Guys, ada satu keputusan dalam sejarah Indonesia yang sampai hari ini masih diperdebatkan dan menurut gue adalah salah satu keputusan paling berani yang pernah diambil oleh seorang presiden Indonesia.
BJ Habibie melepas Timor Timur.
Dan konsekuensi politisnya
langsung dia tanggung sendiri:
laporan pertanggungjawabannya ditolak di sidang MPR 1999.
Karirnya sebagai presiden berakhir.
Dia tidak pernah bisa maju sebagai presiden lagi.
Tapi kenapa dia melakukannya?
Pertama konteks sejarah yang sering dilupakan:
Timor Timur bukan bagian dari batas wilayah Indonesia saat kemerdekaan 1945.
Wilayah itu adalah bekas jajahan Portugal selama ratusan tahun bukan Belanda seperti wilayah Indonesia lainnya.
Setelah lama menjadi jajahan Portugal, pada 17 Juli 1976, Timor Timur baru resmi menjadi provinsi Indonesia yang ke-27 di bawah Soeharto.
Dan sejak awalPBB tidak pernah mengakui integrasi itu sebagai sah.
Tekanan internasional tidak pernah berhenti selama 23 tahun.
Dan ini alasan-alasan Habibie yang paling fundamental:
Satu — kalkulasi rasional yang dingin.
Karena analisis untung-rugi yang tidak menguntungkan, keputusan yang paling rasional adalah untuk provinsi yang bukan bagian dari batas asli sejak kemerdekaan 1945 untuk diberikan pilihan demokratis apakah mereka ingin tetap berada di Indonesia atau tidak.
Habibie adalah insinyur.
Dia berpikir dengan kalkulasi.
Dan kalkulasinya sangat jelas:
Indonesia menghabiskan dana militer yang sangat besar untuk mempertahankan wilayah yang tidak diakui PBB, yang terus-menerus menjadi sumber konflik berdarah, yang terus mencoreng nama Indonesia di mata internasional dan hasilnya tetap tidak ada perdamaian selama 23 tahun.
Dua — konteks reformasi dan demokratisasi.
Pilihan ini sejalan dengan program demokratisasi umum Habibie setelah era Presiden Soeharto.
Habibie naik ke kursi presiden di tengah tsunami reformasi.
Memberikan suara kepada rakyat Timor Timur adalah konsisten dengan semangat memberikan suara kepada seluruh rakyat Indonesia.
Tiga — tekanan internasional yang sudah tidak bisa dibendung.
Habibie meminta Sekretaris Jenderal PBB Kofi Annan pada 27 Januari 1999 agar PBB menyelenggarakan referendum di mana Timor Timur akan diberi pilihan antara otonomi yang lebih besar di dalam Indonesia atau kemerdekaan.
Amerika Serikat, Inggris, Australia semua sudah bergerak ke arah yang sama.
Habibie memilih untuk memimpin proses itu daripada terus melawan arus yang sudah jelas arahnya.
Dan ini yang paling mengejutkan hasilnya:
Referendum digelar 30 Agustus 1999 di bawah pengawasan UNAMET, diikuti 451.792 penduduk Timor Timur.
Hasilnya: 78,5% menolak otonomi khusus yang ditawarkan Indonesia.
Hampir delapan dari sepuluh orang Timor Timur memilih pisah dari Indonesia.
Bukan hasil yang tipis.
Bukan hasil yang bisa diperdebatkan.
Sangat telak.
Dan itu menjawab pertanyaan yang selama 23 tahun tidak pernah dijawab secara demokratis:
mayoritas rakyat Timor Timur memang tidak mau bersama Indonesia.
Dan ini yang paling pahit untuk Habibie konsekuensi politisnya:
Laporan pertanggungjawaban Habibie sebagai presiden ditolak di sidang MPR. Satu-satunya faktor adalah lepasnya Timor Timur dari Indonesia.
Tidak ada ruang dan kesempatan baginya untuk mencalonkan diri jadi presiden lagi.
Habibie berbesar hati dan menyadari kegagalannya.
Dia tidak ngotot.
Tidak berkelit.
Tidak mencari kambing hitam.
Dia mengakui konsekuensinya dan mundur dengan bermartabat.
