Selamat datang di era baru, di mana hoax dan disinformasi disebarkan dengan leluasa melalui video-video pendek, kemudian diiyakan oleh komentar-komentarnya 🤦🏻
krn persoalan beras ini naik, gw baru inget dlu ibu gw (pns dki) tu suka dpt jatah beras tiap bulan yg bisa diambil di alfamart. dan berenti pas pak anies udh ga menjabat. GW BARU INGET BERASNYA BERAS FS. brrti hasil contract farming yh😭😭😭😭😭
ibu gw sendiri aj baru ngeh
Beras mahal : tahun 2024
Anies ekspor beras : tahun 2022
Kesimpulan :
Harga beras jadi naik sekarang karna Anies pernah ekspor beras di tahun 2022.
Sobat all in 02 di Tiktok ini sepertinya emg udah gak terselamatkan. 😂
Rakyat dibikin bodoh dari a) sampai z) versi dosen:
a) Dosen dituntut jadi superman karena Tri Dharma Perguruan Tinggi diterjemahin jadi Tri Dharma dosen: ngajar iya, penelitian iya, bikin acara pengabdian iya,
b) Belum lagi ditambah puluhan formulir di berbagai aplikasi yang ganti dan nambah terus setiap tahunnya,
c) Tapi gajinya gak sebanding sama yang dikerjain, akhirnya mau gak mau cari proyekan lain di luar,
d) Jumlah ngajarnya juga sering gak ngotak, bisa ngalah-ngalahin jumlah SKS-nya mahasiswa kuliah,
e) Karena sibuk proyekan, kelas sering bolong, dikasih ke asisten, atau dijadwal ulang, bikin kacau jadwal mahasiswa,
f) Akhirnya segala silabus, rencana pembelajaran, koreksi PR, koreksi ujian, dan segara urusan paperwork lainnya dikasih ke asdos,
g) Mau gaji asdos dari duit proyekan gak kuat, dari universitas keluarnya cuma 300 ribu, itu pun keluarnya semester selanjutnya,
h) Ngebimbing mahasiswa juga jadi susah karena sibuk, sekalinya ada kesel gara-gara mahasiswanya gak ada progres. Bukannya dibimbing langkah selanjutnya gimana, malah dimarahin "PROGRESNYA MANA?",
i) Mahasiswanya jadi males-malesan dan ngilang, kena lingkaran setan kalau gak dibimbing gak ada progres, kalau gak ada progres gak bimbingan. Akhirnya KPI bimbingannya jelek.
j) Mau ngajuin hibah riset, syarat administrasinya segaban. Untuk dapat hibah riset mesti ada track record penelitian, untuk ada track record penelitian perlu hibah riset.
k) Hibah riset gak boleh ada honor atau gaji personil. Gimana caranya?
l) Belanja barang modal yang gak habis pakai juga gak boleh.
m) Akhirnya gaming the system: lewat PT. XYZ, taruh "jasa" di proposal anggaran, nah, gaji personil sama belanja barang modal lewat PT. XYZ
n) Kepotong fee pinjem bendera ke PT. XYZ, lumayan gede jumlahnya.
o) Pas udah jalan, belum juga cair duitnya, udah diminta monitoring dan evaluasi. "Ini progresnya mana?"
p) Targetnya publikasi jurnal internasional Q1 cuma dalam setahun. Karena jurnal non-open access reviewnya seabad, akhirnya bayar APC ke jurnal open-access yang APC-nya bisa 50 juta sendiri,
q) Review jurnal yang bayarnya selangit itu, gak ada imbalannya sama sekali.
r) Waktu udah terbit, kalau mau naik pangkat, meskipun jurnal internasionalnya udah terbit dan tinggal dibuka PDF-nya di browser, mesti direview ulang, mesti dicek linear gak sama keilmuan,
s) Multidisipliner itu apa? Dosen teknik bikin alat buat terapi stroke ngebantuin dokter, terus diterbitin di jurnal kedokteran = nggak linier. Lu dosen teknik ngapain nerbitin di jurnal kedokteran? Gak diitung.
t) Selain direview ulang, mesti dicek di plagiat Turnitin lagi. Terus kena 99% similarity, sama paper yang sama yang udah terbit dan tersedia di luar sana.
u) Di tengah-tengah chaos itu semua, buat yang S2 mesti nyiapin tugas belajar S3: IELTS, TPA, GRE, GMAT, Proposal Riset, daftar ke berbagai universitas,
v) Di banyak universitas, mana ada fasilitas reimburse buat itu. IELTS? Bayar sendiri. TPA? Bayar sendiri. GRE? Bayar sendiri.
w) UKT pas kuliah: antara bayar pake uang pribadi sendiri, atau nyari beasiswa sendiri. Kampus cuma mengucapkan "semoga berhasil".
x) Apapun sumber pendanaannya, Anda akan terikat kontrak ajaib 2n+1. Meskipun sumber pendanaannya uang pribadi Anda.
y) Selama kuliah S3, Anda hanya menerima gaji pokok, kalau masih single bahkan cuma 50% gaji. Kenapa gitu? embuh.
z) Biaya hidup selama kuliah juga tanggung jawab Anda, padahal 40 jam kerja udah tersita buat S3. Masih harus: cari tambahan gara-gara tunjangannya stop semua.
Kok a-z masih kurang ya?
Kenapa masyarakat dibikin bodoh, sakit, miskin, dan nganggur?
Karena kalau masyarakatnya pintar, sehat, dan kaya yang mintanya aneh-aneh:
1) Pendidikan yang layak dan terjangkau buat semua orang,
2) Gaji guru dan dosen yang layak,
3) Fasilitas umum dan ruang terbuka yang memadai,
4) Harga rumah yang terjangkau, atau paling tidak ada subsidi,
5) Pemerataan lapangan pekerjaan, penghapusan diskriminasi usia,
6) Rumah sakit, puskesmas, dan tenaga kesehatan yang mumpuni,
7) Dokter, ners, dan nakes lainnya digaji layak,
8) Transportasi umum yang memadai dan terjangkau,
9) Tata kota yang benar, gak ada sekolah di sebelah lahan tambang,
10) Pendanaan sekolah dan universitas cukup jadi gak minta biaya mahal dan gak motong gaji pendidik,
11) Masih banyak lagi.
Kalau jadi pemerintah, susah kan?
Kalau masyarakatnya bodoh, sakit, miskin, dan nganggur, yang diminta cuma:
1) Makan.
Dulu pas KPK, para aktivis termasuk mrk ber-3 dituduh punya kepentingan, anti Pemerintah, SJW, taliban, dst.
Tapi lihat KPK (& Firli Bahuri) skr. Apa yg dulu kami peringatkan akhirnya jadi nyata.
Sekarang, mereka dituduh SJW, partisan, anti² lagi. Yg nuduh tidak belajarkah?