Pertama2 turut berduka cita atas wafatnya almarhum. Semoga keluarga diberi ketabahan.
Kasus viral postingan pasien yang mengeluh menunggu 8 jam blm dpt ruangan (dan menyinggung status BPJS) kini viral apalagi krn ternyata sang penulis sudah wafat. Yang membuat kasus ini semakin panas adalah banyaknya balasan dari sebagian nakes dan dokter yang sangat tidak pantas: mulai dari nada merendahkan, menyuruh “ke kamar jenazah”, hingga komentar yang jelas-jelas kurang empati.
✳️Pertama, Kita perlu mengutuk keras balasan2 tersebut.
Sbg nakes, harusnya mereka mjaga sikap profesionalisme & empati, apalagi di ruang publik. Respon kasar sama sekali tidak diperlukan. Keluhan pasien (meski terasa “menyinggung”) tidak otomatis membenarkan kata-kata yang menyakitkan. Komentar seperti itu justru merusak citra seluruh profesi nakes.
✳️Kedua, kenapa bisa muncul respon defensif yang berlebihan dari sebagian nakes?
Postingan almarhum sebenarnya harmless. Dia tidak menyebut nama RS, tidak menuduh secara frontal, hanya menyampaikan keluhan. Yg mungkin men-trigger (dugaan sy) adalah bagian akhir ttg statusnya sebagai pasien BPJS.
Postingan2 seperti ini mmg sudah sering menjadi “pemicu” debat di media sosial.
Selama bertahun-tahun, nakes dan RS berulang kali menjadi sasaran tuduhan “sengaja menelantarkan pasien BPJS”. Akibatnya, banyak nakes merasa selalu disalahkan dan di-judge. Ketika melihat postingan serupa, yg sbrnrnya ‘harmless’ nampaknya refleks mereka adalah membela diri atau “meluruskan”. Sayangnya, dalam proses membela diri itu, sebagian justru menggunakan bahasa yang tidak pantas. Ini siklus yang buruk.
✳️Ketiga, kita perlu melihat akar masalah yang lebih dalam.
Mengapa masyarakat begitu mudah menyalahkan nakes dan rumah sakit? Karena pemahaman tentang sistem BPJS masih sangat minim. Banyak pasien dan keluarga tidak paham bahwa antrian panjang, keterbatasan ruangan, prioritas brdasarjan triase, dan aturan rujukan adalah bagian dari sistem yang diatur oleh BPJS/Kemenkes, bukan keputusan sepihak nakes/RS.
Ironisnya, yang harus berhadapan langsung dengan kemarahan dan kecewa pasien adalah nakes dan petugas RS. Sementara BPJS sendiri jarang (atau hampir tidak pernah) menempatkan perwakilan yang aktif menjelaskan aturan secara proper kepada pasien di lapangan.
Edukasi publik tentang hak dan kewajiban peserta BPJS masih sangat lemah. Akibatnya, frustrasi pasien menumpuk ke pihak yang paling dekat, ya para staf RS/ tenaga kesehatan.
Kesimpulan saya:
- Yang salah adalah bahasa dan sikap sebagian nakes yang sangat tidak pantas. Itu harus dikecam.🤬
- Tapi masalah sesungguhnya lebih besar dari sekadar “nakes vs pasien”. Ini soal sistem yang belum cukup transparan dan edukatif, sehingga konflik terus berulang di media sosial.
Semoga kasus ini menjadi pembelajaran bersama, lebih bijak dalam berkomentar, lebih empati, dan lebih mendesak perbaikan sosialisasi dari BPJS.
Karena yang kalah selalu sama: pasien dan nakes.
Tabik
demikian kan dok @tb_siswadi@yosephsamodra ? cc bang @hanifproduktif@ardisatriawan@Sebelahkampus
Semakin ke sini, saya makin yakin KDM memang lebih pantas disebut gubernur konten daripada gubernur yang benar-benar fokus membangun organisasi birokrasi.
Ia menyindir ASN karena katanya yang dipikirkan cuma tukin, bukan cita-cita bangsa.
Padahal argumennya punya banyak sekali celah .
