Memandang kembali kisah lama dengan perspektif baru. Selama ini menyalahkan dirinya dan diri sendiri. Padahal, mungkin saja tidak ada yang salah. Mungkin saja memang sudah jalannya. Seringkali, kita bukan marah karena perpisahan. Tapi karena merasa tidak lagi dibutuhkan
Dia hanya menanam cinta di hatimu. Ia tak pernah bermaksud merawatnya. Setelah perasaan itu tumbuh, kau sendiri yang harus menanggungnya sepanjang usia.
Kepikiran dari kemarin: kenapa ya orang-orang main kerajaan-kerajaan itu malah ditangkap? Apakah menjadi orang halu di negara ini juga tidak diizinkan. Susah jadi orang gila.
Kamu pikir dengan wisuda ilmu sudah cukup untuk menghadapi dunia nyata. Sebentar, itu baru kulitnya doang. Di dunia kerja ada banyak sekali hal yang enggak ditemukan di meja kuliah. Dapatnya pas kerja.
Kalau mau tamat lambat. Ya, harus kuliah dengan uang sendiri. Jangan bebanin orangtua lagi. Itu cukup adil.
Tapi kalau masih bebanin orangtua. Tamat lambat. Wajar mereka marah. Emang begitu. https://t.co/Cds2mPjElL
jangan juga sampai menghakimi bahwa orang-orang yang berkata bahwa kita hidup di dunia di mana rupa/tampilan menentukan adalah orang-orang jelek. Saya termasuk yang berpikir bahwa dunia tidak adil. Dari mulai kampus sampai kantor, penampilan kita selalu dinilai. Apa saya jelek?
Sekadar opini pribadi perihal jelek/cakep. Begini, terima atau tidak, kita memang hidup di dunia di mana rupa/tampilan menentukan. Makanya kita mengenal kalimat semacam “Kita semua sama di hadapan Tuhan”. Ya karena di hadapan manusia lainnya, kita akan selalu dibeda-bedakan.