Dan ini yang paling bijaksana dari seluruh cerita ini:
Habibie tahu keputusannya akan menjatuhkan karirnya. Dia tahu dia akan dihujat.
Dia tahu MPR akan menolak laporannya.
Tapi dia juga tahu bahwa mempertahankan Timor Timur dengan paksa tanpa legitimasi PBB, tanpa dukungan internasional, dengan korban jiwa yang terus bertambah dalah pilihan yang jauh lebih mahal bagi Indonesia dalam jangka panjang.
Mahal secara ekonomi.
Mahal secara diplomatik.
Mahal secara moral.
Dia memilih kepentingan bangsa jangka panjang di atas kepentingan politiknya sendiri jangka pendek.
Dan itu di era politisi yang berlomba-lomba mempertahankan kekuasaan dengan segala cara adalah sesuatu yang sangat langka.
Tokoh Katolik Franz Magnis Suseno mencatatnya sebagai sebuah keberanian:
setelah lebih dari 20 tahun diduduki, Habibie berani menawarkan kepada rakyat Timor Timur untuk menyatakan pendapat mereka dan Indonesia merelakan mereka mencapai kemerdekaan.
Habibie melepas Timor Timur bukan karena lemah. Bukan karena tidak cinta Indonesia.
Tapi karena dia cukup jujur untuk mengakui bahwa mempertahankan sesuatu yang tidak diakui dunia dengan biaya darah dan uang yang terus mengalir tanpa hasil bukan patriotisme.
Itu keangkuhan.
Dan dia cukup berani untuk menanggung sendiri konsekuensi dari keputusan yang benar itu kehilangan kursi presiden, kehilangan kesempatan mencalonkan diri lagi, dihujat oleh sebagian besar elite politik.
Pemimpin yang baik tidak selalu membuat keputusan yang populer.
Tapi pemimpin yang besar membuat keputusan yang benar bahkan ketika itu menghancurkan karir politiknya sendiri.
Habibie adalah contoh langka dari yang kedua.
Cloud Koh, who recently worked with Jinyoung on his upcoming album shared what it was like meeting him:
“When you see Jinyoung in real life, he’s seriously insanely handsome. I can’t even describe it…I almost lost my mind. Inner beauty is meaningless. I saw that with my own eyes.”
Terdengar empatik, tapi bodoh.
Gini lho bu menteri, kecelakaan kereta itu nggak selalu tabrakan depan-belakang.
Jika terjadi anjlokan akibat masalah wesel atau patah rel, gerbong tengah yg justru bisa mengalami efek teleskopik yg juga sangat mematikan.
Lagian gini lho, ini soal crowd management. Gerbong khusus perempuan itu di ujung tujuannya membantu memisahkan arus penumpang laki2 dan perempuan sejak di peron stasiun. Jika gerbong khusus perempuan diletakkan di tengah, bakal sangat kacau saat jam2 sibuk.
Kalau solusinya cuma pindah gerbong, menjauhkan satu kelompok dari zona bahaya berarti secara menteri ini sangat sadar utk menempatkan kelompok lain (laki-laki dan penumpang umum) di zona maut.
Benar2 komentar nggak etis dalam konteks keselamatan publik. Bukannya ngepush utk meningkatkan standar keamanan, malah pindah gerbong.
Heran, anggota kabinetnya prabowo ini kok banyak banget yg nggak mutu dan absun kek gini.
cantik banget kalimat ini :
kalau langkah kaki semut saja Allah dengarkan, lalu bagaimana dengan doa yang selalu kita ulang?
"Allah tidak akan menyalahi janjinya, namun kebanyakan manusia tidak mengetahuinya" (QS.Ar-Rum:6)
The strongest nation never wins.
Not in ancient China. Not in Greece. Not in Mesoamerica. Not in the Middle East.
Every empire in history was conquered by the most marginalized, most isolated, most resource-poor people in the region.
Because resources create comfort. Comfort creates arrogance. Arrogance creates blindness.
And blindness gets you conquered by people you never took seriously.
This isn’t a random scientist who got lucky.
Mariano Barbacid discovered the first human oncogene in 1982. He isolated H-RAS from bladder cancer cells and proved a single point mutation could trigger cancer. That finding launched the entire field of molecular oncology.
