malam-malam di mana aku mencumbu bayangmu yang menghilang di balik tirai kelam—mencari sisa wajahmu diantara gelap yang enggan membawamu kembali. Aku tak lagi hidup di sana. Dan hadirmu bukan lagi sukacita yang kuidamkan.
ㅤ
ㅤ
ㅤ
ㅤ
MALAM BELUM LARUT, masih ada sisa-sisa kebengisan yang terbahak di pucuk jagat, menanti untuk kita telan. Laksana bayang yang menolak luruh kala petang t’lah lama turun, kau berdiri di ambang pintu.
@SelaksaRayu. Hari ini, kau datang lagi?
ㅤ
ㅤ
@SelaksaRayu ㅤ
ㅤ
Dan dari jarak sedekat ini, Sukma, lahir pula sederet ingatan ihwal masing-masing luka dari kita yang sejak dulu kau dan aku koyak tanpa ampun. Malam ini, masih kau bawa rerintihan itu dalam sorot matamu; mengemis kesakitan lain yang barangkali sudi kuberi cuma-cuma.
ㅤ
ㅤ
ㅤ
ㅤ
Namun, nadi tak pernah menjadi rumah bagi apa pun; ia hanya jalan yang terus mengalirkan hidup. Maka, jangan minta kujadikan kau denyut. Sebab, yang benar-benar ingin kuselamatkan tak akan kubiarkan selamanya bergantung dan menetap pada nadiku.
ㅤ
ㅤ
@SelaksaRayu ㅤ
ㅤ
Aku t’lah terlalu lama mengenal racun untuk mengira setiap getirnya adalah sesuatu yang mesti kutelan, sesuatu yang sempat kita beri nama pengorbanan. Dan kau, Sukma, barangkali memang pernah jadi candu yang membuatku lupa caranya bernapas tanpa menoleh ke belakang.
ㅤ
ㅤ
@SelaksaRayu ㅤ
ㅤ
Kau boleh menyebutnya iba; bagiku sisa tanggung jawab atas sesuatu yang pernah kutinggalkan dalam keadaan belum usai. Maka, kubiarkan hening menjawab. Sebab, kau benar, pintu itu masih terbuka. Aku tak sampai hati memadamkan pelita tiapkali tahu kau tengah tersesat.
ㅤ
ㅤ
@SelaksaRayu ㅤ
ㅤ
“Perempuan gila.”
Dan aku sama gilanya denganmu, sebab warasku t’lah kau telan bulat-bulat sejak lama tanpa sisa. Sukma, kaulah satu dosa yang tetap ingin kutebus. Luka yang tak lagi milikku, namun tak sanggup kubiarkan bernanah seorang diri. Kau pun tahu itu.
ㅤ
ㅤ
Entah ia melupa segala tentangku atau sebaliknya, kuharap satu tanyaan dariku kelak mampu memantik secuil ingatan yang barangkali sempat @Suarbadai rekam dan simpan di kepalanya. Pun, aku ingin memastikan satu hal: ia datang tanpa bersama siapa pun.
“Sendirian? Habis latihan?”
Langkahku kemudian berhenti tepat di hadapan wanita itu, jarak yang tersisa tak begitu banyak. Cukup dekat, hingga aroma wewangian yang tak asing tertangkap penghidu. Maka aku kian yakin, aku tak salah orang. Tatapanku masih sama sejak pertemuan lalu, ketertarikan tak bernama.