Indonesia does not need universities that merely repeat government policies and adopt its priorities. -- Muhammad Yoppy Adhi Hernawan
https://t.co/hFwr7bD2x2
Males banget kl baca paper yang alat ukurnya cuma ada nama (tapi kalo ditelusuri ga ketemu item-itemnya), desain stimulus ga dikasih liat, trs eksperimental tp bagian prosedur cuma ngasihtau rekrutmen partisipan sama randomized grouping like what’s the ALUR bruh
I guess selain reproducible jg bisa dipertanggungjawabkan, alias dengan menjadi setransparan mungkin. Gpp kalo rada bapuk asal ga ditutup-tutupin. Jd pembaca tau harus memaknai hasilnya dg cara apa
PhD Students - Here is an example of a good discussion section.
A good discussion section should answer 6 questions.
1. What is different in your findings compared to previous research?
2. What is similar in your findings compared to previous research?
3. How different sections of your results section correlate?
4. What are the implications of your findings for practitioners?
5. What are the implications of your findings for researchers?
6. What are the limitations or threats to the validity of your findings?
Anything you'd like to add?
Pengaruh di Indonesia banyak yg suka abuse loophole kali ya jadi terbiasa dengan sistem pengecekan dan verifikasi berlapis.
Pas ada sistem yg anti ribet karena orang-orangnya dianggap jujur by default, yg kecolongan jd ikut disalahin karena kurang selektif.
Kasus pemalsuan riset di konferensi internasional itu salah satu akar utamanya adl neoliberalisme pendidikan. Akademisi skr byk dituntut u/ mengkomodifikasi hasil riset mrk. Pun, profesi akademisi dituntut u/ miliki profil populer...
“In practice, however, technology is never neutral, because it takes on the characteristics of those who devise it, finance it, regulate it and use it.”
THANK YOU POPE LEO FOR SAYING THIS.
Time for the “technology is a tool with no inherent moral position” idea to die!
Ada yang lagi rame:
DUGAAN Beberapa orang Indonesia melakukan pemalsuan riset terorganisir dan TERUNGKAP di Konferensi ilmiah di Denmark??
Masih menunggu kesimpulannya.
Karena ini berpotensi mencoreng nama baik ilmuwan Indonesia di mata internasional.
Koreksi yah. Fokus utama mahasiswa S1 itu memperdalam keilmuan. Belum sampai ke penelitian. Yang diperkuat itu pemahaman metodologi ilmiah. Baru masuk ke penelitian itu nanti di level S2 dan S3.
Bedanya dengan anak SMA, belajarnya sudah spesifik. Bedanya dengan anak vokasi, belajarnya bukan untuk spesialisasi bidang pekerjaan.
Tapi tetap linier dengan kritik terhadap MBKM. Kesesatan MBKM adalah memperlakukan mahasiswa S1 sebagai produk untuk dijual di pasar kerja, bukan murid perguruan yang digembleng ilmunya.
Bodohnya, magang dianggap bisa menggantikan pencarian ilmu sehingga boleh menghilangkan SKS mata kuliah.
Celaka benar emang jaman Nadiem.
Hari ini belajar soal Mahalanobis distance. This is to find outliers kalo 2+ variables diconsider jd satu kesatuan (multivariat). For 1 variable, the OG way to determine outlier kan dengan ngitung z score (biasanya yg >3) atau yang di luar kuartil Q1 to Q3.-
-For 2 variables, ada rumusnya (gagitu paham, tp pada dasarnya tetep pake observed value sama mean. and a secret third thing?). Nanti memunculkan oval area gini. Observations yg di luar itulah yg deemed as outliers