Guys, Benix baru sharing sesuatu langsung dari Wall Street New York yang menurut gue paling menampar muka kita sebagai bangsa dalam waktu belakangan ini.
Bukan soal rupiah.
Bukan soal IHSG.
Tapi soal sesuatu yang lebih fundamental:
Indonesia kehilangan ribuan triliun investasi bukan karena tidak ada yang mau masuk.
Tapi karena kita sendiri yang mengusir mereka.
Tiga negara yang mengadu dan ini memalukan:
Swiss:
Duta besar Swiss untuk Indonesia
Olivier Zender secara terbuka komplain.
Ada lebih dari 150 perusahaan Swiss yang beroperasi di Indonesia dan mau ekspansi.
Mau invest di sawit, pabrik pengolahan susu, keju, petrochemical, farmasi.
Sampai sekarang tidak bisa.
Gara-gara perjanjian dagang Indonesia-Uni Eropa tidak kunjung diimplementasikan.
"Ini momen yang memalukan.
Duta besar negara lain membela pengusahanya supaya bisa invest di negara kita
sementara duta besar kita tidak pernah terlihat bela pengusaha Indonesia di luar negeri."
Prancis:
Duta besar Prancis Muhammad Omar sudah 4 tahun bertugas di Indonesia.
Ada 11 perusahaan Prancis yang sudah siap invest.
Sampai sekarang masih pending semua.
Alasannya satu: tidak ada kepastian regulasi.
Hari ini bebas pajak.
Besok tidak.
Hari ini satu aturan.
Besok aturan berubah.
Tidak ada yang bisa diprediksi.
Uni Emirat Arab:
Ini yang paling brutal.
Hampir Rp800 triliun gagal masuk ke Indonesia.
Ada satu investor Arab yang sudah siap bawa Rp85 triliun 5 miliar dolar.
Di saat yang sama dia juga lihat peluang di Amerika Serikat. Karena proses izin di Indonesia tidak jelas-jelas selesai dia akhirnya buka pabrik di Amerika.
Sekarang pabriknya di Amerika sudah running.
Di Indonesia masih standby.
Dan Rp85 triliun itu pergi ke Amerika.
Dan keluhannya selalu sama dari dulu:
Benix bilang keluhan investor tidak berubah dari ribuan seminar yang sudah dibikin pemerintah.
Birokrasi berbelit-belit.
Izin tumpang tindih antara pusat dan daerah.
Tidak ada kepastian hukum.
Pungli dan premanisme merajalela.
Regulasi berubah-ubah tanpa pemberitahuan.
Pemerintah pusat bilang A.
Gubernur bilang B.
Bupati bilang C.
Walikota bilang D.
Kepala desa bilang E.
RT/RW bilang F.
Dan kalau tidak ikut semua lapisan gudangmu bisa dibakar, bisa didemo ormas.
Contoh yang paling gila:
BYD, Cherry, Wuling datang ke Indonesia.
Buka pabrik mobil listrik.
Lapangan kerja tercipta.
Impor BBM berkurang.
Semua pihak diuntungkan.
Tapi setelah pabrik berdiri insentif pajak yang dijanjikan tiba-tiba dihilangkan.
Hari ini bebas pajak.
Besok tidak bebas pajak.
Hari ini tidak bayar PPN.
Besok harus bayar.
Hari ini ada satu aturan.
Besok ada aturan baru lagi.
Siapa yang mau invest di negara seperti itu?
Itu bukan investasi. Itu perjudian.
Dan ini yang paling ironis:
Indonesia punya semua yang dibutuhkan investor:
280 juta penduduk pasar konsumen terbesar keempat di dunia.
Nikel terbesar di dunia.
Sawit terbesar di dunia.
Lokasi strategis di antara Samudra Hindia dan Pasifik. UMR yang kompetitif.
Tapi yang jadi pusat perdagangan Asia Tenggara bukan Indonesia. Singapura.
Negara kota yang luasnya tidak lebih besar dari sebagian Jakarta.
Negara yang menikmati posisi strategis Selat Malaka bukan Indonesia yang memilikinya tapi Singapura yang mengelolanya dengan benar.
Dan rupiah terus melemah ini bukan kebetulan:
Ketika investor tidak mau masuk dolar tidak mengalir masuk. Capital outflow terus terjadi. Rupiah makin tertekan.
Prabowo bilang: "Mau dolar berapa ribu kek."
Gubernur BI bilang: "Rupiah stabil volatilitasnya 5,4%."
Tapi kenyataannya: duta besar Swiss, Prancis, dan Uni Emirat Arab semua mengadu bahwa investasi mereka tidak bisa masuk.
Rp800 triliun dari UEA saja gagal masuk. Berapa total yang sudah gagal selama bertahun-tahun?
Masalah Indonesia bukan kurang sumber daya alam. Bukan kurang potensi. Bukan kurang investor yang mau masuk.
Masalah Indonesia adalah sistem yang membuat orang yang mau masuk akhirnya memilih pergi.