Pertama, argumen KDM cenderung membangun false dichotomy, seolah ASN harus memilih antara memikirkan tukin atau memikirkan bangsa. Padahal keduanya bisa berjalan bersamaan. Seorang ASN dapat memiliki idealisme sekaligus memperjuangkan kompensasi yang adil. Menginginkan kesejahteraan bukan berarti kehilangan nasionalisme.
Kedua, KDM tampak mencampuradukkan peran (role confusion). Dalam organisasi, pembentukan visi besar, arah pembangunan, dan tujuan negara adalah tanggung jawab pemimpin politik dan pejabat struktural. ASN pada dasarnya adalah pelaksana kebijakan (bureaucracy as executor), bukan aktor politik yang merumuskan cita-cita bangsa setiap hari. Wajar jika percakapan sehari-hari pegawai lebih banyak berkaitan dengan target kerja, SOP, beban administrasi, atau kesejahteraan seperti tukin.
Ketiga, argumen KDM mengabaikan insentif ekonomi. Dalam teori ekonomi kelembagaan, perilaku organisasi sangat dipengaruhi oleh sistem insentif. Jika pemerintah sendiri menjadikan tukin sebagai instrumen utama untuk mendorong kinerja, maka tidak mengherankan apabila ASN memperhatikan tukin. Sulit menyalahkan individu karena merespons insentif yang dirancang oleh organisasi.
Jika birokrasi kehilangan idealisme, pertanyaan yang lebih mendasar adalah: siapa yang mendesain sistem birokrasi, indikator kinerja, mekanisme promosi, dan budaya organisasi? Itu merupakan tanggung jawabnya sebagai pimpinan pemerintahan. Mengkritik ASN tanpa mengevaluasi desain sistem berisiko hanya menyalahkan gejala, bukan akar masalah sesungguhnya.
⚠️⚠️MENOLAK LUPA⚠️⚠️
Kontroversi Lolosnya Qatar dan Saudi di Piala Dunia 2026:
✅Pembatalan status tempat netral secara sepihak. Pada awal proses kualifikasi, AFC memberi tahu negara2 peserta bahwa putaran 4 akan dimainkan di tempat netral
✅Secara tiba-tiba, AFC mengumumkan Qatar dan Arab Saudi sebagai tuan rumah untuk seluruh pertandingan di grup mereka masing2 tanpa adanya transparansi atau kriteria pemilihan tuan rumah yg benar2 jelas.
✅Hal ini membuat Qatar dan Arab Saudi diuntungkan karena bisa bermain di kandang sendiri. Sementara negara lain (Irak, UEA, Indonesia, dan Oman) harus main tandang.
✅Jadwal pertandingan yang tak adil dan adanya diskriminasi waktu istirahat. Arab Saudi dan Qatar ditempatkan sebagai unggulan teratas. Jadwal diatur sedemikian rupa sehingga kedua negara ini mendapatkan waktu istirahat selama 6 hari di antara pertandingan mereka.
✅Sebaliknya, tim lawan yakni Irak, UEA, Indonesia, dan Oman dipaksa bermain dgn jeda hanya 3 hari (72 jam). Para pelatih memprotes keras karena durasi ini sangat tidak cukup untuk pemulihan fisik pemain.
✅Polemik status top seeds. Terdapat ketidakselarasan alasan antara AFC dan FIFA mengenai mengapa Qatar dan Arab Saudi jadi unggulan teratas. AFC berdalih karena peringkat FIFA mereka yang tinggi. Sementara FIFA menyebut di situsnya karena mereka adalah negara host untuk menjaga agar tidak berada di satu grup.
✅Terjadi pemangkasan kuota tiket untuk suporter UEA saat melawan Qatar di Doha hanya menjadi 8%. Padahal di pertandingan sebelumnya di stadion yang sama mereka dpt jatah 33%. Hal ini memicu kerusuhan di tribun penonton setelah pertandingan.
✅Ada dominasi gurita politik negara teluk di AFC dan monopoli jabatan. Struktur kepemimpinan AFC didominasi oleh figur dari negara teluk (Presiden dari Bahrain, Wakil Presiden dan Ketua Komite Keuangan dari Arab Saudi, dan Ketua Komite Kompetisi dari Qatar).
