some of my old wallets
9xTgXdgwdrYUjGxNFpNXEehbsKUiCCa6VKQqfB6uYRr5
DFouGQHG5izS31ccGKxR1UaCP5uijwbSK9uvTAw3p1bs
BuW1BvLpqp5QLtVeyH6vpQvpyFwVERd7CHPNc9BngKGG
am i a good trader or bad?
Ga bermaksud nakut-nakutin, tapi kalian harus tau fakta-fakta berikut:
1. Gubernur BI mundur
2. Rupiah kembali tembus 18k
3. MBG dan Kopdes terus"an menggerus APBN
4. Minyak dunia menuju 120 dollar per barel
5. Arus keluar modal asing terus berlanjut
6. Pemerintah mengintervensi BI untuk cetak uang guna menutup defisit APBN
7. Ribuan P3K terancam dirumahkan
8. Pemerintah libatkan babinsa untuk kepatuhan pajak masyarakat
9. Outlook peringkat kredit Indonesia diturunkan dari stabil menjadi negatif oleh Moody's Ratings
10. Gelombang PHK masih terus terjadi
11. Mall-mall banyak yang dipagarin
Sekali lagi gue ga bermaksud nakut-nakutin kalian
🌍 This summer will see the largest rollout of a non-custodial crypto wallet in human history.
⚡️Instant zero-fee crypto transactions for over a billion users are about to become reality.
We're bringing a native non-custodial Gram wallet to every Telegram app! 💎
For the first time, China has taken the lead over the US in Frontend Code Arena with the launch of Kimi-K3 by @Kimi_Moonshot.
The last time a Chinese model came close was in early 2025, with DeepSeek-R1.
YOU CAN NOW REMASTER ANY 2D GAME INTO A 3D WORLD
Pokémon Ruby defined a generation of top-down handheld gaming.
2D is fast and solo-friendly: tiles, sprites, simple animations.
3D has always been brutal modeling, rigging, lighting, LODs, and months of specialized work that kills most small teams.
Mint shatters that
One screenshot → instant coherent 3D worlds
No more waiting for studios to invest a 2D game becomes 3D today.
What makes me so angry about @TrustlessState quitting ETH is not that he did it. I mean, I get it, ETH has underperformed for years. It’s fair to move on eventually. That’s exactly how capitulations work. They make room for those who have more conviction.
The timing, though, makes no sense to me at all.
Ethereum is in the strongest position it has ever been in since its inception.
You can’t even name a serious competitor anymore. The “ETH killer” narrative is gone. The last major contender, SOL, has taken a phenomenal nosedive against ETH, and other networks aren’t even trying to market or position themselves against Ethereum anymore.
For the first time in its history, Ethereum is undisputed, ~3 months before a major scaling upgrade and with the most respected and ambitious roadmap for the next three years.
It leads in quantum, consensus, and execution research. It has by far the largest developer ecosystem, and it’s the only chain with a 100% green light from institutions, which will be a massive catalyst as the CLARITY Act moves forward.
There isn’t really an alternative to ETH as a store of value, which was his whole point a few years ago with the Triple Point Asset thesis.
Nothing has changed.
The only thing that has changed is that David is fed up with ETH, which, again, is fine. There are assets with revenue now that will likely perform exceptionally well as crypto grows larger, and he probably has an edge in identifying those opportunities given his position.
But ETH is here to stay and dominate the next 10 years, and I find it unlikely that more than 0.1% of people will outperform it by picking other crypto winners.
🔥TOM LEE & BITMINE JUST FILED FOR A STRC STYLE PREFERRED STOCK
Bitmine is offering 3,000,000 shares of 9.50% Series A Perpetual Preferred Stock.
That is a potential $300M preferred stock raise with weekly cash dividends.
Strategy did this with Bitcoin.
Bitmine may now be building the Ethereum version.
$ETH $BMNR @BitMNR@fundstrat
Reasons you should build on Gorbagana:
1. We’re Solana but better
2. Do you really need another reason?
And we have room for degens too, launch and trade tokens today on dumpster!
Guys, ada kebijakan Bank Indonesia yang keluar hari ini yang menurut gue paling menggambarkan betapa rumit dan betapa berbahayanya situasi ekonomi Indonesia saat ini.
BI baru saja menaikkan suku bunga 50 basis poin
dari 4,75% ke 5,25%.
