obh combi sachet has the best marketing ever for making that song bcs wdym my friends are singing obh combi sachet..??? we don't even have that brand in malaysia 😭
Shin Min Ah cerita kalau kriteria yang paling penting saat memutuskan untuk menikah itu bukan calon pasangan, tapi diri sendiri.
Shin Min Ah ngerasa kalau mengenal diri sendiri, mengenal bagaimana diri sendiri bereaksi terhadap berbagai hubungan, itu sangat penting.
Dengan melalui pengalaman tersebut, seseorang akan mengenal dirinya sendiri dengan lebih baik. Meskipun bukan hubungan romantis, butuh waktu untuk memahami diri sendiri dengan melalui berbagai pengalaman. Jadi ga perlu untuk buru-buru menikah.
https://t.co/90zsosTVfJ
SETUJU.
1. Dia yg bikin planning hamil, melahirkan, menyusui dan MPASI.
2. Dia yg mandiin.
3. Dia yg nidurin.
4. Dia yg ngajak main.
Cari yg mau jadi Bapak bukan yg cuma mau punya anak biar serasa lengkap jadi suami. Cari yg mau kerja sama bareng-bareng besarin anak. Ga ada benar salah, namanya sama-sama baru pertama kali jd orang tua. Yg penting harus siap dgn segala resikonya.
Sekali anak lahir, ga mungkin bisa dimasukin dalam perut lg. Uda tanggung kita sebagai org tua 🙏🏻
Berarti mereka gak mengalami dua jam depan laptop tapi baru bisa nulis satu kalimat setelah menyelam 15 artikel. Anddddddd itu pun yang dikutip cuman 2 artikel setelah membaca dan membandingkan sebanyak itu
Salah satu film Netflix yg barusan aku tonton judulnya The Life List. Aku tersadar kalau kamu pengen tau someone tuh literally your true love atau bukan tuh nggak ribet kok. Kamu cuma harus bs jwb 4 pertanyaan ini:
1. Apakah dia baik? Ke semua orang, bukan ke kamu doang
2. Apakah kamu jadi versi terbaikmu pas sama dia? Mksdnya kamu bisa jadi diri kamu sendiri
3. Apakah dia stay pas kamu hancur-hancurnya?
4. Apakah kamu utuh tanpa dia?
Kalau ga memenuhi semua kriteria, itu bukan home dear, itu lesson. Highly recommend to leave, sad but true.
Dari Novel Negeri 5 Menara:
Tinggalkan negerimu dan merantaulah ke negeri orang
Merantaulah, kau akan dapatkan pengganti dari kerabat dan kawan
Berlelah-lelah, manisnya hidup terasa setelah lelah berjuang
Aku melihat air menjadi rusak karena diam tertahan
Jika mengalir menjadi jernih, jika tidak, kan keruh menggenang
Singa jika tak tinggalkan sarang tak akan dapat mangsa
Anak panah jika tidak tinggalkan busur tak akan kena sasaran
Jika matahari di orbitnya tidak bergerak dan terus diam
Tentu manusia bosan padanya dan enggan memandang
Bijih emas bagaikan tanah biasa sebelum digali dari tambang
Kayu gaharu tak ubahnya seperti kayu biasa jika di dalam hutan
“Jelek banget endingnya,” saya sempet baca ada yang comment gitu tentang film Tunggu Aku Sukses Nanti.
Penilaian itu kayaknya karena yang comment berharap Arga (@ArditErwandha) akhirnya bisa memenangkan kompetisi sukses antar keluarga. Bisa lebih sukses, lebih kaya, bisa ngebeli omongan orang yang nyakitin hati. Heroik ya.
Tapi kenyataannya endingnya nggak gitu. Saya justru suka banget sama endingnya.
Menjelang akhir, ada momen yang membuat Arga seolah dituntun melihat lebih dalam apa yang sebelumnya hanya tampak di permukaan, hingga dia bisa melampaui kata-kata yang sebelumnya dirasa menyakiti hati.
Dalam kompetisi, banyak yang mikirnya cuma ada 2 kategori, yaitu kalah atau menang.
Padahal ada kategori 3. Apalagi ini kompetisi sukses antar keluarga.
Kategori 3?
Iya. Kategori 3 adalah kita dengan sadar memilih keluar dari kompetisi, berhenti berkompetisi. Hop, wis cukup.
Hanya dengan begitu barulah kita bisa sesungguh-sungguhnya menang.
"Kalau punya beban tuh dibagi, jangan disimpen sendiri."
Mudah buat relate ke Tunggu Aku Sukses Nanti saat pernah ngerasain tajemnya mulut orang-orang padahal nggak pernah ngasih nafkah saat kumpul keluarga di hari raya, peliknya nyari kerjaan in this economy, sampai berjuang bahagiain ortu dengan punya kerjaan mapan agar mereka tak lagi banting tulang di usia tua. Naya Anindita berhasil memotret fenomena yg kian sering dijumpai & dikeluhkan generasi produktif ini lewat cerita seorang anak sulung berusia 28 tahun yg kerap disepelekan om tantenya karena tak kunjung punya karir yg bisa dibanggakan.
Seringkali dibawain jenaka yg mengundang gelak tawa renyah lewat humor cerdas berlumuran ironi yg ngajak kita ngetawain keabsurdan hidup, tapi tak jarang pula film ini terasa stressful (in a good way!) apalagi saat sindiran kian tajam, kondisi makin terpuruk & si tokoh utama tak sanggup lagi membendung frustrasinya sehingga ku bisa rasain marahnya, capeknya juga sedihnya yg begitu menyesakkan dada. Pun demikian, alih-alih goreskan kegetiran tak terperi selepas nonton, film ini tetap akhiri kisahnya secara heartwarming dengan pesan klasik yg akan selalu relevan sampai kapanpun tentang menjaga adab, berbaik sangka & saling menghargai.
Ini bagus!