✅Sebagian besar sokongan dana terbesar AFC disuplai oleh perusahaan raksasa asal Teluk (Aramco, NEOM, beIN, Qatar Airways, QatarEnergy).
Qatar dan Saudi, dua negara yang merusak fairplay dalam kualifikasi memang lolos. Tapi mereka akhirnya dibantai dgn skor2 telak di Piala Dunia 2026.
Hanya satu kata: mampus!
Juve Saatnya Menoleh ke Samurai Biru
Sejak Juventus kalah di Final Cardiff melawan Real Madrid pada 2017, ada sesuatu yang patah di dada saya. Mental nobar pelan-pelan hilang, jantung saya melemah, dan setelah saat itu saya putuskan untuk jadi fans lemah berbasis highlight livescorer saja.
Dan kekalahan 0-2 dari Fiorentina semalam, jelas bukan hidup yang sederhana menurut definisi Juventini. Apalagi 2026 ini, tahun yang saya curigai dirancang khusus untuk menguji kesabaran pendukung sepak bola Italia. Pertama, Italia gagal Piala Dunia untuk ketiga kalinya berturut-turut, kalah adu penalti 1-4 dari Bosnia-Herzegovina di Zenica. Kedua, Juventus terlempar dari empat besar Serie A. Tidak ada Liga Champions musim depan, tidak ada pemasukan UCL untuk menambal FFP 70% SCR, tidak ada panggung Eropa buat menjual gengsi.
Salihamidzic mengingatkan bahwa Juventus selalu menjadi semacam termometer sepak bola Italia. Kalau Juve demam, timnas masuk UGD. Sekarang termometernya bukan sekadar demam, tapi sudah menyentuh 40 derajat. Tapi sebelum kita berlarut-larut menyalahkan keadaan, izinkan saya mengingatkan satu hal yang sering kita lupa. Juventus ini punya DNA bangkit. Mereka pernah lebih hancur dari ini, dan mereka selalu kembali sempurna.
Tengok 8 November 1998 di Stadio Friuli, Udine. Del Piero, di puncak emas karirnya pada usia 23 tahun, jatuh dengan kaki terlipat di menit ke-92. Diagnosa: robekan ligamen dan posterior sekaligus, sembilan bulan absen. Tanpa kaptennya, Juve langsung terjerembab ke peringkat tujuh. Tim yang baru saja tiga kali beruntun ke final Liga Champions mendadak harus bermain di Intertoto.
Lalu datang bencana yang lebih besar: Calciopoli 2006. Juventus dijatuhkan ke Serie B, dua scudetto dicabut. Para bintang angkat koper. Yang tinggal segelintir nama, Del Piero, Buffon, Nedved, Trezeguet, yang memilih turun ke divisi dua dengan kepala tegak. Del Piero menjadi top scorer Serie B, mengangkut Juve langsung promosi, dan menjadikan dirinya bukan sekadar bintang, melainkan jiwa klub. Hasilnya kita semua tahu: Juventus kembali ke Serie A dalam semusim, menjelma raksasa, dan memenangi sembilan scudetto beruntun. Sembilan.
Maka, bencana 2026 ini sebenarnya bukan rekor baru bagi Juve. Ini hanya episode pengulangan dari bank serial yang sudah dipunyai. Yang dibutuhkan sekarang sama persis dengan dulu: cara berpikir Del Piero.
"Tetap di kapal saat banyak yang loncat. Sabar saat hasil belum kelihatan. Percaya bahwa kerja sunyi suatu hari akan berbunyi."
Saatnya Juventus meniru Jepang, negara yang sudah tiga tahun tak terkalahkan oleh siapa pun. Jepang dulu juga remuk. Tahun 1998 debut Piala Dunia, kalah tiga kali tanpa mencetak gol. 2018 unggul 2-0 atas Belgia di babak 16 besar, lalu dibalik 2-3 di sisa menit. Tapi mereka tidak gonta-ganti pelatih asing setiap kalah, tidak menaturalisasi pemain setengah hati. Mereka pulang ke J-Village dan percaya pada anak-anak akademinya.
