nanti deh gue maki-maki anies kalau anies gak becus jadi presiden. gue juga bakal maki-maki ganjar kalau kerjanya gak bener atau bikin program aneh-aneh.
tapi berhubung yang jadi presiden prabowo dan kerjanya lelet banget, gak ngerti skala prioritas, npd, tone deaf, denial, ya yang gue maki-maki prabowo lah. 😭
Loker di indo itu sebenernya banyak, tapi
1. Intern
2. Intern 3 tahun pengalaman
3. Fresh graduate 3 tahun pengalaman
4. Outsourcing
5. Gaji di bawah UMK
6. Benefit: BPJS dan air galon
7. Sabtu masuk setengah hari
8. Top 3 uni only
9. Kontrak dengan 3 bulan probation
Bangun all, mantan Direktur Kebun Binatang Surabaya, Choirul Anwar, korupsi Rp10,2 miliar selama 8 tahun!!!
Dana buat pakan dan perawatan satwa diembat. Sekitar Rp7,4 miliar masuk kantong pribadi.
Akibatnya? Satwa jadi menderita, kurus, kurang sehat, bahkan ada yang mati.
Duit dimakan sendiri, satwanya yang jadi korban. Kurang kejem gimane coba ini orang😅
"mau dolar berapa ribu kek, kan kalian di desa desa ga pake dolar, yang pusing yang sering keluar negri"
guys, boleh nyerah jadi WNI ga sih kalo pemimpinnya aja kyk gini???😭😭
pada nyangka ga si? kalimat “rakyat di desa ga butuh dollar” bakal keluar dari mulut seorang presiden..
padahal itu kalimat yang biasa dikeluarin oleh mulut buzzer yg ga berpendidikan. jujur aja my expectation was low but what the helly??
kedelai 90% aja import, dan dia bisa bisanya ngomong “orang desa ga pake dollar”
gue mau cerita sesuatu yang kejadian siang tadi.
hal kecil. tapi bikin gue nangis di dapur sendirian.
dari tadi gue laper. cemilan habis. males keluar.
terus gue denger suara dari luar. sayup-sayup. kayak orang jualan sesuatu tapi nggak jelas jualannya apa.
kepo. gue tungguin dari balik jendela.
beberapa menit kemudian lewatlah seorang kakek. kira-kira 65 tahunan. bawa dagangan roti. gue panggil.
kakeknya nyebut rasa satu-satu. gue pilih coklat keju. bayar. selesai.
gue balik masuk rumah. pintu belum sempet gue tutup.
dan tiba-tiba kakeknya bilang sesuatu yang bikin gue berbalik.
"Mbak maaf... punya nasi putih nggak? Boleh minta sedikit? Saya sakit perut dari pagi belum makan."
tangannya gemetar waktu ngomong itu.
gue berdiri sebentar. tenggorokan gue langsung berasa penuh.
tanpa banyak mikir gue langsung ke dapur. ambilin nasi. ambil lauk yang ada. sambal. beliin minum air putih.
gue taruh semuanya di depan kakeknya.
dan dia makan.
lahap banget.
gue berdiri di situ nggak bisa ngomong apa-apa.
nggak lama suami gue pulang.
dia liat ada kakek duduk di depan rumah kami.
"Itu siapa?"
gue ceritain semuanya.
suami gue diam sebentar.
matanya merah.
dia mewek.
laki-laki ini yang susah banget nangis, mewek di depan gue gara-gara cerita kakek jualan roti.
gue malah jadi ikutan nangis.
suami gue keluar. ngobrol sama kakeknya. nanya-nanya pelan.
dan ini yang bikin gue makin nggak kuat.
kakek itu baru dua minggu merantau ke sini. jauh banget dari kampung halamannya di Jawa. beliau nebeng ngekos sama temannya. nekat berangkat karena di Jawa jualannya nggak pernah laku, dan nggak ada yang mau ngurus beliau di sana.
sendirian. di kota orang. umur segitu. jualan roti keliling.
waktu kakeknya mau pamit lanjut jualan, suami gue inisiatif kasih uang pegangan.
kakeknya nolak.
