Teruslah tidak peduli politik hingga tiba kau merasa makin berat untuk menghidangkan makanan yang layak di meja makan anak-anakmu, hingga tiba kau mulai makin pusing biaya pendidikan anak-anakmu. Hingga mimpi anak-anakmu terbunuh satu-satu karena kebijakan-kebijakan politik. Mungkin hari ini kau merasa baik-baik saja, masih bekerja & seolah tidak apa-apa. Tidak ada yang tahu, esok lusa bosmu juga terdampak & pekerjaan itu bisa berhenti di tanganmu. Teruslah tidak peduli & tidak mau belajar.
Sebagai orang yang sekarang punya anak perempuan…
jujur gue merinding dan muak lihat video itu.
Bukan karena sensasionalnya.
Tapi karena kebayang:
di luar sana ada anak-anak yang seharusnya dilindungi,
tapi malah jadi objek nafsu orang dewasa yang punya kuasa & uang.
Kasus Jeffrey Epstein itu bukan cuma soal kriminal.
Itu soal:
berapa banyak sistem yang gagal melindungi yang lemah.
Sebagai bapak, yang bikin takut bukan cuma kejahatannya…
tapi fakta kalau kejahatan kayak gini bisa lama disembunyikan
karena pelakunya “orang penting”.
Dan di titik itu, dunia terasa busuk banget.
Gue gak marah.
Gue jijik.
Dan lebih dari itu…
gue jadi makin sadar:
tugas kita bukan cuma cari uang,
tapi jaga anak-anak kita dari dunia yang kadang terlalu kejam.
astaghfirullah yaAllah naudzubillah min dzalik
yaAllah mau ramadhan loh ini. even warga Gaza belom hidup normal sama sekali, bombardir lanjut, genosida lanjut, musim dingin dan badai juga dateng, bayi bayi mati kedinginan, dan ini malah dukung zionis biadab dan proyek penghabisan Gaza????
YAALLAAAHHHHHHHHHHHHHHHH
Sebarkan supaya rakyat Jawa melek..
bahwa area terdampak langsung banjir Sumatera ini tuh setara dengan seluruh Jawa+seluruh Bali digabungkan
semasif itu arealnya
#StatusBencanaNasional adalah WAJIB
#SumateraJugaIndonesia
hasilnya:
• ribuan anak-anak keracunan
• 13 orang meninggal karena 1312 (selama aug-sep)
• hampir 1000 orang dijadikan tersangka
• tni masuk posisi sipil
• banyak satwa endemik mati
• banjir bandang di sumatra, ratusan meninggal tapi nggak ditetapkan sbg bencana nasional
Pidato @prabowo soal banjir Sumatera dan pentingnya pendidikan lingkungan tampak lebih mirip didengar sebagai kemunafikan politik yang menutupi akar persoalan. Di satu sisi, ia mengucapkan duka dan menyalahkan pemanasan global serta kerusakan lingkungan, lantas mengajak guru dan murid menjaga hutan dan sungai; di sisi lain, pemerintahannya justru memperkuat model ekonomi ekstraktif lewat percepatan hilirisasi tambang, perluasan proyek energi besar (PLTA, PLTP), dan konsolidasi oligarki sumber daya di hulu DAS yang jadi ruang hidup warga di Aceh, Sumut, dan Sumbar.
Banjir bandang sepekan terakhir, jelas sebagai bukti krisis tata kelola—bukan sekadar cuaca—dan justru lahir dari ledakan izin tambang, kebun, dan proyek energi di kawasan penyangga dan hulu sungai, sebuah jejak kebijakan yang tidak disentuh sama sekali dalam pidato manis Prabowo.
Dengan menggiring narasi ke ranah “kesadaran individu” dan kurikulum sekolah, Prabowo menggeser tanggung jawab dari negara ke guru dan murid, seolah nasib banjir Sumatera ditentukan oleh seberapa rajin anak sekolah menanam pohon, bukan oleh pemerintah yang membagi-bagikan izin dan karpet merah investasi di hulu.
Analisis JATAM (https://t.co/1wTGomO0zc) tentang banjir Sumatera justru memperlihatkan bahwa aktor utama perusak hutan, pengubah aliran sungai, dan penghancur kawasan resapan adalah kebijakan negara yang memanjakan korporasi tambang, kebun, dan energi—kebijakan yang di era Prabowo bukan dihentikan, melainkan dipacu atas nama kedaulatan energi dan pembangunan nasional.
Dalam konteks ini, seruan “melindungi hutan dan sungai” dari mulut presiden yang mengawal ekspansi ekstraksi bukan hanya kontradiktif, tapi menjadi bentuk cuci tangan politik di atas lumpur dan puing rumah warga yang terseret banjir.
URGENT, GUYS TOLONG RAMAIKAN!!
Prabowo dikabarkan oleh media Israel akan berkunjung ke Israel.
Ini berbahaya dan wajib kita tolak!!
Kemenlu harus segera klarifikasi mengenai kebenaran berita ini!!