@txtdrimedia Kalau naikin harga semangat banget, kalau nurunin harga banyak banget alasannya.
Dasar pemerintah bajingan kerjanya nyusahin rakyat doang 🤬😡
Jadi sebenere boleh kritik government ga ini?
Soale tiap kritik dicounter, seolah2 yg kritik tu “ga nasionalis” bahkan dijawab “nyenyenyenye”
Ditanya “trus solusimu apa!”
Banyak juga yg udah kasi solusi. Ttp aja dibales dengan narasi offensive.
"Percuma koar-koar di medsos kalo ga turun ke jalan"
Ga ada yg percuma. Coba liat si wowo tiap pidato kan selalu nyindir-nyindir pengkritik di internet. Dari situ udah keliatan betapa berpengaruhnya kritik di medsos untuk mengusik kenyamanan pejabat dzolim.
Efek MBG di stop sementara:
1. Harga telur turun jd 24k
2. Harga ayam turun jd 30k
3. Susu uht plain tidak langka
4. Rupiah menguat sedikit
5. IHSG cetak +5%
6. Tidak ada siswa keracunan
7. Para Ka SPPG yg joget2 di bogor, pada gigit jari
8. Guru jadi ga sibuk buang sisa makanan dan ngitung ompreng
Ini baru stop semntara dalam beberapa hari, ekonomi langsung lebih baik.
Apalagi STOP TOTAL?
SETUJU MBG STOP TOTAL?
Anak Itu Pergi Karena Buku dan Pensil Tak Pernah Datang
Ia masih anak SD.
Tangannya kecil.
Mimpinya sederhana.
Ia hanya ingin bisa belajar seperti teman-temannya.
Beberapa hari sebelum ia pergi, ia pulang dari sekolah dengan kepala tertunduk. Di tasnya tak ada apa-apa selain kertas tugas yang belum bisa ia kerjakan. Ia meminta sesuatu yang nilainya bahkan tak seharga sebungkus rokok: buku dan pensil.
Ibunya terdiam.
Bukan karena tak mau.
Tapi karena tak punya.
Di rumah itu, tak ada lemari buku. Tak ada meja belajar. Yang ada hanya dapur sunyi dan perhitungan uang yang selalu kalah oleh kebutuhan hidup. Anak itu mendengar kata yang sama berulang kali—kata yang tak pernah kejam, tapi selalu melukai: “Nanti, ya.”
“Nanti” yang tak pernah datang.
Malu yang Terlalu Berat untuk Anak Kecil
Di sekolah, ia melihat teman-temannya menulis. Pensil mereka bergerak cepat, seakan tak pernah ragu. Ia menunduk. Ia tahu gurunya menunggu. Ia tahu tugas harus dikumpulkan. Tapi ia juga tahu, ia tak punya apa-apa untuk menulis.
Rasa malu itu tidak berisik.
Ia tidak menangis keras.
Ia hanya menumpuk pelan-pelan di dada anak kecil itu.
Hingga suatu hari, ia tak lagi datang ke sekolah.
Bangkunya kosong.
Namanya dipanggil.
Tak ada jawaban.
Yang tersisa hanyalah kabar yang membuat satu desa terdiam, satu keluarga hancur, dan satu bangsa seharusnya menunduk malu: seorang anak SD meninggal setelah tekanan hidup yang terlalu berat—karena kemiskinan dan ketidakmampuan membeli buku serta alat tulis.
Ia tidak pergi karena tak ingin hidup.
Ia pergi karena hidup terasa terlalu berat untuk anak seusianya.
Triliunan Anggaran, Tapi Buku Tak Sampai
Pada saat yang sama, negara berbicara tentang program-program besar. Anggaran digelontorkan. Spanduk dibentangkan. Kata-kata seperti “masa depan”, “gizi”, dan “generasi emas” diucapkan dengan penuh percaya diri.
Namun di satu rumah kecil, buku dan pensil tak pernah datang.
Apa arti program besar jika anak-anak masih tumbang oleh hal paling dasar?
