Jadi Intership tuh serba salah, lo udah lulus ujian kompetensi tapi belom boleh kerja sebelum mengikuti program internship.
Programnya ga menjamin lo bakal deket rumah, kalo kalo ternyata dapat jauh dari domisili ya mungkin harus lo bayar kost juga perlu biaya hidup lainnya.
Lo dibayar atau dikasih bantuan hidup ala kadarnya, kira kira nominalnya 3jtan lah.
Mau minta duit ke ortu gengsi, ga minta sebenernya bantuan hidup ga cukup. Akhirnya? ya dicukup cukupin. Hidup mode menderita lah intinya.
Beban kerja? ya berat, kerja sama aja kek dokter tetap di lokasi internshipnya.
Program ini udah dimulai 16 tahun lalu, disaat dollar masih di angka 9000an dan BBM masih ada di angka 4500an. Bantuan hidupnya ga berubah signifikan disaat dollar dan BBM sudah menyentuh 2x lipatnya.
Loh tapi ada yg udah 6jtan dibayarnya, ya itu daerah terpencil yang mungkin ongkos kesananya aja udah lebih dari 6jt.
Imagine spending every day checking up on me and going out of your way to make my life miserable, only to find me out here living my best life, loved by many, surrounded by support, and growing into an even better version of myself.
Of course I know this lol. Not only one ex of mine who keeps checking my social media esp. TikTok, the other ex situationship is still bothered even his girlfriend stalked my second account.
Ternyata dipuji pintar atau skillful tuh masih paling bisa bikin aku happy dan good mood dibanding dipuji yang lainnya. Workshop USG sama instruktur yang SpOG dan beliau bilang, “USG punya kamu bagus dok, kasih ke probandusnya aja ya buat ANC dia.” Rasanya kayak terbang.