@daryono_eq_talk Dulu jaman msh kerja disite tambang, sering ketemu ginian bahkan yg jauh lebih gede dan kita lindesnya pake... tronton ✌️
Kebetulan anak2 tambang biasanya pemakan segala
Paham kan?
Seruwet itu kondisi di atas..
Ga paham jg ya papa
Krn yg kita butuhkan sederhana.
Tidak jd korban dr gontok2an pemerintah & pr pengusaha itu..
Toh kita ga pernah ikut merasakan hasilnya 😒
Tp klo br skrg pemerintah mempertanyakan selisih nilai antara harga sebenarnya & invoicenya.. kok aneh😏
Yakin gada orang dalam terlibat?
@kumparan Indonesia ga pernah pake Pon untuk satuan berat, apalagi urusan angkutan batubara. Kita pakenya Ton atau M-Ton.
Tp klo pake Ton pun aneh, tongkang ukuran segitu mana ada ampe 80rb Ton 😭😭😭😭
@MightyWar3 Semua gara2 China 🤣🤣🤣
Andai China membangun kekuatan militernya tapi ga grasak grusuk ke tetangga2nya, ga bakalan juga Jepang, Korea, India, & SEA kaya cacing kepanasan
Post-ablasi 3D, belakangan rasanya bapil banget sampe susah nelen. Untung ada Paratusin sirup yang jadi penyelamatku 😮💨
Kamu tim nelen tablet atau minum sirup manis kayak aku?
@CorpusAlienumm Hahaaa, gw pernah nih.
Dulu pas kuliah di Bandung satu kali krn jam bangun tidur pagi jadinya ikut gereja Hok Im Tong di Dago.
Smuanya nampak normal meski agak curiga knp yg masuk wajahnya gw doang yg beda.
Biasanya campur2 aja wajah org2nya
@keluhkesahkonoh Valid, sangat valid.
Bahkan bukan ke wisatawan lokal doang, juga ke penduduk non-bali/pendatang jg sama, perlakuannya ga enak.
Bukan generalisir krn ga sedikit jg yg baik2 aja.
Tp umumnya pandangan mrk ke non-Bali kurang ramah
Spear Operations Group. The wannabe A-Team that was paid millions of dollars for being mercenary assassins in Yemen.
Somewhere between a bad action movie and an actual war crime, there was Spear Operations Group. It started with a lunch meeting at a military base in Abu Dhabi. Abraham Golan, an Israeli contractor, walked in with a pitch: Give me a team of former Navy SEALs, Delta Force, Green Berets, and Foreign Legion veterans, and we’ll run a targeted elimination program in Yemen. No official military structure. No oversight. Price tag: $1.5 million a month, plus bonuses per operation.
The UAE said yes. They handed over weapons, uniforms, military ranks, and a list of names with photos attached.
Their first operation hit a political leader’s office with explosives. The target fled minutes before, but Golan still called it a success.
After that, it only got crazier. Magnetic bombs on cars, a $7 million San Diego mansion as the operations center, and at least two members still on active US military duty. One had starred in a reality TV show called “One Man Army” before joining the hit squad in Yemen.
In 2018, a major investigation exposed everything. Golan went on the record stating: “There was a targeted program in Yemen. I was running it. We did it.” The company dissolved within weeks. The target who survived is suing in federal court.
Nobody went to prison. The website is still active. And in Bali, one of the operators now runs a dog training business.
@ivanlanin Supaya lebih efektif, dosen2 pembimbing skripsi lah yg hrs memulai hal ini.
Mahasiwa keracunannya mulai dr sini awalnya, jd kebawa2 ampe ke dunia kerja/profesional
@madokafc1 Sebagai org yg pernah kerja proyek di Papua, gw cukup akrab dgn beginian.
Kadang alasannya yg bikin kita geleng2 kepala krn rasanya terlalu remeh temeh tp jd perang antar suku/kampung/kolompok.
Kalau Tetua/Kepala Suku ga mempan misahin, andalan terakhir tinggal Bapak Pendeta 😅
@Nebuchanedzar_I Yg dibantah adalah adanya penandatangan kontrak jual beli.
Ini bisa aja berarti pembicaraan blm deal.
Jd bukan berarti ga niat beli, hny blm deal 😅😅😅