Hasilnya hari ini cukup menakutkan. Jepang sudah tidak terkalahkan sejak 8 Oktober 2021. Yang paling dahsyat adalah melumat Brasil dan Inggris pada ajang laga persahabatan, dan sudah lebih dulu lolos Piala Dunia 2026 dibanding hampir semua peserta Asia.
Jepang sebenarnya adalah versi modern dari resep Del Piero. Sabar, setia, dan percaya pada anak-anak sendiri.
Maka dengan tidak mendapatkan tempat di UCL, ini adalah jeda paksa, kesempatan langka buat bersih-bersih dapur. Sudah saatnya mengeluarkan penumpang yang membuat kapal ini karam. Juve harus berhenti belanja makhluk seperti Vlahovic yang gajinya selangit tapi keran golnya kering, atau Koopmeiners yang harganya mahal tapi performa mesinnya rusak. Sudah saatnya mengorbitkan Yildiz muda berikutnya, membangun ulang dari Next Gen, dan menerima dengan ikhlas bahwa tidak lolos UCL bukan akhir dunia.
Biarin seluruh klub Italia mengutuk Juve mandul & tak berprestasi dan memamerkan trofi. Kadang, untuk benar benar pulih, kita memang harus dihancurkan dulu oleh keadaan. Fino alla fine.
Setelah nyoba liat full tanpa dipotong, berupaya menelaah, dan melakukan analisa sederhana, berikut beberapa hal yg gw dapetin setelah nonton; Presiden Prabowo Menjawab.
- Utas
Anak-anak saat ini lebih menerima banyak informasi, baik dari internet maupun dari lingkungan terdekatnya (keluarga, teman permainan, sekolah, dan sebagainya). Masa pertumbuhan yang penuh rasa ingin tahu menyebabkan anak-anak lebih mudah mengingat apa yang mereka terima. Biasakan tidak menormalisasikan “namanya juga anak-anak”.
Mari sebagai umat beragama, agar kita lebih bijak untuk mengajarkan anak-anak kita, yang di masa mendatang nanti akan menjadi pemimpin-pemimpin di negeri ini.
🚨Yesterday, Persib Bandung’s Instagram account posted a visual design with a subtle, cheeky tone ahead of their upcoming match against Persis Solo, who are currently at the bottom of the table.
Less than 48 hours later, Persis Solo responded with a visual of their own
What a great bit of banter from both creative teams 👏 😄
POPE LEO XIV ACCEPTS THE RESIGNATION OF THE BISHOP WHO REFUSED TO BECOME A CARDINAL
Pope Leo XIV has accepted the resignation of Bishop Paskalis Bruno Syukur from the pastoral governance of the Diocese of Bogor, Indonesia, marking an unexpected development in the life of the local Church. Bishop Syukur, who was appointed by Pope Francis to be among the new cardinals announced in October 2024, had earlier declined the honor, expressing his desire to grow further in priestly life and in humble service to the Church. His decision drew attention worldwide, especially as he would have become only the fourth cardinal from Indonesia, a predominantly Muslim nation with a small Catholic minority.
What makes this moment even more striking is the bishop’s age, only 63, well below the canonical retirement age of 75. In his farewell message, Bishop Syukur expressed peaceful acceptance, trusting that behind every administrative decision is God’s hand at work.
Yg memasalahkan panggilan "mbak" punya setidaknya dua kerusakan di otaknya. Pertama, tak paham arti kata; panggilan hormat ke perempuan yg dituakan.
Kedua, kalaupun diasosiasikan dng ART, kenapa? Kau lebih mulia daripada orang yg kerja keras dng halal?
Berobat kau, pukkimakmu.
Kang @DediMulyadi71 , teu kudu jauh2 ka Sumatera mun rek nyieun konten bencana banjir mah, kadieu we deukeut yeuh ti kantor gubernur jabar, apal kan ieu? Maenya teu apal
Media Inggris, The Guardian, membahas latar belakang skandal pemalsuan dokumen tujuh pemain naturalisasi Timnas Malaysia.
Dalam laporannya, mereka menilai kesuksesan proyek naturalisasi Indonesia menjadi salah satu faktor yang mendorong Malaysia menempuh langkah serupa.
Baca di sini; https://t.co/5xBZAdEISI
/ #TimnasIndonesia #Malaysia #FIFA #Sanksi ##Voice