rupiah lemah
paspor lemah
keadilan lemah
integritas lemah
pertahanan lemah
penegakan hukum lemah
presiden sama wapresnya lemah
emang pantes bubar njir ni negara
• Presidennya hobby pidato pake kata kasar + ngitung gak jelas
• Wapresnya main kucing + ai ai an kayak beda dunia
• Menlunya harus diingetin dlu baru gerak
• Menteri PUPR nya rencana dinas keluar negeri bareng keluarga bertepatan final world cup
• Menkeu nya punya anak yg suka parlay dan malah tone deaf
• Ketua MPR nya jadi suruhan pemerintah
• Aparat nya, TNI Polri lagi rebutan kasus, saling tunjukkan kekuatan
• Aparat Hukum, Jaksanya, terindikasi korupsi atas kasus besar yg ditangani
Negara ini sebenarnya sedang menuju ke mana?
Gue rasa koruptor itu maruk dan serakahnya lebih dari Qarun deh. Emas segituuu banyaak buat apaaa?
Sebanyak-banyaknya rumah, yang ditempatin cuma satu. Dia pun tidur di kasur yang luasnya paling gede 200x200 cm.
Semahal-mahalnya makanan, ujungnya jadi kotoran. Ukuran lambung pun cuma segitu-gitu aja muatnya.
Semahal-mahalnya jam, waktu dia dan orang lain pun sama. Ga ada bedanya.
Terus nyimpan emas 74 KILOGRAM, mau ngapaiiin gue tanyaaa???
Kurang BGST apa negara ini:
Warga Aceh patungan 1 Milyar untuk bikin jembatan yang harusnya dikerjakan pemerintah
Lebih anjing lagi Menteri PU hadir bak pahlawan mau ngecek konstruksi jembatan dengan alasan keselamatan
REJIM WOWOK BIADABBBB
Rezimnya korup & gagal menyelesaikan masalah struktural (kemiskinan, KKN, pengangguran, etc)
Makin hilang legitimasi di hadapan rakyat
Akhirnya eksploitasi politik identitas buat menciptakan musuh imajiner buat menangin balik legitimasi rakyat
Sebusuk itu memang rezim kalian
Gak usah heran kartu merah Balogun diintervensi. Ini cuma kepanjangan kebiasaan dari dunia nyata (baca: di luar gelembung sepak bola) aja, kok. Aslinya, ada sejarah panjang mereka suka intervensi negara orang demi interest (kepentingan) pribadi.
prabs bilang:
- ga mungkin terjadi pertumbuhan ekonomi & investasi tanpa kepastian hukum
- ga mungkin ada keadilan tanpa pemerintah yg bersih & kompeten
- ga mungkin ada negara yg kuat kalau aparat negara ga melindungi rakyat
NAH ITU TAU SEMUA KOCAKKK
Menguatnya militerisme biasanya menandai kemunduran demokrasi (democratic backsliding) dan melemahnya kapasitas sipil. Banyak penelitian menunjukkan bahwa semakin besar peran militer dalam urusan sipil, semakin kabur batas antara ruang sipil dan ruang keamanan. Hal ini dapat mengurangi akuntabilitas publik karena militer memiliki kultur komando yang berbeda dengan birokrasi sipil yang bekerja berdasarkan transparansi, partisipasi, dan mekanisme pengawasan.
Dan jk penguatan militerisme ini disertai melemahnya meritokrasi dalam jabatan publik, menyempitnya ruang kritik publik, stagnasi produktivitas dan investasi pada pendidikan, riset, serta inovasi, maka ini bisa jd alarm bahwa suatu negara sedang mengalami institutional regression, yang berikutnya bakal berkontribusi pada kemunduran sosial-ekonomi.
Coba tengok kanan kiri, apakah tanda-tanda itu semakin jelas?
Yang diadu sesama rakyat, padahal yg dipake uang pajak kita
Ya inilah negara diurus sama orang yg mikir dia kerja pakai uang pribadi
makanya jgn heran kalau ada yg korup gak merasa bersalah juga, dipikir ambil dari celengan sendiri
JUST IN: Tanggapan Media Askar, Dosen UGM sekaligus Direktur Kebijakan CELIOS terkait meningglanya 5 calon Manajer KDMP
"Ungkapam duka cita itu tidak mengembalikan nyawa saudara kita"
"Selama 10 tahun terakhir, empat orang meninggal dalam wajib militer di Korea Selatan, dan itu jumlahnya dua juta orang."
"Indonesia, hanya dalam dua minggu, lima orang meninggal untuk pelatihan militer. hanya pesertanya 32.000 orang."
"Lebih ironi lagi, di Korsel itu pelatihan militernya untuk perang, di Indonesia pelatihan militernya untuk calon manajer toko kelontong, ini absurd, ini aneh, ini tidak bisa diterima dengan akal sehat!"
"Jadi cara berpikir kebijakan kita balik lagi ke 1970-an, dan menurut saya, saya sepakat untuk dihentikan saja"
"ANGGARAN ITU MUNGKIN BISA HILANG, TAPI NYAWA ITU TIDAK BISA DIKEMBALIKAN."
Argumen Ahli hukum tatanegara dari DPR, Oce Madril selaku dosen dari UGM mudah dipatahkan oleh kuasa hukum dari Koalisi Selamatkan Pendidikan Indonesia (KOSPI), Daniel Winarta, dengan pertanyaan telak:
Jika MBG dimasukan dalam 20% Anggaran Pendidikan, dengan dalil penambahan gizi dari aspek kesehatan, lantas mengapa pil penambah darah untuk siswi serta imunisasi siswa-siswi di sekolah selama ini menggunakan anggaran kesehatan?
Dia gak bisa jawab 👊
Cobalah simak talkshow-talkshow politik di media saat ini. Ada yang aneh nggak? Ya, para mahasiswa, perwakilan masyarakat, justru berdebat melawan anggota legislatif yang notabene merupakan wakil rakyat. Jadi, para mahasiswa dan perwakilan rakyat itu berdebat di ruang publik melawan wakilnya sendiri.
Benar kata Fatimah Az Zahra, wakil ketua BEM UI. Parlemen seperti kosong, meski Senayan penuh. Alih-alih mewakili rakyat, legislatif yang semestinya mengontrol pemerintah, banyak yang justru menjadi jubir dan perpanjangan para eksekutif.
Ya nggak semua mungkin, ya. Masih ada aleg-aleg yang pro rakyat (semoga). Kalau ada aleg yang membaca status ini, coba tanya jujur di benak Anda: Anda mewakili siapa saat ini?
Dari sekian banyak pidato, pidato kali ini bener bener nyesek
Rakyat yang bayar gaji kalian, dikritik malah dibales:
“EMANG GUE PIKIRIN” dan disambut tepuk tangan yang meriah