Kenaikan terbesar dalam satu langkah dalam waktu lama.
Tapi di saat yang sama Gubernur BI Perry Warjiyo meminta bank-bank jangan menaikkan bunga kredit.
Dua hal yang berlawanan.
Dalam satu hari.
Dari satu institusi.
Dan itu bukan kontradiksi biasa.
Itu adalah tanda bahwa Indonesia sedang berada di persimpangan ekonomi yang sangat berbahaya.
Dan ini yang perlu dipahami dulu:
Kenapa BI menaikkan suku bunga?
Untuk mempertahankan rupiah.
Logikanya sederhana kalau bunga di Indonesia lebih tinggi, investor asing lebih tertarik menaruh uang di Indonesia, sehingga ada permintaan rupiah, dan nilai rupiah menguat.
Tapi kenapa BI sekaligus minta bank tidak menaikkan bunga kredit?
Karena kalau bunga kredit naik cicilan KPR naik, pinjaman usaha makin mahal, investasi melambat, orang menahan belanja, ekonomi melambat, PHK naik.
Jadi BI mau rupiah menguat tapi tidak mau ekonomi melambat.
Mau suku bunga naik
tapi tidak mau dampak suku bunga naik
terasa di rakyat.
Ini seperti mau rem dan gas ditekan bersamaan.
Dan ini yang paling mengkhawatirkan:
Setelah BI menaikkan suku bunga 50 basis poin — rupiah masih di Rp17.700.
Tidak bergerak signifikan ke arah yang diinginkan.
Artinya:
obatnya sudah diberikan.
Dosisnya sudah dinaikkan drastis.
Tapi pasiennya belum membaik.
Dan ini yang sangat berbahaya.
Karena kalau suku bunga sudah dinaikkan tapi rupiah tetap melemah itu bukan lagi masalah moneter biasa.
Itu adalah tanda bahwa kepercayaan investor sudah sangat rendah sehingga suku bunga berapapun tidak cukup untuk membuat mereka mau masuk ke Indonesia.
Dan ini yang terjadi di negara lain ketika pola yang sama terjadi:
Turki 2021-2022:
Presiden Erdogan memaksa bank sentral untuk tidak menaikkan suku bunga meski inflasi meledak.
Alasannya:
bunga tinggi merusak ekonomi rakyat.
Hasilnya lira Turki kehilangan 44% nilainya dalam satu tahun.
Inflasi mencapai 85%.
Harga makanan naik hampir
dua kali lipat dalam setahun.
Rakyat yang paling miskin yang paling terpukul
bukan yang kaya.
Argentina berulang kali:
Pemerintah mencoba menekan inflasi dengan instruksi administratif sambil tetap mencetak uang.
Hasilnya selalu sama inflasi makin tidak terkendali, nilai tukar makin hancur, dan pada akhirnya terjadi bank run rakyat berlarian ke bank untuk mengambil semua tabungannya sebelum nilainya habis.
Zimbabwe yang sudah pernah gue bahas mencetak uang untuk menutup defisit.
Sampai ada uang kertas bernominal 100 triliun dolar Zimbabwe yang tidak cukup untuk beli sarapan.
Venezuela:
Pemerintah mengontrol harga dan memaksa bank tidak menaikkan bunga.
Hasilnya tidak ada yang mau menyimpan bolivar.
Semua berlomba menukar ke dolar.
Bolivar kehilangan nilainya hampir sepenuhnya.
Dan polanya selalu sama di semua negara itu:
Satu:
pemerintah menolak mengakui bahwa ada masalah fundamental.
Dua:
bank sentral dipaksa atau ditekan untuk tidak mengambil langkah yang diperlukan secara penuh.
Tiga: kebijakan yang diambil setengah-setengah naik suku bunga tapi paksa bank tidak ikut menghasilkan yang terburuk dari dua dunia.
Empat: kepercayaan investor terus turun.
Lima: mata uang terus melemah.
Enam: inflasi rakyat terus naik.
Tujuh: krisis meledak.
Dan ini kondisi Indonesia sekarang:
Uang primer M0 tumbuh 14,1% per tahun di April 2026.
Naik dari 11,8% bulan sebelumnya.
Artinya jumlah uang yang beredar terus meningkat dengan cepat. BI sudah membeli SBN surat utang negara senilai Rp140,57 triliun sejak awal tahun.
