Kalau hampir satu angkatan lulus cum laude, itu bukan lagi tanda “luar biasa” — itu tanda standar penilaian yang mulai kehilangan taringnya.
Cum Laude → IPK 3.50 – 3.79
Magna Cum Laude → IPK 3.80 – 3.89
Summa Cum Laude → IPK 3.90 – 4.00
Secara konsep, predikat ini harusnya eksklusif. Karena kata “with honors” muncul untuk menandai performa yang benar-benar menonjol dibanding mayoritas.
IPK tinggi tetap bagus. Tapi kalau semua orang exceptional, lama-lama tidak ada yang benar-benar exceptional.
Saya ada cerita seorang bapak.
Dia kerja 20 tahun buat biayain anaknya kuliah S1.
Lembur.
Utang.
Sampai jual tanah warisan.
Anaknya lulus. IPK bagus.
Wisuda lengkap dengan toga.
Sekarang anaknya kerja serabutan. Gaji di bawah UMR.
Dan si bapak masih senyum bilang,
"Mungkin belum rezekinya."
Yang bikin saya merenung bukan cerita anaknya.
Tapi cerita si bapak.
Dia lahir tahun 70-an.
Gak tamat SMA pun bisa buka toko,
punya rumah,
besarin anak dengan layak.
Logikanya simpel dan masuk akal:
"Dulu gw gak sekolah tinggi aja bisa. Kalau anak gw kuliah,
hidupnya pasti jauh lebih baik dari bapaknya."
Logika itu benar. Di zamannya.
Masalahnya bukan orang tua yang salah didik.
Bukan juga anaknya yang kurang usaha.
Tapi janji yang mereka pegang sudah kedaluwarsa.
Ijazah dulu adalah tiket.
Sekarang ijazah adalah syarat minimum.
Yang bahkan kadang pun masih belum cukup.
Dua hal yang kelihatannya sama, tapi sebetulnya beda jauh.
Bayangin ya.
Tahun 1995,
fresh graduate langsung diperebutkan perusahaan.
Sekarang,
lowongan entry level minta pengalaman 2 tahun,
skill digital, bisa multitasking, dan siap ditempatkan di mana saja.
Gajinya?
UMR aja belum tentu.
Hampir sama kalau dikonversi ke harga waktu itu.
Tapi harga rumah, kontrakan, dan beras sudah tidak ikut berdiam di angka yang sama.
Generasi 90-an pasti hafal nasihat ini:
"Rajin sekolah, biar dapat kerja bagus."
"Kuliah dulu, baru enak hidupnya."
"Investasi terbaik itu pendidikan."
Nasihat itu bukan bohong.
Di zamannya, itu benar dan terbukti.
Tapi zamannya sudah ganti.
Nasihatnya tidak ikut ganti.
Dan anak-anak kita tumbuh sambil pegang peta zaman dulu
yang sudah tidak cocok sama jalanan yang mereka hadapi sekarang.
Saya pernah ngobrol panjang sama seorang teman.
Dia cerita,
"Bokap gw sampai jual motor buat bayar UKT semester terakhir gw."
Saya tanya, "Sekarang kerjanya apa?"
"Freelance desain. Kadang ada job, kadang enggak."
"Bokap lu tau?"
"Tau. Dia bilang sabar, rezeki ada aja. Tapi gw liat matanya... dia bingung."
Si bapak bingung bukan karena anaknya gagal.
Tapi karena cara yang dulu berhasil sekarang tidak lagi bekerja.
Dan dia tidak punya peta baru untuk dikasih ke anaknya.
Kalau anakmu masih sekolah atau mau kuliah,
jangan cuma pikirin jurusannya.
Tapi ajarin juga:
1. Ajarin dia cara kerja uang sejak kecil.
2. Bekali satu skill konkret yang bisa langsung menghasilkan.
Sebelum dia lulus dan bingung mau mulai dari mana.
3. Kasih ruang buat gagal kecil sekarang.
Biar dia gak gagal besar pertama kali justru di dunia nyata.
4. Jangan cuma bekali ijazah. Bekali juga kemampuan bertahan.
Bukan berarti kuliah tidak penting. Tapi kuliah saja sudah tidak cukup.
Soalnya begini.
Orang tua yang paling menyiapkan anaknya bukan yang paling banyak bayar biaya kuliah.
Tapi yang paling jujur bisa ngomong ke anaknya:
"Dunia yang kamu masuki berbeda dari dunia yang Ayah dan Ibu kenal.
Kita harus cari tau bareng-bareng."
Kejujuran itu lebih berharga dari SPP mana pun.
Dan seperti biasa, selalu ada dua kubu.
Kubu pertama bilang,
"Orang tua salah. Harusnya ajarin skill, bukan kejar gelar."
Kubu kedua bilang,
"Orang tua sudah benar. Anaknya yang kurang mau usaha."
