Martin Odegaard.
Dilabeli wonderkid sejak kecil.
Didatangkan Real Madrid di usia muda dengan ekspektasi yang besar.
Tapi kariernya nggak langsung indah.
Dipinjam ke banyak klub.
Dari Heerenveen, Vitesse, Sociedad.
Real Madrid menganggapnya sebagai pemain surplus.
Lalu Arsenal datang.
Di Arsenal dia menemukan rumah, bukan hanya sebuah tempat singgah.
Dia menemukan permainan terbaiknya.
Dia menjadi kapten tim.
Tapi dia juga ngerasain pahitnya jadi pemain Arsenal.
Gagal dalam perebutan juara 3 kali.
Dikritik soal leadershipnya, bahkan datangnya dari mantan kapten Arsenal.
Cedera mulai sering datang menghampiri.
Bahkan musim ini dia lebih banyak berkutat melawan kondisi tubuhnya sendiri dibanding lawan di lapangan.
Walaupun begitu, musim ini Odegaard akan dikenang. Dia akan dikenang sebagai kapten Arsenal yang mengangkat juara tropi Premier League.
Bahkan, pencapaiannya bisa lebih baik lagi jika dia bisa mengangkat trofi UCL di akhir pekan ini.
Terima kasih, Captain Fantastic
Martin Odegaard
#UCL#FINAL 2026
PSG vs ARSENAL
Std. Puskas Arena, Budapest, Hungaria
Minggu 31 Mei 2026
K.O 00.00 WIB
LIVE SCTV
- Juara Ligue1 vs Juara Premier League
- Duel Pelatih Spanyol 🇪🇸🇪🇸
- PSG Back To Back FINAL
- ARSENAL Unbeaten To FINAL
- PSG Nyekor Terbanyak 44 Gol
- ARSENAL Kebobolan Tersedikit 6 Gol
- PSG ke FINAL menyingkirkan: Monaco, Chelsea, Liverpool, Bayern Munchen
- ARSENAL ke FINAL menyingkirkan: Leverkusen, Sporting, Atletico Madrid
Udah Yakin, Siapa Juaranya??
Ada satu momen di sosmed hari ini yang entah kenapa kena banget di gue.
Ngeliat Declan Rice di Selhurst Park kemarin.
Itu harusnya jadi momen sempurna buat dia yang sedang bersiap untuk ngangkat trofi Premier League. Tapi di balik itu, ada satu momen kecil yang tercapture kamera: Declan Rice berdiri di pinggir tribun, ngeliat hasil dari London Stadium. Dan di situ keliatan jelas… ekspresinya langsung berubah. Tangan ngepal, setelah tau West Ham United baru aja terdegradasi.
Sulit membayangkan perasaan semacam itu. Merayakan pencapaian terbesar dalam karier, tapi di hari yang sama harus menyaksikan rumah yang membesarkan namanya jatuh ke titik paling dalam.
Rice dilepas Chelsea di usia 14 tahun, saat itu dia nangis. West Ham yang membuka pintu, yang memberinya kesempatan, yang menjadikannya kapten, yang membersamainya mengangkat trofi Conference League di Praha 2023. Sembilan tahun perjalanan di sana sebelum akhirnya pindah ke Arsenal dengan nilai £105 juta.
Hubungan seperti itu gak bisa dihapus oleh selembar kontrak transfer manapun. Dan kemarin, di hari paling membahagiakan dalam kariernya, dia harus merasakan keduanya sekaligus. Bahagia dan hancur, dalam waktu bersamaan.
Gak ada yang layak merasakan itu. Tapi mungkin justru reaksi Rice kemarin yang paling jujur menggambarkan betapa dalamnya kecintaan seseorang pada klub yang pernah mempercayainya, saat semua orang lain enggak.
Fans West Ham kehilangan Premier League musim depan. Tapi setidaknya mereka tahu, di antara pesta juara Arsenal kemarin, ada satu orang yang ikut berduka bersama mereka.
Klub yang membesarkan pemain terbaik mereka, kini terdegradasi di hari pemain itu juara.
Football is cruel like that.