"Nggak usah, nggak usah."
suami gue maksa pelan-pelan. kakeknya tetap nolak.
terus kakeknya bilang satu hal yang bikin gue langsung masuk kamar buat nahan nangis:
"Kalau mau bantu, boleh minta baju bekas aja yang sudah nggak dipakai. Baju saya cuma ini."
yang dipakainya keliatan lusuh. kusut. kayak udah lama banget nemenin beliau kemana-mana.
gue bongkar lemari suami. cariin baju yang masih layak. pilih beberapa.
dan uang yang tadi ditolak kakeknya, gue selipkan diam-diam di dalam lipatan bajunya.
biar nggak bisa dikembaliin.
kakeknya pamit.
gue berdiri di pintu nonton beliau jalan pelan-pelan sambil bawa dagangannya lagi.
dan gue mikir:
mungkin memang Allah yang bikin gue kepo sama suara jualan itu tadi. mungkin memang bukan kebetulan gue lagi di jendela pas kakeknya lewat. mungkin memang siang itu kakeknya harus makan dulu sebelum lanjut jalan.
gue nulis ini bukan buat pamer kebaikan.
gue nulis ini karena gue malu sama diri gue sendiri yang tadi lagi rebahan sambil ngeluh nggak ada cemilan.
sementara di luar, ada kakek yang jualan dari pagi dengan perut kosong dan tangan gemetar.
semoga dagangan kakek laris.
semoga beliau sehat terus.
semoga beliau nggak pernah kelaparan lagi.
aamiin. 🤲
gue mau cerita tentang temen gue.
sebut aja dia R.
dulu gajinya 7 juta.
dan tiap kali kami ngobrol, dia selalu bilang satu kalimat yang sama:
"Val, nanti kalau gaji gw udah 15 juta, baru deh gw bisa nabung. Baru deh hidup gw beres."
gue dengerin. gue angguk-angguk. gue percaya.
tiga tahun kemudian, gajinya beneran naik.
bukan 15 juta.
17 juta.
gue seneng banget waktu dia kabar. gue pikir sekarang hidupnya udah oke. udah bisa nabung. udah beres kayak yang dia bilang dulu.
sampai kemarin dia chat gue.
"Val, lo bisa pinjemin 500 ribu nggak? Buat nutup tagihan."
gue bengong lama di depan layar HP gue.
kita ketemuan.
gue tanya pelan: "lah kok bisa?"
dia diem sebentar.
terus jawab satu kalimat yang sampai sekarang masih muter di kepala gue:
"Gaji gw naik. Tapi gaya hidup gw naik lebih kenceng."
gue kira dia bercanda.
dia buka notes HP-nya dan nunjukkin ke gue.
gaji: 17 juta.
pengeluaran:
kos: 4 juta. makan dan kopi: 3,2 juta. cicilan HP: 1,1 juta. paylater: 2,4 juta. transport: 1,8 juta. langganan aplikasi: 600 ribu. jajan random: 2 juta. transfer keluarga: 1,5 juta.
sisa?
kadang nol.
kadang minus.
gue tanya: "paylater 2,4 juta itu buat apa aja?"
dia diem bentar.
"ya... barang kecil-kecil doang."
kaos 89 ribu. sepatu diskon. skincare. makan promo. top up game. barang lucu dari live shopping. checkout karena takut stok habis.
satu-satu kelihatannya kecil.
tapi pas digabung, jadi satu monster yang nagih tiap bulan.
yang bikin gue serem bukan belanjanya.
tapi kalimat pembenarnya.
"lagi diskon."
"mumpung murah."
"cuma 30 ribu."
"gratis ongkir."
"bulan depan juga ketutup."
dan dia bilang satu hal yang nusuk banget:
"gw bahkan udah nggak bisa bedain lagi. Gw lagi hemat, atau lagi nyari alasan buat keluar duit."
terus dia ngomong sesuatu yang bikin gue diam lama banget:
"Gw nggak miskin karena nggak punya uang. Gw miskin karena uang gw udah punya tujuan sebelum masuk rekening."
tanggal 25 gajian.
tanggal 26 autodebet.
tanggal 27 bayar cicilan.
tanggal 28 bayar paylater.
tanggal 29 baru sadar:
yang kerja sebulan dia. yang menikmati duluan tagihan.
gue tanya: "jadi yang paling bikin nyesel apa?"
dia jawab:
"Gw pikir gw beli barang. Ternyata gw beli kewajiban."
HP baru = cicilan 12 bulan. barang diskon = tagihan bulan depan. makan enak tiap hari = saldo bocor pelan-pelan. kopi harian = lebih dari sejuta sebulan. paylater = gaji masa depan yang udah dipakai hari ini.
"Gw kerja buat bayar keputusan gw yang kemarin."
coba hitung kasar.
kopi 35 ribu x 22 hari kerja = 770 ribu. delivery food dengan selisih ongkir dan markup 25 ribu x 20 kali = 500 ribu. checkout random 75 ribu x 10 kali = 750 ribu. langganan aplikasi yang jarang dibuka = 300 ribu.
total: 2,3 juta.
itu bukan pengeluaran besar. itu bocor kecil yang pura-pura nggak kelihatan.
sekarang temen gue lagi coba bikin aturan sendiri.
kalau barangnya diskon tapi nggak ada di rencana, berarti tetap mahal. kalau beli karena capek, tunggu besok. kalau checkout cuma karena takut kehabisan, tutup aplikasi 10 menit dulu. kalau cicilan bikin gaji bulan depan terasa sempit, jangan ambil.
