Ada satu amalan yang mampu menghapuskan dosa sebagaimana air memadamkan api
Kadang tanpa sadar kita menyakiti orang lain dengan ucapan kita,lalai dalam ketaan , ghibah , tidak menjaga pandangan dan dosa2 lain tanpa kita sadari , bagaimana caranya ?
“Bersedekah”
Semoga setiap rupiah yang kita keluarkan akan menghapuskan dosa2, dilapangkan rezeki ,dan mendatangkan keberkahan dalam hidup 🤲🏼 aamiin
Berdasarkan kategori kelas tahun 2024, bisa dibilang saya ini masuk kategori “Menuju Kelas Menengah” (Aspiring Middle Class). Dan sejak anak perempuan saya lahir dua tahun silam, saya berusaha men-downgrade kualitas hidup di rumah.
Pertama, BPJS kami awalnya Kelas I, lantas saya downgrade menjadi Kelas III (kecuali ibu, masih di Kelas I).
Kedua, token listrik per bulan biasanya saya isi 600rb, tapi saya kurangi pemakaian AC dan setamsilnya hingga setiap bulan saya isi 300rb (dan harus cukup sebulan, jangan sampai bunyi sebelum ngisi lagi!).
Ketiga, saya pernah mau mengganti provider internet yang lebih murah, tapi secara kebetulan Indihome mendengar kegelisahan itu di X (dulu: Twitter) dan memberikan penawaran yang layak dipertahankan.
Tahu kenapa saya masih bertahan dengan Indihome?
Keempat, sebelumnya biaya langganan Indihome saya hampir 500rb, kemudian ada penawaran 300rb-an dengan bundled: Netflix, PrimeVideo, dan CatchPlay.
Jadi, ketika dulu saya langganan Netflix, Viu, dan Disney+ Hotstar, sekarang saya sudah tidak lagi menikmatinya kecuali login dengan nomor Indihome saya saja.
Kelima, pasta gigi saya, misalnya, harganya sampai 300rb. Tahu pasta gigi impor bernama Pasta Del Capitano? Sekarang, saya cukup pakai Pepsodent. Sabun mandi pun Sinzui yang saya beli di warung Mbak Ab atau Alfamart.
Keenam, anak lanang saya sekolah di SDN, bukan sekolah swasta dengan guru (yang katanya) lebih ramah dan kurikulumnya lebih bagus itu.
Ketujuh, saya sering jajan di luar bersama anak-istri sebelum musim paceklik seperti ini. Sekarang, hampir setahun di rumah. Ke luar kota pun di Semarang, beli Lunpia Cik Me Me atau RM Padang Sederhana, lantas pulang.
Kedelapan, urusan ngopi pun ikut saya downgrade. Dulu masih sering beli kopi susu atau nongkrong sebentar di luar. Sekarang lebih sering seduh sendiri di rumah, betapa pun rasanya yang penting murah dan bikin melek.
Kesembilan, hiburan keluarga juga saya sederhanakan. Dulu masih kepikiran jalan-jalan yang agak niat. Sekarang, kalau anak-istri ingin suasana lain, cukup muter sebentar di Purwogondo (banyak yang jualan jajanan kampung), beli jajanan secukupnya, lalu pulang.
Tapi dari downgare itu semua, mobil LCGC saya dan dua motor yang saya dan istri miliki (PCX dan Scoopy), belum pernah mereka sekali pun menenggak setetes pertalite (pernah pun karena Pertamax habis).
Selali Pertamax!
Sekarang, ketika Pertamax naik ugal-ugalan, Ade Armando bilang “mahasiswa yang protes itu dangkal”. Alasannya, Pertamax itu untuk kelas menengah. Ada juga yang pernah jadi komisaris menyatakan bahwa orang yang protes Pertamax naik hanyalah kelas menengah ngehek.
Seakan-akan, kelas menengah itu mereka anggap terlalu “enak hidupnya” untuk mengeluh. Seakan-akan, kelas menengah itu tidak cukup miskin untuk dikasihani. Seakan-akan, kelas menengah tidak layak bersuara hanya karena belum jatuh miskin.
Pertanyaannya: sejak kapan status sebagai kelas menengah menggugurkan hak kewargaan untuk mengkritik kebijakan? Kelas menengah tetap warga negara, tetap pembayar pajak, dan tetap menjadi pihak yang menanggung efek berantai dari harga energi ini, bukan?
Ataukah yang mereka maksud: seseorang itu baru boleh protes kalau dia sudah jadi gembel dulu, tinggal di bantaran kali dulu, rumahnya berdinding kayu dulu, bajunya compang-camping dulu, dan anak-anaknya putus sekolah dulu?
Kelas miskin diberi subsidi, saya setuju. Kelas atas masih bisa hidup nyaman dengan korupsi MBG atau ngotot dapur SPPG harus ngepul meski liburan tiga minggu, itu pun kita sudah tahu.
Tapi kelas menengah justru menjadi kelas sosial yang paling tergencet dan paling rentan terhadap tekanan biaya hidup yang merambat naik pelan-pelan begini.
Masak harus menunggu kelas menengah remuk dulu baru boleh bersuara?
Sinting.
Jika ingin payoutnya lancar, salah satu cara yg paling aman adalah jangan kritik pemerintah terlalu keras. Sekali ada yg report, algoritma bisa langsung turunkan visibility sementara (search ban atau limited distribution) sambil nunggu review manual.
Meski bukan akunmu yg direport, karena punya konten yg serupa, maka akunmu juga akan mendapatkan hal yg serupa.
Pernah posting tapi impressinya anyep kan? Coba share disini 👇