prediksi 5tahun kedepan, “make one more line”, “make one more underpass”, “make one more project mercusuar”, “make more cgt, and suksma leluhur”, “more villas sir ? Just destroy the rice field or cliff sir we will help you to the regulator”.
@anamazingbali@rayestu meskipun cuma tinggi 15 meter, masih bisa dibangun rusun 4 lantai. Kalaupun mau di revisi aturan ketinggian, saya pikir dijadikan 20-25 meter sudah lebih dari cukup alias sampai 5-7 lantai. Rusun dan TOD harus ada di Bali, or Stop KB 4 anak.
prediksi 5tahun kedepan, “make one more line”, “make one more underpass”, “make one more project mercusuar”, “make more cgt, and suksma leluhur”, “more villas sir ? Just destroy the rice field or cliff sir we will help you to the regulator”.
Habis didemo oleh ratusan truk/angkutan sampah, area sekitar kantor Gubernur disiram oleh damkar karena meninggalkan bau sampah yang mengganggu.
Pak Gubernur tidak kuat mencium bau sampah rupanya. Tapi memaksa warganya untuk menyimpan sampah baunya masing-masing.
Terlalu banyak orang yang apatis disini, “nak mule keto”, “Taluh goreng ade hasil”, “ngoyong jumah jaen”, dll, jika ada suatu masalah. Sekalipun ada orang bali yang kritis, sangat sedikit yang bisa viral dan sering kali “diganggu” oleh oknum demi alasan keamanan pariwisata Bali.
Terlalu banyak orang yang apatis disini, “nak mule keto”, “Taluh goreng ade hasil”, “ngoyong jumah jaen”, dll, jika ada suatu masalah. Sekalipun ada orang bali yang kritis, sangat sedikit yang bisa viral dan sering kali “diganggu” oleh oknum demi alasan keamanan pariwisata Bali.
Lucunya, semua orang benci macet, tapi tetap jadi bagian dari macet itu sendiri. Kamu naik kendaraan sendiri, satu orang satu motor, satu mobil satu cerita. Kota jadi penuh bukan karena orangnya banyak, tapi karena kita nggak pernah mau berbagi ruang. #DenpasarPadat
Denpasar Macet Bukan Karena Banyak Orang.
Pagi di Denpasar, kamu bangun semangat… tapi baru keluar rumah, langsung ketemu macet. Jalan sempit, kendaraan numpuk, klakson bersahutan. Ini bukan cuma soal lalu lintas—ini soal kualitas hidup yang pelan-pelan terkikis. #DenpasarMacet
@stravenues@anamazingbali meskipun aturan ketinggian masih berlaku, sudah seharusnya pemangku kepentingan mulai untuk membuat program rumah/rusun vertikal 15 mtr (sesuai aturan). Di Bali masih mempunyai kelebihan yaitu bisa mengontrol arus urbanisasi dari Luar (karena kiri-kanannya di pisah oleh laut)
Sempet membahas ini di internal kami beberapa tahun yang lalu tapi emang belum sempet diangkat jadi tulisan.
Admin yang bukan orang Bali concerned karena bagaimanapun lahan makin lama itu makin habis, sehingga relaksasi aturan batas ketinggian ini perlu dipertimbangkan. Cuma pasti ada tentangan dari sisi sosial budaya.
Namun, di sisi lain, tata ruang di Bali pun banyak mengizinkan alihfungsi lahan hijau jadi lahan terbangun, yang belom tentu semua itu demi kebaikan masyarakat Bali.
Ironis dan miris aja, ketika filosofinya adalah mencapai keseimbangan antara Tuhan, alam, dan manusia, pemerintahnya lebih kompromi ke alihfungsi ini dibanding soal ketinggian bangunan.
Hasil sumber bacaan tertulis dan diskusi saya dengan pakar arsitektur Bali dan internasional adalah intinya Bali ini overdevelopment dan belum siap ikut globalisasi. Harus ada yang diputus: tradisi (for people) atau pariwisata (for some people). 😁
Unpopular opinion:
"kalau orang tua tidak merestui, hidupmu pasti ga berkah dan sial."
faktanya:
anak durhaka yang bahagia, banyak
anak durhaka yang apes, banyak
anak penurut yang bahagia, banyak
anak penurut yang apes, banyak
gada korelasinya.
Contra flow udah.
Satu arah udah.
Ganjil-genap udah.
Pelarangan truk 3 sumbu udah.
Tapi mudik tetep macet.
Ya iyalah, lha wong akar masalahnya bukan itu.