KRAS mutations cause 90% of pancreatic cancers. For 43 years, oncologists called KRAS “undruggable” because the protein had no obvious binding pocket. Barbacid spent the last decade using genetically engineered mice to systematically test every node in the KRAS signaling pathway, looking for combinations that would work without killing the patient.
The triple therapy blocks KRAS three ways at once: the main growth signal, the escape routes through EGFR and HER2, and the stress-response backup through STAT3. Cut the engine, seal the exits, disable the emergency system. Tumors vanished in mice and didn’t return for 200+ days after treatment stopped.
Pancreatic cancer has a 13% five-year survival rate. 8% for the ductal adenocarcinoma type this therapy targets. Most patients live one year after diagnosis.
The catch: this is preclinical. Human trials are 3+ years away. One of the drugs, RMC-6236, might get approved this year, but the full triple combination has regulatory hurdles.
Still. The man who discovered human oncogenes in 1982 may have just figured out how to eliminate the cancer those genes cause. That’s a 43-year arc from first principles to potential cure. Science rarely works this clean.
Tadi pagi dengerin rekaman suara founder tailwindcss yang posisi perusahaannya lagi struggling dan harus layoff 3 staff engineer mereka. (ada gue retweet)
Kalo engga, uang perusahaan ga akan cukup untuk bayar gaji, cuma bisa tahan 6 bulan.
Penyebabnya income mereka turun terus.
Baru sadar setelah diliat baik-baik angkanya.
Total staff di perusahaan itu, termasuk pendirinya, ada 8 orang.
Harus pecat 3 orang agar bisa bertahan sedikit lebih lama, sambil mikirin gimana caranya naikin keuntungan perusahaan.
Teknologi yang mereka kembangkan, dipake banyak orang.
Tapi open source. Bisa dipake tanpa perlu bayar.
Jadi mereka harus pake "cara lain" agar dapat duit.
Jualan template premium yang menghidupi mereka, makin lama juga makin turun peminatnya, karna apa-apa sudah gampang pakai AI.
_
Somehow curhatan pengusaha begini, terdengar relate banget.
Gue pernah di posisi mirip.
Bedanya gue ga bikin sesuatu yang keren kayak tailwind sih.
Selain bikin stress, dengerin sharing begini, jujur melegakan juga.
At least gue tau kalo struggle di perusahaan kecil kek punya ku, dan di perusahaan level dunia ke punya Sir Adam itu, ya sama.
Kata kuncinya: HARUS CUAN.
Ga peduli seberapa fancy bisnis yang lo bikin.
Seberapa punya nama lo di industry.
Yang menentukan nasib, tetap uang masuk dan uang keluar.
Ngejar profitability di bisnis itu yang utama.
Ga untung, ya ngapain capek-capek.
_
Sir Adam ngungkapin kekesalannya sama orang-orang yang ngeributin hal-hal kecil di project opensource tailwind. Padahal Beliau lagi pusing banget nyari uangnya ke mana lagi.
Dia ngerasa, kadang banyak habis waktu di urusan sepele.
Sedangkan dia butuh fokus di tugas yang related to income generation.
Lagi-lagi, this hits hard.
Kadang emang energi banyak terbuang mengerjakan yang non-essentials.
Ga contributes to income growth.
_
Podcast Sir Adam pagi ini, cuma 30 menit, isinya cuma ngeluh, tapi bikin mata lebih terbuka dan jadi lebih sadar, jalan ke depan itu harus lebih aware sama apa.
_
Btw, ini cuma curahan pikiran random aja.
Yang memakai segala cara untuk menertibkan keadaan, dijanjikan naik pangkat. Yang bingung harus pakai cara apa lagi untuk meminta keadilan, dibuat naik pitam. Hari ini, saya harus mulai belajar menerima fakta bahwa saya mencintai negeri ini tanpa dicintai balik
Jika dulu Kedubes Uni Soviet menjadi salah satu kedubes terbesar dan termewah di 🇮🇩, hari ini gelar itu milik Kedubes 🇦🇺
Dengan luas kurang lebih 5 hektar di kawasan segitiga emas Jakarta, kedubes ini dan berbagai fasilitasnya menjadi Kedubes 🇦🇺 terbesar dan termahal di dunia
“Those who hurts other’s feelings with their words, they wont remember what they said, you can ignore people like that, dont let them make you feel small.”