@bacahorror hujan. sebuah mobil pickup modifikasi tahun 90'an baru saja melintas
sepanjang jalan, sopir tak henti-hentinya memandang jalanan berkelok, kiri kanan hanya terlihat pohon tinggi besar dengan kegelapan yg menyelimutinya, semua berjalan lancar sampai terdengar suara gadis menangis
Tumbal Mantem
Part Akhir - Ratu Trah Pakujagar [TAMAT]
Aku berlari menuju sebuah bangunan tua yang menentukan nasib dan nyawa seorang anak perempuan. Nuri yang sedang dalam pengaruh gaib harus melayani nafsu seekor kerbau gila yang cacat tanpa mampu mengendalikan tubuhnya sendiri.
@bacahorror@IDN_Horor@bagihorror
#bacahorror
Kilatan nyala-nyala api terlihat di belakangku. Sepertinya Bapak dan Bimo berhasil menahan Mbah Gandas untuk mengejarku. Dan yang berada di tanganku..
Keris Ragasukma…
Entah bagaimana pusaka ini bisa ada di tanganku saat ini. Tubuhku gemetar, rasa takutku akan sosok penguasa hutan desa ini benar-benar menguasai tubuhku. Walau tidak ada satupun makhluk gaib di sekitarku, aku merasakan rasa yang membuatku menghantuiku dari segala arah di alam ini.
Kalau mau mundur, hanya inilah saatnya. Kalimat itu yang sempat terlintas di pikiranku saat ini. Tapi bila aku melakukan hal itu, artinya aku mengorbankan nyawa dua anak perempuan dan desa ini akan terus dalam kesesatan atas pemujaanya terhadap Ndoro Kantur.
“Bisma! Ingat! Kamu tidak pernah sendiri! Tuhan kita jauh lebih kuat dibanding setan itu!” Teriak bapak dari jauh.
Entah sepertinya bapak merasakan kegelisahanku. Mendengar itu aku pun sedikit mendapatkan semangat dan memberanikan diri mendobrak pintu bangunan itu.
BRAAKKK!!!
Dengan sekuat tenaga aku mendobrak pintu kayu yang hanya tertahan oleh kayu kecil yang mengganjal dari dalam. Aneh, hanya asap putih dan aroma kemenyan yang tercium dari dalam ruangan.
Aku menapakkan kakiku masuk ke dalam dan seketika suasana di ruangan ini berubah drastis. Sebentar, ini bukan ruangan. Tepat setelah aku melewati pintu itu hawa dingin semakin pekat.
Mataku memandang tingginya pepohonan tua yang telah mengering dan tertutup kabut. Aku pun menoleh ke belakang dan melihat pintu di belakangku sudah menghilang.
Alam gaib… pintu itu menghubungkanku ke alam ini. Aku tak sempat mengkhawatirkan bagaimana caraku untuk keluar nanti. Yang terpenting saat ini adalah keadaan Nuri dan Dinda.
Tempat ini berbeda dengan sebelumnya saat aku dan Dinda disembunyikan di dimensi lain desa Sandialas. Kali ini aku benar-benar tidak tahu dimana kami berada. Mungkin saja selama ini bangunan keramat ini menyembunyikan alam ini..
Suara alunan tembang sinden terdengar dari jauh bersama alunan gamelan yang mengiringinya. Suaranya begitu jauh, namun keberadaan suara itu seolah memang diperuntukkan untuk terdengar hingga ke tempat ini.
Aku mencoba untuk terus berjalan mencari keberadaan Dinda dan Nuri. Hanya pohon-pohon kering dan bau amis darah yang tercium diantara kabut pekat ini. Sampai akhirnya, samar-samar aku pun melihat pergerakan dari kabut. Itu adalah bayangan sosok seseorang yang tengah menari.
Gerakanya begitu gemulai dengan lekukan tubuh yang tergambarkan sempurna oleh bayangan di balik kabut. Suara tembang yang sayup-sayup terdengar seolah mengiringi sosok yang menari itu.
Aku mendekat dan semakin menyadari bahwa setiap gerakan tarian itu begitu menawan. Gerakan pinggulnya seolah menggoda siapa saja yang menyaksikanya. Dan bila kuperhatikan, sosok perempuan itu memang sedang menari seolah merayu seseorang. Jangankan orang itu, melihat bayanganya saja sudah membuatku merasa tergoda.
Semakin aku mendekat, semua semakin jelas. Ada obor-obor yang mengelilingi sebuah altar. Diatasnya ada seorang perempuan yang menari.
Itu Nuri…