Dan selama birokrasi berlapis-lapis, regulasi berubah-ubah, pungli dan premanisme tidak diberantas serius, serta izin bisa berbeda antara pusat dan daerah investor terbaik yang sudah siap bawa triliunan ke Indonesia akan terus memilih Vietnam, Thailand, atau Singapura.
Dan rupiah akan terus melemah.
Bukan karena faktor global semata.
Tapi karena kita sendiri yang membangun tembok untuk mengusir uang yang seharusnya bisa menciptakan lapangan kerja bagi rakyat kita.
- kurs rupiah: 17.070 per dollar
- IHSG minus 24% selama Q1
- harga barang udah mulai pada naik
- investor pada cabut
- tiap hari hidup pake mode survival
Pelajar SMK mengirim surat kepada Presiden, ia menolak menerima MBG dan meminta jatah makan MBG miliknya diberikan untuk kesejahteraan guru. Para pelajar kita, ada yang pikirannya tajam dan halus perasaannya. Rafif Arsya, anda membuat sejarah.
🔥🔥🔥🔥🔥
Guys, ini salah satu plot twist paling mengejutkan dari seluruh situasi geopolitik yang sedang kita ikuti hari ini.
Zelensky presiden negara yang masih dalam perang aktif melawan Rusia tiba-tiba muncul sebagai arms dealer dan konsultan pertahanan untuk negara-negara Teluk yang sedang diserang Iran. Ini bukan fiksi, ini benar-benar terjadi hari ini.
Mari kita pahami apa yang sebenernya sedang terjadi di sini. Ukraina selama tiga tahun terakhir adalah laboratorium perang drone paling intensif di dunia. Mereka menghadapi gelombang drone Shahed buatan Iran ironisnya drone yang sama yang sekarang juga digunakan Iran untuk menyerang negara-negara Teluk. Ukraina bukan cuma tahu cara menembak jatuh drone Iran mereka adalah yang paling berpengalaman di dunia dalam melakukannya. Dan sekarang Arab Saudi, Qatar, UAE, Bahrain, Yordania, dan Kuwait semua antre minta bantuan Ukraina untuk pertahanan udara mereka.
Yang paling cerdik dari langkah Zelensky ini adalah dia tidak minta uang tunai begitu saja. Dia menawarkan expertise dan sistem drone Ukraina dengan syarat negara-negara Teluk memberikan rudal pertahanan udara yang Ukraina butuhkan untuk perangnya sendiri melawan Rusia. Ini barter geopolitik yang sangat brilian. Ukraina dapat amunisi yang mereka desperately butuhkan, negara-negara Teluk dapat sistem pertahanan terbaik yang tersedia untuk menghadapi ancaman drone Iran.
Dan ironi terbesarnya adalah ini. Iran yang selama ini menjual drone ke Rusia untuk membunuh orang Ukraina sekarang secara tidak langsung membantu Ukraina mendapatkan sumber daya baru untuk bertahan. Karma geopolitik yang sangat brutal dan sangat nyata.
Yang perlu dikritisi adalah kondisi Ukraina sendiri yang Zelensky akui secara terbuka dan jujur. Industri pertahanan Ukraina sekarang hanya berjalan di setengah kapasitas karena kekurangan pendanaan. Ini bukan pernyataan lemah ini adalah Zelensky yang pragmatis menggunakan satu-satunya aset yang dia punya yaitu pengalaman perang drone yang tak tertandingi untuk mendapatkan sumber daya yang dia butuhkan dari sumber yang sama sekali tidak terduga sebelumnya.
Intinya guys dunia 2026 ini sudah jauh melampaui peta aliansi yang kita kenal sebelumnya. Ukraina yang perang melawan proxy Iran kini jadi mitra pertahanan negara-negara Arab yang diserang Iran. Amerika yang harusnya jadi pelindung utama Teluk kini carriernya rusak dan mundur. Qatar bayar Iran untuk berhenti diserang. Dan Zelensky terbang keliling dunia jual drone sambil minta rudal sebagai kembalian. Tidak ada yang bisa nulis skrip seaneh realita yang sedang kita saksikan hari ini.
Sungguh sebuah video sepanjang 5 menit yg amat sangat sepadan untuk ditonton. 🙂
Kami benar-benar menaruh hormat pada setiap wali murid, guru, dan/atau segenap warga sipil yang marah, melawan kubangan lumpur (sppg) atas kesewenang-wenangannya dalam membagikan embege. ✊🏻
@arkanafs@IchZenAch@SarjanaEksu Imam Mahdi di masa tentram damai dan sejahtera, lalu muncul Dajjal, lalu turun nabi Isa di masjid damaskus saat sholat subuh, beliau diminta jadi Imam tapi menolak, karena Imam Mahdi pemimpin pada saat itu, lalu Dajjal berhasil dibunuh di wilayah Lod Palestina Wallahu'alam
@lilaccountz Dari Nabi Adam dan Iblis kita bisa belajar, bahwa ribuan tahun beribadahnya Iblis kalah hanya dengan 1 sifat sombong merasa lebih baik, dan 1 kesalahan Nabi Adam namun ia mengakuinya dan bertobat justru karena itu Allah memuliakannya.