Gini lho manteman, kamu boleh banget ga setuju kebijakan beliau sebagai presiden. Boleh banget kritik langkahnya dalam penanggulangan COVID ini
Tapi kalo sampe menjelekkan ibu beliau, apalagi kabar duka jadi bahan hinaan, itu jahat namanya. Kritis boleh, tapi jangan jadi jahat.
Pernah bertaruh dengan waktu. Gagal dan kalah suatu ketika. Pulang dengan sedih yang berulang. Kupikir langkah dicukupkan saja. Nyatanya selalu ada jalan baru meneruskan semua cerita. Kutunggu kau di sini, atau segera aku yang ke sana.
Gapapa nangis di bis, sampe rumah produktif lagi. Gapapa nangis di gojek, sampe kantor semangat lagi. Gapapa nangis di bawah shower, habis mandi jalan jalan cari angin lagi. Sehancur apapun keadaannya, km ttp berhak merasa bahagia
Cape juga mikirin tentang perasaan orang lain terus, tentang kebahagiaan orang lain terus.
Pengen gitu sehari aja jadi orang yang egois, ngebahagiain diri sendiri, mikirin perasaan sendiri.
Biar ngerasain bahagia yang bener-bener bahagia, walau cuma sehari aja.
“Kadang kala tak mengapa untuk tak baik-baik saja. Kita hanyalah manusia, wajar jika tak sempurna”
.
Terima kasih, Semarang, karena sudah mau berkenalan dengan “Pelukku untuk Pelikmu”. Akan merindukan kalian di tahun depan
“Kadang kala tak mengapa untuk tak baik-baik saja. Kita hanyalah manusia, wajar jika tak sempurna”
.
Bandung menjadi kota perdana saya memperkenalkan “Pelukku Untuk Pelikmu”. Terima kasih banyak untuk intimasinya