Sebagian dari kita sibuk membayangkan bahwa seseorang dipanggil Jokowi ke Istana, dipilih jadi menteri pendidikan. Meninggalkan perusahaannya, dan mengabdi untuk pendidikan.
Jika melihat trend global, memasuki 2019, perusahaan teknologi digital memang mengincar user dari pendidikan, disebut masive open online course (MOOCS). Secara kebetulan, Belva dan Nadiem merapat ke Istana.
Kebetulan lainnya pas pandemik, sekitar 5 edtech mendapatkan keistimewaan pulsa khusus untuk digunakan sekolah seIndonesia dengan anggaran triliunan rupiah.
Padahal para guru lebih mmbutuhkan pulsa WA selama pandemik. User mereka naik tajam. Makanya paska pandemik banyak edtech yang gulung tikar sebab mereka hanya bisa mendapatkan pengguna baru secara masif berkat bantuan negara dan pandemik.
Trend ini yang membuat saya sulit percaya bahwa para punggawa teknologi datang ke pendidikan atas nama pengabdian kepada bangsa.
Temuan Jaksa soal Chromebook hanya menkonfirmasi sebagian kecil keanehan dalam dunia pendidikan yang terus digempur aplikasi dan peralatan digital, yang seringkali tidak berguna, menambah beban baru, harus langganan lebih banyak, dengan anggaran negara atau kantong pribadi guru.
Uniknya, kita semua sadar jabatan politik adalah transaksional, namun Nadiem tetap pengecualian. Sungguh membagongkan.
Saya meyakini, seperti halnya kasus Tom Lembong dan Nadiem Makarim, dalam kasus kuota haji ini nama Jokowi akan disebut berkali-kali. Tapi saya juga meyakini, KPK tak akan pernah punya nyali untuk memanggil Jokowi.
Saya akan bercerita tentang isi "Buku Putih Kuota Haji 2024" ini dalam suatu podcast minggu depan. Apa kaitannya dengan Jokowi dan Maktour? Penetapan tersangka untuk Gus Yaqut sebenarnya untuk menyelamatkan siapa? Apakah ada kaitannya dengan konflik di PBNU bulan lalu?
Siapakah pemain utamanya dan siapa yang mengeruk keuntungan dalam kasus Kuota Haji? Gus Yaqut didakwa membuat kebijakan yang dapat menguntungkan orang lain, siapakah orang lain itu?
Tunggu minggu depan, saya akan bicara! Jangan pernah takut menyuarakan kebenaran, karena yang benar maupun yang salah akan mati pada waktunya.
Hanya kasih tahu.
Hati hati mempolisikan PANJI, pengikutnya GenZ semua… !
POWERFULL banget, bisa menjatuhkan siapa saja… !
MEREKA sudah bangun dari tidur panjangnya.
Know why night driving feels more dangerous than it did 20 years ago?
Because it is.
We replaced 1000-lumen halogens with 6000-lumen HIDs. Six times brighter. Zero regulation on aim. ☀️
Your great-grandfather drove with dim yellows and saw the road.
You drive in a Star Wars lightsaber duel. Every car armed. Every commute a battle.
The industry sold us battlefield lighting for civilian streets. Now we're all combatants.
We paid premium. They profited. Our retinas paid the rest. 🚗
Who's actually safer?
E-TILANG JANGAN DIBAYAR
YG RESMI PUN JGN DIBAYAR
Tunggu aja pas perpanjang STNK, kadang dpt diskon/pemutihan
===
DON'T PAY E-TICKETS IN INDONESIA
SCAM OR LEGIT, DON'T PAY
Just wait til ur vehicle registration renewal, sometimes you'll get a discount or they waive it
Kemarin ada analisis yang memuji kecanggihan teknologi Amerika dalam menculik Presiden Maduro. Canggih, cepat, sunyi dan efektif.
Persenjataan Amerika mungkin canggih. Tapi, inilah sebenarnya senjata terpenting: musuh dalam selimut Maduro.
Pemerintahan baru Venezuela kini menahan Jenderal Javier Marcano Tabata, kepala pasukan pengawal Maduro.
Sang jenderal dianggap berkhianat membocorkan koordinat posisi Presiden Maduro dan mematikan protokol pertahanan udara untuk memudahkan serangan Amerika.
Dalam menjaga kedaulatan sebuah negeri, kecanggihan teknologi hanya punya peran sedikit. Peran terpenting adalah integritas dan loyalitas para jenderal kepada negaranya.
Dalam sejarah, sebagian besar kudeta terhadap raja/presiden datang dari pengkhianatan orang-orang di sekelilingnya. Bukan dari kekuatan luar.
Jenderal tentara dan polisi yang korup dan bisa dibeli adalah ancaman terbesar kedaulatan negara.
Catatan : Muhammad Said Didu.
Saya tidak tahu dari siapa tulisan ini.
Saya tertarik pada alinea terakhir tulisan tersebut :
Jenderal Tentara dan Polisi yang korup dan bisa dibeli adalah ancaman terbesar kedaulatan Negara
Apakah kalimat terakhir tersebut sudah terjadi di Indonesia ?
Kalau sudah maka saatnya rakyat bersatu merebut kembali kedaulatan yg mereka sudah jual.
Pada era Nadiem, guru-guru dimobilisasi, mendapatkan pelatihan, pengarahan, dikumpulkan dari balai2 tiap provinsi, dilatih untuk mensosialisasikan program-program merdeka belajar.
Mereka kini samurai tidak bertuan. Lupa tugas profesinya. Kerusakan profetik ini daya rusaknya sangat parah.
Warisan Nadiem Makarim untuk Pendidikan, meninggalkan 4,2 juta anak putus sekolah, menyisakan anak Indonesia dengan literasi, matematika dan sains anjlok (PISA, 2022), dan membiarkan separuh sekolah di Indonesia rusak (SD 49%, SMP 42%, 33% SMA &SMK) dan tidak membayar tukin dosen selama lima tahun.
Namun Nadiem berhasil mewariskan watak guru badut, mendukung dan melatih guru berjoget di Instagram dan tiktok untuk memoles kebijakan Merdeka Belajar.
Warisan ini kemudian mengakibatkan perubahan watak guru menjadi agen siar kebijakan pemerintah yang sampai hari ini kerusakannya tidak bisa diobati.