Dear para jobseeker, anak intern, freshgraduate, korban layoff, karyawan kontrak terus-terusan, korban coretax, dan semua elemen budak corporate.
Please banget, baca dan sebarkan poster ini dan tandatangani petisinya.
Kenapa kita sebagai kelas menengah ngehe yang hidup from paycheck to paychek harus #TolakRUUTNI?
Kita sebagai sipil aja udah susah cari kerja karena persaingan yang gila2an, kadang kalah sama sesama sipil yang punya orang dalam, dengan RUU TNI ini kita lawannya bukan sesama sipil yang punya orang dalam, tapi militer yang punya senjata dan power orang dalem dengan kuasa tertinggi, kita udah kalahlah level bro!
Bayangin kita udah susah payah mengejar lanyard bumn itu, udah lembur mati-matian, ikut training sana-sini, ngejar KPI/OKR demi merangkak tangga karir, pas mau duduk di kursi jabatan yang lebih tinggi, slot sudah tidak tersedia karena udah di isi orang hasil bawaan dari headhunter, head hunter nya ini beneran bisa memburu menembak kita tapinya, yah minimal kepala kita ditendang pake sepatu boots lah kalo gak ketembak, biar jatoh dari kursi karir yang kita idam-idamkan.
Kita juga bisa kehilangan kesempatan berkarir di perusahaan yang kita impikan dengan bare minimum gaji dan fasilitas yang kita harapkan, karena mereka bisa merebut hak kita, ujung2nya cuma kerja di UMKM yang dengan mudah juga digoyang kebijakan atau ditutup usahanya.
Tandatangani & sebarkan petisi #TolakRUUTNI ke @DPR_RI@prabowo@Puspen_TNI di tautan: https://t.co/tDAVVRA0TR
Gibran, Nepotisme, dan Presiden yang Bodoh
Bayangkan, Indonesia pada 14 November 2029 di mana Gibran Rakabuming Raka berusia 42 tahun, yang baru saja dilantik sebagai Presiden ke-9 Republik Indonesia setelah memenangkan Pilpres 2029. Kemenangannya tidaklah mengejutkan bagi kita semua, karena putra sulung Jokowi ini telah dipersiapkan sejak lama melalui mesin politik keluarga dan manipulasi institusi. Namun, di balik sorotan lampu Istana, ada sosok yang jauh dari ideal, yaitu seorang pemimpin yang tidak suka membaca, menghindari kampus seperti wabah, dan berdasarkan rumor yang tak terbantahkan, Gibran punya rekam akademik yang memalukan dengan IPK rendah. Tulisan ini bukan sekadar kritik personal, melainkan sebuah peringatan tentang masa depan bangsa yang dipimpin oleh Presiden tanpa intelek. Pertanyaannya, “Mau jadi apa Indonesia di tangan Gibran?”.
Kenaikan Gibran merupakan puncak dari skema politik yang dimulai jauh sebelum ia dilantik sebagai wakil presiden pada 20 Oktober 2024, di mana pada 16 Oktober 2023, Mahkamah Konstitusi (MK) di bawah Anwar Usman sebagai pamannya Gibran dan ipar Jokowi mengeluarkan Putusan No. 90/PUU-XXI/2023. Aturan usia minimum calon Presiden/Wakil Presiden diubah, memungkinkan Gibran, yang saat itu masih berusia 36 tahun dan sebagai Wali Kota Solo untuk maju di Pilpres 2024 bersama Prabowo Subianto.
Majelis Kehormatan MK menyatakan bahwa Anwar melanggar etika berat, mencopotnya dari jabatan Ketua MK pada 7 November 2023, tapi keputusannya tetap berlaku, sebuah ironi tentang bukti nyata manipulasi hukum demi dinasti politik.
Distribusi bansos melonjak tajam (Rp 154,45 triliun pada 2024 menurut Kementerian Keuangan), tepat sebelum pemungutan suara pada 14 Februari 2024. Jokowi, meski bukan kandidat, aktif mendampingi kegiatan bansos, memicu tuduhan bahwa hal ini merupakan strategi untuk membeli suara demi Prabowo-Gibran, yang akhirnya menang dengan perolehan suara sebanyak 58,59%.
Bpk Presiden @prabowo yth, sejak Bpk dilantik 5 bulan lalu, sepertinya blm ada indikator pembangunan, terutama ekonomi yg membaik - bahkan bertambah buruk.
Sepertinya ini dampak dari sikap melanjutkan dan memuji rezim Jokowi yg jelas-jelas sudah merusak bangsa.
selamanya gw bakal nyalahin semua yang pilih 02 hope u all rots not just in hell but also in this lifetime for being so ignorant. esp if u hv privileges, and access to so many media and knowledges, but still choosing to vote for prabowo. semoga tangan lo selalu bau amis darah.