How he invented Dijkstra’s algorithm
In 1956 the Mathematical Centre needed a public demonstration for its new ARMAC computer that ordinary people could understand.
Dijkstra chose the problem: “What is the shortest way to travel from Rotterdam to Groningen?”
One morning while shopping in Amsterdam with his fiancée Ria Debets (herself a programmer), they sat down on a café terrace for coffee. In about 20 minutes, without pencil or paper, he designed the algorithm entirely in his head. He later said one advantage of working without paper was that it forced him to avoid unnecessary complexity.
He implemented it on a simplified map of 64 Dutch cities (chosen so each city could be encoded in 6 bits). The algorithm was published three years later, in 1959, in a two-page paper titled A Note on Two Problems in Connexion with Graphs.
It remains the foundation of GPS, Google Maps, network routing, and countless other systems.
67 years ago today, ‘Take Five’ by Dave Brubeck Quartet was released as a single.
It went on to become the best-selling jazz single of the 20th century.
Teman2 yg mau main game simulasi Supply Chain bisa lewat beergame sesuai info di bawah nih.
Kita bisa pilih role terus nanti ada instruksinya.
Gaaass dicoba! Gue trial jadi distributor malah jadi stakeholder yg costnya paling tinggi wkwkwk.
Thanks, kak Gustav!
@cybercock2077@sipalinglogstic Terima kasih juga, Pak, sudah membagikan penulis2 di atas. Jujur, bbrp tahun belakangan ini udah gk update soal perbukuan supply chain management. Nama2 di atas itu baru buat saya. Nanti saya cek. Trims.
@cybercock2077@sipalinglogstic Bantu jawab:
Buat pemula (kebetulan penulis dari Indonesia): Supply Chain Management (Pujawan & Mahendrawati). Kalau mau bangun intuisi coba main Beer Game: https://t.co/jGEU2xplKh
Tambahan rujukan klasik (gk wajib): Ballou, Vollman, Simchi-Levi.
It was wonderful to present Cornell Southeast Asia Program on my forthcoming research article @AmHistReview on understanding Third World internationalism through motherhood & migration with a focus on the life of Fransisca Fanggidaej https://t.co/eypyiI1dxt
Precisely C.S. Lewis's point in The Screwtape Letters: the enemy doesn't need to ruin you, he only needs to distract you.
Screwtape finds that a reliable way to lead a patient to hell is to distract him with jargon, for instance. Have the patient evaluate ideas not by their content but by their labels ensures that he never engages meaningfully with their content.
Another method is to fix his attention on the "stream of immediate sense experiences," so that his mind is drawn away from universal issues and he no longer thoughtfully engages with things that matter.
The path to hell is not so much paved by grand sins than it is by small, constant distractions from what really matters. The path to goodness begins with reclaiming your attention, and turning your eyes from the endless stream.
Wasting time "doomscrolling" is not neutral. It distracts you from doing good in the world.
Inilah fakta pahit sistem kelistrikan kita 🙃
1️⃣ Sistem listrik antar pulau di Indonesia nggak tersambung.
Jawa Bali ada kabel laut, lainnya? Nggak ada. Artinya listrik yg dibangkitkan di tiap pulau ya harus dikonsumsi di sana.
2️⃣ Overkapasitas (bukan oversuplai) terjadi di sistem Jamali (Jawa-Madura-Bali) aja dan khususnya pas pandemi.
Sekarang udah "normal". Kenapa overkapasitas? Karena pas merencanakan megaproyek 35.000 MW, asumsi pertumbuhan ekonomi tinggi. Ternyata nggak segitu, plus kehantam pandemi.
Pulau lain gitu nggak? Nggak, bahkan cenderung kurang :(
3️⃣ Sulit melistriki wilayah yg "kurang ekonomis".
Gimana tu? Biaya melistriki itu = pembangkit (mbangunnya) + bahan bakar (pake diesel/gas lebih mahal) + jaringan + maintenance.
Narik kabel dari gardu ke rumah di wilayah perkotaan = make sense, soalnya banyak rumah kan. Bayangin narik kabel tapi desa yg rumahnya berjauhan = biaya bengkak.