Tapi ada kemungkinan ketiga yang jarang ada yang mau nyebut:
Dua-duanya sudah berusaha sebaik yang mereka bisa dengan informasi yang mereka punya.
Tapi sistemnya yang tidak pernah jujur ke keduanya.
Generasi kita mungkin adalah generasi pertama yang hidupnya lebih susah dari orang tuanya.
Bukan karena malas. Bukan karena manja.
Tapi karena peta yang diajarkan ternyata sudah tidak relevan saat mereka datang.
Dan orang tua mereka masih dengan tulus menunjuk ke peta yang didapat dulu.
owalah, beras mahal karna stok di gudang bulog ga di rilis ke pasar.
mentan sengaja tahan stok bulog, biar pas laporan ke presiden berasnya banyak terus.
menteri dongo !!!
Ada seorang bapak yang sedang memutar otak. Tabungan di laci mulai menipis karena dia menghambur2kan uang sembarangan. Di sisi lain, nilai tukar uang sakunya ke tetangga sebelah lagi anjlok parah. Meski dompet sesak, si bapak tetap optimis dapur terus ngebul.
Saya ngajar dan bahkan salah satu perancang kurikulum pelatihan PEDOMAN PERILAKU HAKIM … HAKIM ini TIDAK MEMENUHI hampir semua syarat jadi hakim yang benar.
“Adil-Jujur-Arif Bijaksana-Mandiri-Berintegritas-…dst…terlalu jauh dari hakim ini. Dia bahkan kelihatan seperti PEMBELA terdakwa😩
Izin meluruskan berita yang "kurang tepat" ini ya.
𝗝𝗮𝗱𝗶 2 𝘄𝗮𝗿𝗴𝗮 𝗦𝗶𝗻𝗴𝗮𝗽𝘂𝗿𝗮 𝘆𝗮𝗻𝗴 𝗱𝗶𝗶𝘀𝗼𝗹𝗮𝘀𝗶 𝗶𝘁𝘂 𝗕𝗨𝗞𝗔𝗡 𝗸𝗮𝗿𝗲𝗻𝗮 𝘁𝗲𝗿𝗶𝗻𝗳𝗲𝗸𝘀𝗶 𝗛𝗮𝗻𝘁𝗮𝘃𝗶𝗿𝘂𝘀.
Tapi mereka adalah orang yang berada di kapal pesiar MV Hondius yang lagi jadi klaster wabah hantavirus Andes sejak berangkat dari Argentina awal April 2026. Selain itu mereka sempat satu penerbangan bersama 1 kasus terkonfirmasi Hantavirus.
Jika hasil tes kedua warga Singapura itu negatif, mereka tetap akan menjalani karantina 30 hari dan pemantauan hingga 45 hari karena itu adalah masa inkubasi maksimum hantavirus.
Jadi kedua warga tersebut BUKAN diisolasi karena terinfeksi Hantavirus, TAPI karena mengikuti prosedur karantina sesuai dengan masa inkubasi virusnya agar meminimalisir penularan seandainya ternyata mereka terinfeksi.
Semoga bisa meluruskan ya!
Apakah ini fakta tindakan hakim di persidangan? Ataukah hanya rekayasa AI? Saya tak sempat nonton sidangnya. Kalau benar ini atraksi hakim di persidangan: Duh Gusti, mengapa dunia peradilan kita begini?
Izin menjelaskan tentang 𝗳𝗲𝗻𝗼𝗺𝗲𝗻𝗮 𝗽𝗲𝗻𝘂𝗹𝗮𝗿𝗮𝗻 𝗛𝗮𝗻𝘁𝗮𝘃𝗶𝗿𝘂𝘀 𝗱𝗶 𝗸𝗮𝗽𝗮𝗹 𝗽𝗲𝘀𝗶𝗮𝗿 yang membuat 7 𝗼𝗿𝗮𝗻𝗴 𝘁𝗲𝗿𝘁𝘂𝗹𝗮𝗿 𝗱𝗲𝗻𝗴𝗮𝗻 3 𝗼𝗿𝗮𝗻𝗴 𝗺𝗲𝗻𝗶𝗻𝗴𝗴𝗮𝗹 𝗱𝘂𝗻𝗶𝗮, 𝗱𝗮𝗻 1 𝗼𝗿𝗮𝗻𝗴 𝗸𝗿𝗶𝘁𝗶𝘀.
Hantavirus adalah virus yang ditularkan dari hewan pengerat, dengan penularannya melalui kontak dengan urin, feses, atau liur tikus yang terinfeksi. Selain itu menghirup udara yang terkontaminasi aerosol dari kotoroan tikus di ruang tertutup sudah cukup untuk bikin sakit.
Di Amerika Selatan, Hantavirus yang paling ganas adalah varian Andes virus. Di wilayah Amerika secara keseluruhan, angka case fatality rate-nya bisa mencapai 50%. Di 2025 saja, 229 kasus dilaporkan di Benua Amerika dengan angka 59 kematian, yang artinya rasionya 25,7%.