dan satu pertanyaan yang dia tempel di layar HP-nya sekarang sebelum checkout apapun:
"Gw butuh ini, atau gw cuma pengin ngerasa hidup gw naik kelas?"
dari cerita dia, gue jadi mikir.
mungkin masalah banyak orang bukan nggak bisa cari uang.
tapi nggak pernah diajarin cara mempertahankan uang.
dari kecil kita diajarin: belajar biar kerja, kerja biar punya uang, punya uang biar bisa beli ini itu.
tapi jarang diajarin: kalau uang udah masuk, jangan langsung dikasih jalan keluar semua.
ini bukan soal hidup pelit.
beli kopi boleh. checkout promo boleh. reward diri boleh.
tapi jangan sampai tiap reward kecil numpuk jadi hukuman besar di akhir bulan.
coba jujur ke diri sendiri:
pengeluaran kecil apa yang paling sering bikin saldo lo bocor?
kopi? makan online? paylater? top up? checkout live?
atau "cuma 50 ribu" yang kejadian 20 kali?
Hal yang seharusnya tidak mahal:
1. Pendidikan
2. Daging, susu, buah
3. Penerbangan domestik
4. bbm
5. minyak goreng
6. buku
Yang harusnya mahal:
1. Gaji guru
2. Gaji nakes
3. gaji damkar
4. saptam BCA
Prabowo ini bikin semua presiden pendahulunya jadinya terlihat bener kerjanya.
SBY itu nilainya 3/10, Jokowi 2/10 tapi Prabowo ini beneran 0/10. Nepotismenya gila. Temennya ditunjuk jadi Menhan yang ngurusin koperasi. Ajudannya dijadiiin Seskab. Adiknya dikasih jabatan multifungsi. Ponakannya dikasih Deputi BI.
Ekonomi lagi ambruk-ambruknya tapi presidennya macem gini. Hancur total.
Guys, ini info paling gila hari ini......
ada sesuatu yang nggak masuk akal banget lagi beredar soal program pemerintah ini dan jujur,
ini bukan cuma aneh…
tapi udah mulai keliatan ngeri + sistematis
Jadi gini…
Ada info kalau titik SPPG (Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi) itu terus nambah setiap hari.
Padahal di sisi lain, portal resmi buat daftar mitra katanya udah ditutup sejak 1 Desember 2025.
Sekarang coba pikir logikanya pelan-pelan…
- Portal pendaftaran ditutup
- Tapi jumlah titik terus bertambah
- Bahkan dilaporkan tiap hari ada penambahan
Pertanyaannya simpel:
Masuknya dari mana?
Ini bukan soal “ah mungkin ada update internal”…
Kalau sistemnya transparan, harusnya:
- Ada pengumuman resmi
- Ada mekanisme khusus
- Atau minimal ada penjelasan ke publik
Tapi kalau yang terjadi malah “tiba-tiba nambah”…
ya wajar kalau publik mulai mikir:
ini data real atau cuma angka di atas kertas?
Dan makin panas lagi ketika dikaitin sama isu bayaran…
Ketika satu titik SPPG bisa dapat sekitar 6 juta per hari.
Kalau itu benar, berarti:
Makin banyak titik → makin besar anggaran yang keluar
Makin besar anggaran → makin besar juga potensi “mainannya”
Kasarannya sppg nya tidak benaran ada
tapi insentifnya jalan terus
sppg bodong atau fiktif
Di sinilah mulai kerasa pedasnya…
Karena ini bukan cuma soal angka nambah.
Ini soal uang negara + transparansi + kepercayaan publik.
Yang bikin miris bukan cuma dugaan “aneh-aneh”-nya…
tapi pola yang sering kejadian:
- Sistem ditutup ke publik
- Data tetap berjalan di belakang layar
- Publik cuma dikasih hasil akhir tanpa tahu prosesnya
Kalau kayak gini terus, ya jangan heran kalau muncul kecurigaan:
Ini beneran program jalan… atau sekadar laporan yang ‘dibikin jalan’?”
Gue gak bilang ini pasti ada pelanggaran.
Tapi yang jelas:
Kalau logika sederhana aja gak nyambung,
berarti ada yang harus dijelasin.
Karena di era sekarang, masalahnya bukan cuma korupsi atau enggak…
tapi kepercayaan publik itu dibangun dari transparansi.
Dan kalau transparansi hilang,
yang muncul bukan cuma kritik
tapi ketidakpercayaan yang jauh lebih bahaya
coba di cek tuh situs bgn udah lama tutup
tapi hampir tiap hari laporan banyak sppg baru
Selamat sore pak,
Saya dari masa depan. Sekarang di masa pemerintahan Bapak, rupiah sudah sampai titik tertinggi sepanjang masa di Rp. 17.300 per 1 USD.