Itu artinya BI mencetak uang untuk membeli utang pemerintah.
Sementara defisit APBN Q1 sudah Rp240 triliun dan ditutup dengan utang baru Rp258 triliun.
Uang beredar makin banyak.
Defisit makin besar.
Utang makin menumpuk.
Rupiah tetap melemah.
Dan solusinya:
minta bank tidak menaikkan bunga kredit sambil menaikkan BI Rate.
Dan ini yang paling fundamental yang perlu dipahami:
Bank bukan lembaga sosial.
Bank adalah bisnis.
Kalau BI Rate naik 50 basis poin biaya dana bank naik.
Biaya masuk naik.
Margin terjepit.
Dan kalau margin terjepit sementara mereka tidak boleh menaikkan bunga kredit bank akan memilih untuk tidak menyalurkan kredit sama sekali.
Lebih aman simpan di SBN yang bunganya sudah terjamin dari pada berikan ke debitur yang risikonya naik di tengah ekonomi yang tidak pasti.
Hasilnya:
UMKM tidak dapat kredit.
Pengusaha kecil tidak dapat modal.
Investasi melambat.
Lapangan kerja tidak tumbuh.
Dan ini persis scenario terburuk yang ingin dihindari tapi justru sedang diciptakan oleh kebijakan yang setengah-setengah ini.
Dan ini yang paling miris:
Perry Warjiyo bilang likuiditas perbankan
masih lebih dari cukup.
Pertumbuhan kredit 9,98%.
Semua masih terkendali.
Tapi IHSG ambruk ke 6.090 level yang pernah terjadi sejak COVID.
Investor asing terus keluar.
Rupiah di level terlemah sepanjang sejarah.
Dan analis sudah memproyeksikan rupiah bisa ke Rp22.000-25.000 kalau tidak ada perubahan fundamental.
Gubernur BI mengatakan semua baik. Data dan pasar mengatakan sebaliknya.
Dan ini bukan pertama kali terjadi.
Mahfud MD bilang: dari keseluruhan statement presiden yang paling banyak menimbulkan olok-olok adalah "mau dolar berapa ribu kek orang desa tidak pakai dolar."
Purbaya bilang fundamental kuat sementara rupiah di Rp17.700.
Perry mengganti definisi stabilitas agar kondisi buruk bisa disebut stabil.
Pola yang sama: pejabat bilang baik-baik saja.
Rakyat merasakan sebaliknya.
Pasar menghukum.
Menaikkan suku bunga sambil meminta bank tidak menaikkan bunga kredit adalah kebijakan yang secara teknis sulit dijalankan dan secara hasil sangat mungkin tidak efektif.
Turki mencoba ini.
Tidak berhasil.
Argentina mencoba ini berkali-kali.
Selalu gagal.
Venezuela mencoba ini. Hancur.
Yang membuat negara berhasil melewati tekanan mata uang bukan suku bunga yang diatur dari atas. Tapi kepercayaan investor yang dibangun dari kebijakan yang konsisten, transparan, dan bisa diprediksi.
Dan kepercayaan itu setelah ekspor satu pintu diumumkan tiba-tiba, setelah komisi ojol dipotong mendadak, setelah definisi stabilitas diganti, setelah Danantara berjalan setahun tanpa laporan keuangan sudah sangat tipis.
Dan suku bunga berapapun tidak bisa membeli kepercayaan yang sudah habis terkikis oleh ketidakpastian kebijakan yang terus-menerus.
Kalian ngerasa ga sih, mall masih rame, antrian kopi masih panjang, restoran masih penuh.
Padahal rupiah lagi di titik terlemah sepanjang sejarah dan ekonomi lagi susah.
Nama fenomena ini adalah Lipstick Effect.
Dan ini justru sinyal bahaya loh!🧵
Japanese actor Hiroyuki Sanada spoke about the contradictions of human nature:
“Some people dream of having a swimming pool at home, while those who have one hardly ever use it. Those who have lost a loved one feel a profound sense of loss, while others often complain about their living relatives. Those without a partner long for one, while those who have one often don't appreciate it. The hungry would give anything for a meal, while the satiated complain about the taste of their food. Those without a car dream of owning one, while those who have a car are always looking for a better one.”
The key to happiness is gratitude: truly seeing and appreciating what we already have, and understanding that somewhere, someone would give anything for what we take for granted.