Nah kapal pesiar ini kebetulan singgah di pulau-pulau terpencil, termasuk South Georgia dan Nightingale Island, yang dihuni banyak satwa liar. Ada kemungkinan kontak dengan area yang ditinggali di sana, atau bahkan sejak di Argentina, sebelum boarding.
𝗬𝗮𝗻𝗴 𝗽𝗮𝗹𝗶𝗻𝗴 𝗽𝗲𝗿𝗹𝘂 𝗱𝗶𝗴𝗮𝗿𝗶𝘀𝗯𝗮𝘄𝗮𝗵𝗶 𝗱𝗶 𝗸𝗮𝘀𝘂𝘀 𝗶𝗻𝗶 𝗮𝗱𝗮𝗹𝗮𝗵 𝗸𝗲𝗰𝘂𝗿𝗶𝗴𝗮𝗮𝗻 𝗽𝗲𝗻𝘂𝗹𝗮𝗿𝗮𝗻 𝗵𝗮𝗻𝘁𝗮𝘃𝗶𝗿𝘂𝘀 𝗮𝗻𝘁𝗮𝗿 𝗺𝗮𝗻𝘂𝘀𝗶𝗮 𝗱𝗶 𝗸𝗮𝗽𝗮𝗹 𝗽𝗲𝘀𝗶𝗮𝗿 𝘁𝗲𝗿𝘀𝗲𝗯𝘂𝘁.
Sebagian besar kasus hantavirus di dunia tidak menular dari manusia ke manusia. Tapi pada varian Andes, yang endemik di Amerika Selatan, ada bukti penularan terbatas antarmanusia lewat kontak erat dan berkepanjangan. Bahkan ada laporan secondary infection pada tenaga kesehatan.
Oleh karena itu, 𝗪𝗛𝗢 𝗺𝗶𝗻𝘁𝗮 𝘀𝗲𝗺𝘂𝗮 𝗽𝗲𝗻𝘂𝗺𝗽𝗮𝗻𝗴 𝗱𝗮𝗻 𝗰𝗿𝗲𝘄 𝗸𝗮𝗽𝗮𝗹 𝗱𝗶𝗽𝗮𝗻𝘁𝗮𝘂 𝘀𝗲𝗹𝗮𝗺𝗮 45 𝗵𝗮𝗿𝗶.
Gejala terinfeksi Hantavirus adalah gejala infeksi secara umum yaitu demam, sakit kepala, nyeri otot, mual, muntah, dan diare. Nah tiba-tiba dalam hitungan hari, bisa tiba-tiba muncul keluhan berat seperti sesak napas berat hingga syok.
Perkembangan dari "gejala ringan" ke "kritis" bisa sangat cepat. Hingga saat ini juga 𝗕𝗘𝗟𝗨𝗠 𝗔𝗗𝗔 𝗮𝗻𝘁𝗶𝘃𝗶𝗿𝘂𝘀 𝘀𝗽𝗲𝘀𝗶𝗳𝗶𝗸 𝘆𝗮𝗻𝗴 𝘁𝗲𝗿𝗯𝘂𝗸𝘁𝗶 𝗲𝗳𝗲𝗸𝘁𝗶𝗳 𝘂𝗻𝘁𝘂𝗸 𝗵𝗮𝗻𝘁𝗮𝘃𝗶𝗿𝘂𝘀.
𝗛𝗶𝗻𝗴𝗴𝗮 𝘀𝗮𝗮𝘁 𝗶𝗻𝗶, 𝗪𝗛𝗢 𝗺𝗲𝗻𝗶𝗹𝗮𝗶 𝗿𝗶𝘀𝗶𝗸𝗼 𝗴𝗹𝗼𝗯𝗮𝗹 𝗱𝗮𝗿𝗶 𝗲𝘃𝗲𝗻𝘁 𝗶𝗻𝗶 𝗮𝗱𝗮𝗹𝗮𝗵 𝗥𝗘𝗡𝗗𝗔𝗛.
𝗧𝗶𝗱𝗮𝗸 𝗮𝗱𝗮 𝗯𝘂𝗸𝘁𝗶 𝘁𝗿𝗮𝗻𝘀𝗺𝗶𝘀𝗶 𝗹𝘂𝗮𝘀.
𝗧𝗶𝗱𝗮𝗸 𝗮𝗱𝗮 𝗿𝗲𝗸𝗼𝗺𝗲𝗻𝗱𝗮𝘀𝗶 𝗽𝗲𝗺𝗯𝗮𝘁𝗮𝘀𝗮𝗻 𝗽𝗲𝗿𝗷𝗮𝗹𝗮𝗻𝗮𝗻 𝗷𝘂𝗴𝗮.
Sejauh ini hantavirus juga bukan penyakit yang lazim ditemukan di Indonesia.
Semoga kita diberikan keamanan dan keselamatan selalu!
Semoga bermanfaat!