Apa arti slogan jika seorang anak kalah bukan oleh pelajaran, tapi oleh kemiskinan?
Anak itu tidak butuh pidato.
Ia tidak butuh konferensi pers.
Ia hanya butuh alat untuk belajar.
Yang Hilang Bukan Hanya Satu Nyawa
Kematian ini bukan sekadar berita.
Ini adalah tuduhan sunyi terhadap sistem yang gagal melindungi yang paling lemah.
Yang hilang bukan hanya seorang anak.
Yang hilang adalah:
satu cita-cita yang tak sempat tumbuh,
satu bangku sekolah yang akan selamanya kosong,
dan satu pertanyaan yang akan menghantui kita:
bagaimana mungkin anak mati karena tak mampu membeli buku?
Ibunya kini memeluk penyesalan yang bukan miliknya.
Negara seharusnya memeluk tanggung jawab yang tak boleh dihindari.
Jangan Biarkan Ini Menjadi Angka
Jika tragedi ini hanya lewat sebagai berita harian, maka kita semua gagal.
Jika ini hanya jadi statistik, maka tak ada pelajaran yang benar-benar dipelajari.
Anak-anak tidak seharusnya memilih antara sekolah dan rasa malu.
Mereka tidak seharusnya memikul beban ekonomi yang bahkan orang dewasa pun sering tak sanggup.
Dan tidak boleh lagi ada anak yang merasa hidupnya lebih murah dari sebuah buku dan sebatang pensil.
---
💛 Catatan penting untuk pembaca
Tulisan ini mengangkat tragedi nyata dan sangat menyedihkan. Jika kamu atau orang di sekitarmu—termasuk anak—mengalami tekanan berat, rasa putus asa, atau tanda-tanda ingin menyakiti diri, tolong cari bantuan segera. Meminta bantuan adalah bentuk keberanian.
In this economy, kalau kamu:
- bisa tidur di bawah atap rumah
- istirahat nyenyak tanpa mikir besok makan apa
- ga punya cicilan/hutang
- punya uang cukup buat hidup sehari2
Itu artinya kamu adalah org yg sangat sangat sangat beruntung.
Setuju ga? Apa yg kurang?
mau dia orasi ratusan kali, mau dia teriak2 sampe 200dB gak akan benarin kelakuan dia habisin SATU TRILIUN sehari buat program katering yg sulit diukur manfaatnya, sementara ada anak kecil yg mengakhiri hidupnya krn ortu gk punya duit SEPULUH RIBU rupiah buat beli buku pensil.
PERTOLONGAN PERTAMA KESETRUM!
Catet! Biar cara nolong temen2 gak salah.
Soalnya, klo salah, alih2 nolong korban dan selamat, penolong bisa kena kesetrum juga.
Dan inget! Korban ga perlu ditanem di tanah ya! Sebagian masyarakat soalnya begitu dan itu kurang efektif.
Simak yok!
Ponsel yang ditemukan terkubur beserta jasad di dekat Rafah, Gaza, mengungkap kebohongan zionis Israel. Dalam ponsel tersebut tersimpan video yang merekam tentara Israel membunuh belasan petugas medis.
#palestina#gaza#rafah#asumsico
Kalo lihat seluruh pernyataan beliau, kayaknya memang udah ga ketolong lagi nih guys.
Keliatan banget salahnya di pola pikir.
Dan sepertinya beliau bukan orang yg mudah diajak diskusi dan diberi masukan yaa.
Jadi yaa, selamatkan diri masing2. Semoga kita semua baik2 saja🥲🥲
Andaikan Rakyat Gaza berdoa :
"Ya Rasulullah, Jangan beri Syafaat Orang2 yg mengaku pengikutmu tapi mrk diam saja terhadap kebiadaban dan kedzaliman yg kami derita"...
Tamatlah riwayat mrk yg diam dan tak bersuara thd Palestina 😔
#FreePalestineNow 🇵🇸🇵🇸🇵🇸🇵🇸