Sebagai alumni beasiswa LPDP bidang STEM, 2017 saya lulus dan pulang ke Indonesia.
Saya gagal diterima kerja beberapa belas kali (ya wajar lah namanya juga job-seeking), dan akhirnya dapet kerjaan di bidang yang tidak sesuai dengan keahlian saya saat itu.
Ada salah satu perusahaan yang saya lamar, bilang gini saat interview (akhirnya saya ditolak) yang intinya:
Keahlian saya gak cocok di posisi ini karena overqualified. Mungkin kalau jurusan sama tapi gelarnya S1 bakal diterima kalau lihat skill dan attitude.
Alasannya dari gaji sayang kalau cara berpikir saya dipakai di kerjaan S1.
Dari situ, saya simpulkan kalau banyak lulusan STEM, tapi demandnya kurang ya percuma. Atau minimal ekosistem pendukung inovasi buat lulusan STEM berkarya harus ada
Kunci sukses investasi bukan jago baca grafik atau baca laporan keuangan.
Itu cuma bagian kecil (30%).
Sisanya (70%) adalah cara kamu mengelola emosi saat portofolio merah.
Salah kelola mindset, saham bagus pun bisa rugi.
Yuk, kita bahas cara atur pikiran biar cuan!
Tidak ada yang menyangkal ada cuaca ekstrim. Dari awal poin tersebut selalu disinggung, bahkan selalu jadi poin pertama. Tapi coba kenapa ada cuaca ekstrim? Ya karena ada perubahan iklim. Kenapa ada perubahan iklim? Ya karena ulah manusia.
Laporan IPCC dan berbagai studi lain sudah mengingatkan akan meningkatnya kerentanan bencama hidrometeorologis akibat berkurangnya ekosistem yang dilindungi.
Menyederhanakan sebuah bencana hanya karena faktor alam dan cuaca itu membuat kita gagal memahami penyebab utuh bencana dan pada akhirnya membuat kita abai akan kerusakan yang terus dilanggengkan.