Dilema PLN ➡️ harus melistriki dengan tarif sama senegara padahal sistem di Sumatera darat perkotaan misalnya, pasti lebih rendah dibanding kota kecil di gugus Kepulauan Aru.
Itu ketidakadilan yg masih dialami saudara-saudara kita, sekian puluh tahun merdeka, belum berlistrik :(
Energi terbarukan setempat itu salah satu solusi, karena biaya bahan bakar nol, bisa memanfaatkan sumber yg ada: surya, biomassa, angin, mikrohidro.
4️⃣ Tersambung listrik, ada pembangkit, belum tentu kualitas listrik bagus.
Bahan bakar bisa terkendala (ingat pemadaman bergilir berapa bulan lalu karena suplai batu bara dikit, atau kalo di pulau = suplai diesel terhambat), gangguan operasi, faktor cuaca, banyak deh.
Nyala 24/7 juga bisa tegangan rendah/nggak stabil ➡️ bisa ngerusak alat elektronik.
Data center itu sebenarnya bisa jadi sumber demand baru, sekarang rata-rata maunya pake energi terbarukan juga sih.
Mindfulness sebenarnya baik saja, tp memang bisa jadi toxic positivity.
Mindfulness bisa membantu kita mengelola kecemasan dan tetap jernih. Masalah muncul ketika ajakan untuk tenang, bersyukur, menjaga energi, dan berpikir positif justru menggantikan pertanyaan mengapa ini terjadi dan siapa yang bertanggung jawab? Saat berita kebakaran, udara beracun, bencana, keracunan MBG, dan kegagalan pelayanan publik memenuhi ruang informasi, masyarakat memang perlu menjaga kesehatan mental. Tetapi bagi keluarga yang anaknya keracunan, warga yang menghirup PM2.5, atau mereka yang kehilangan rumah dan pekerjaan, masalahnya bukan sekadar mindset. Mereka membutuhkan perlindungan, informasi, layanan, kompensasi, dan pertanggungjawaban.
Di sinilah mindfulness bisa berubah menjadi alat depolitisasi. Penderitaan yang semestinya melahirkan pertanyaan tentang kebijakan justru diperlakukan sebagai persoalan emosi individu. Padahal kemarahan tidak selalu sesuatu yang harus disembuhkan; kadang ia adalah respons moral terhadap ketidakadilan. Yang penting adalah mengubahnya menjadi data, pertanyaan, solidaritas, advokasi, dan tuntutan perubahan. Jangan panik bukan berarti jangan mempertanyakan.
Jangan bermeditasi agar mampu berdamai dengan ketidakadilan; bermeditasilah agar cukup tenang untuk memperjuangkannya.
@senogp Betul apa yg disampaikan ibu ini. Ada dasar teorinya oleh Lee (2002). Paper itu wajib dibaca klo mau menekuni bidang supply chain. Beras, telur, & minyak goreng itu produk fungsional; ketersediaan dan harga itu sensitif bgt bagi pembeli.
https://t.co/HoT371DCzW
I know people think the Monty Hall problem is a game show trick or a silly math puzzle, but the fact that most people get the logic wrong can have real world consequences. I'll walk you through an example I teach in my undergraduate Human Genetics class.
@MarissaAnita Maaf yg gk tulus krn bermain dua kaki:
1. Membela diri krn takut kehilangan audience
2. Membela pemerintah krn tdk ingin kehilangan koneksi
Tiap undangan bs ditolak. Pun klo terpaksa hadir krn sungkan, bs tolak foto bareng. Pun klo terpaksa foto bareng, bs menolak utk senyum.
@aik_arif Gempa Sumatra ini disinggung oleh Geoffrey West dlm bukunya, SCALE. Saya simpulkan dr sudut pandang lain: ketika energi yg begitu dahsyat dilepaskan SEKALIGUS dlm waktu SINGKAT, maka jd bencana. Tp, ketika dilepaskan BERTAHAP, ternyata bisa mendatangkan manfaat dlm waktu yg LAMA.