Di buku itu,
tertulis sebuah perasaan yang tak pernah bertemu tuannya.
Di buku itu pula, terselip sebuah potret yang kuambil diam-diam.
Di buku itu,
ada banyak cerita yang tak bisa lagi disampaikan.
Si tuan sudah bersama puannya.
@gramedia#MulaiMenulis
Ya Allah, pernah di titik itu. Dikasih kalimat, "Makanya Ai yang semangat."
Bukannya semangat, aku menghela nafas panjang.
Kalo aku bisa, aku juga mau semangat. Tapi masalahnya aku aja udah gak ngerasain apa-apa.
Bukan makian. Bukan kata-kata kasar.
Justru kalimat yang terdengar biasa. Kalimat yang mungkin pernah diucapkan hampir semua orang tua.
ini daftarnya:
"Nggak apa-apa, semua pasti ada hikmahnya."
"Yang semangat! Kamu pasti bisa!"
"Jangan sedih, masih banyak yang lebih susah dari kamu."
"Bersyukur dong, ada yang lebih parah."
"Ah itu mah belum masalah besar. Nanti juga ketawa sendiri."
"Itu semua dari orang tua yang BAIK. Yang PEDULI. Tapi anak-anak nggak mau cerita ke mereka. Tahu kenapa?"
contoh nyata tuh perokok di dalam keluarga sendiri. Padahal lagi ngumpul banyak anak kecil tapi, itu rokok dengan entengnya terus ngebul.
Ya Allah kek capek bet marah-marah. Bahkan disiapin asbak pun bebal buang abu dan putung sembaranan.
Saat seseorang belum menikah di usia tertentu, jawabannya ga pernah sesederhana satu atau dua alasan. Selalu ada banyak hal yang berjalan di belakangnya.
Ada yang masih memikul tanggung jawab finansial keluarga. Ada yang belum percaya bahwa pernikahan akan membawa kehidupan yang lebih baik. Ada yang takut pada komitmen, ada juga yang masih ingin memberi ruang seluas-luasnya untuk dirinya sendiri. Apa pun alasannya, semuanya valid.
Pernikahan bukan ajang judi tentang siapa yang paling cepat sampai. Bukan pula perlombaan tentang siapa yang lebih dulu menikah. Pernikahan membutuhkan banyak kesiapan. Ga hanya materi, tapi juga mental, hati, dan kesadaran untuk bertumbuh bersama orang lain.
But somehow, I feel like her question carries a bit of regret.
It's okay, Mama Pau. Jalan hidup setiap orang memang berbeda. Ada yang memilih fokus membenahi diri, ada yang mengabdikan waktu untuk keluarga, ada yang membangun hidup bersama pasangan, dan ada yang masih menikmati perjalanan hidupnya sendiri.
Ada yang menikah lalu bahagia, ada yang menikah lalu gagal. Ada yang terlambat menikah dan menemukan kebahagiaannya, ada pula yang memilih tidak menikah dan tetap menjalani hidup dengan penuh makna.
Apa pun pilihannya, apa pun hasil akhirnya, ga ada yang lebih baik atau lebih buruk. Kita cuma sedang berjalan di waktu dan jalur yang berbeda.