Menurut laporan media Spanyol Sport, Pelatih Qatar ngamuk2 dan keberatan kpd pelatih Kanada krn Kanada terus mencoba cetak gol meski sudah unggul 6-0 waktu Qatar bermain dgn 9 orang.
Pelatih Qatar menganggap perilaku Kanada nggak sportif.
Alasan aneh. Kanada kan belum lolos secara matematis, jadi goal difference bisa sangat penting..
🤡🤡🤡
Pelatih kepala tim nasional Senegal, Pape Thiaw, menjadi topik pembicaraan di Amerika karena pernyataan yang dibuatnya saat konferensi pers, terkait dengan ibadah sholat Jum'at
Wartawan :
"Hari ini ada angin yang sangat kencang di negara bagian New Jersey, dan petugas keamanan menyarankan anggota delegasi untuk tidak keluar demi keselamatan kalian... mengapa Anda tetap keluar untuk menunaikan sholat...?"
Pape Thiaw :
"Apakah ada yang lebih penting daripada sholat? saya rasa itu bukan urusan Anda... kalian takut pada angin, sementara kami takut kepada Allah, Zat yang menciptakan angin... kita datang ke sini untuk sebuah pertandingan hiburan, lantas kita lupa bahwa kita diciptakan untuk menyembah Allah...
Bahkan kalo final Piala Dunia FIFA digelar hari ini dan kami adalah salah satu tim finalisnya, kami tetap akan keluar untuk menunaikan sholat Jum'at, meski itu berarti kehilangan gelar juara...
Jangan ceramahi kami tentang ritual dan kewajiban agama kami..."
#PialaDunia
Rahasia 20 tahun Raditya Dika bertahan di YouTube ternyata sesederhana ini dia ga peduli algoritma, dia peduli sama 𝗟𝗶𝘃𝗶𝗻𝗴 𝗥𝗼𝗼𝗺
Dia nemu satu segmen pasar yang sering dilupain kreator modern dari Bapak-bapak dan anak perempuannya yang lagi nyalain Smart TV di ruang tamu
Raditya Dika bocorin cara dia gak pernah kehabisan ide:
-Pelihara curiosity (penasaran sama koloni semut, politik simpanse, dll)
-Tulis 1 kalimat menarik di jurnal tiap malam sebelum tidur
-Dari 365 kalimat setahun, cuma butuh 5 kalimat buat jadi 1 show Stand-Up utuh
Kata dia input yang banyak bikin output jadi gampang
Demo di Bundaran HI ini unik, karena biasanya demo ke lembaga pemerintahan tertentu
Tapi bundaran HI itu sumber traffic: masyarakt dan sosial media
peluang media ngeliput naik
peluang sosmed divideoin orang juga naik
orang aware-> tujuan demo terpenuhi dengan cara baru
Florentino Perez mungkin gak pernah beneran mau sama Julian Alvarez.
Beberapa hari sebelum bid itu keluar, Perez udah ketemu langsung sama presiden Atletico. Dia tau Barcelona lagi ngejar Alvarez, udah lama dan udah di tahap serius. Dan dia tau persis kondisi finansial Barca yang masih ketat sama aturan La Liga spending.
Jadi dia kasih offer €150 juta. Resmi. Atletico tolak. Sesuai ekspektasi Perez. Real Madrid bikin official statement, dan sekarang, siapapun yang mau Alvarez, termasuk Barcelona, harus datang dengan angka di atas €150 juta. Harga pasarnya udah naik, dan Atletico punya justifikasi penuh untuk minta lebih.
Madrid? Mereka fine-fine aja. Gak kehilangan pemain, gak kehilangan uang. Malah berhasil nepatin janji kampanye, ganggu rencana rival sekota, sekaligus persulit langkah Barcelona dalam satu langkah.
The man was a politician before he was a football president. That context explains everything.
El Presidente. 👑
Oh ternyata selain untuk nepatin janji kampanye Florentino Perez, ini juga buat ganggu Barcelona yang juga mau Julian Alvarez.
Perez ingin kirim pesan, bahwa jika mereka mau datengin Julian Alvarez juga, mereka harus siapin paling minimal €150 juta. Dengan Real Madrid bikin official statement publik di angka €150 juta, mereka essentially set the floor buat semua pesaing, termasuk Barca yang masih struggling dengan finansial dan aturan La Liga spending.
Selain itu, ini adalah langkah catur Florentino Perez untuk expose inkonsistensi Atletico di depan publik. Atletico dari awal bilang mereka butuh minimal €150 juta untuk mempertimbangkan lepas Alvarez. Madrid memyanggupi itu dan lepas official bid €150juta sesuai yang diinginkan Atletico, tapi ternyata tetap ditolak juga da gak tepatin janjinya, malah balik nyuruh untuk ikuti release clause-nya aja yang dimana adalah €500 juta.
So, It’s a calculated move. Perez is playing war psychology terhadap para lawan-lawannya, dan banyak orang gak notice soal ini.
Orang sering lupa bahwa Florentino Perez adalah seorang politisi. Gue juga awalnya kaget dengan langkah ini, tapi setelah dicerna lebih tenang, polanya keliatan. Karena gue yakin orang kayak dia ini, gak mungkin bergerak tanpa kalkulasi. Pasti ada alasan di balik setiap langkah yang dia ambil.
Baru beres nonton video ini di yt.
Dan saya tersadarkan kalo menjamurnya org yg jualan seblak, cilok, gorengan dan pedagang olahan tepung lainnya di jalanan bukanlah tanda kebangkitan ekonomi rakyat, tpi sinyal keputusasaan (necessity entrepreneurship) untuk menutupi status pengangguran.
Setidaknya ada 6 poin yg saya dapati :
• Jebakan low barrier to entry: Bisnis olahan tepung dipilih cuma krn modalnya murah dan gk butuh keahlian khusus.
Dampaknya, terjadi ledakan keseragaman yg memicu kanibalisme ekonomi (sesama pedagang kecil saling mematikan di radius beberapa meter saja)
• Romantisasi penderitaan oleh negara: Narasi "UMKM Pahlawan Ekonomi" dikritik sebagai alat politik agar negara bisa lepas tangan dari kewajiban menyediakan lapangan kerja formal dan jaring pengaman sosial.
• Paradoks data pengangguran: Angka pengangguran resmi terlihat turun, tpi pekerja sektor informal melonjak smpe 60%. Ini adalah fenomena pengangguran terselubung, tercatat bekerja, tapi pendapatan minim dan gk menentu.
• Perang Harga vs Hancurnya Daya Beli: Di tengah inflasi dan turunnya kasta kelas menengah, merek bukan lagi faktor penting. Pedagang terpaksa memotong margin keuntungan demi mempertahankan konsumen yg sensitif harga.
• Ironi "Negara Tepung" yg 100% Impor: Indonesia menopang jutaan pedagang kecil dari komoditas yg gak bisa tumbuh di tanah sendiri. Ketergantungan impor gandum yg mutlak membuat nasib pedagang cilok di jalanan sangat rentan terhadap konflik geopolitik dunia dan kurs Dolar.
• Model bisnis ini udah di titik jenuh. Para pedagang seperti berjalan di tempat, bekerja keras 12 jam sehari menghirup asap jalanan, tetapi posisi finansialnya gk bergeser maju sama sekali.
Source : https://t.co/YnzpIZpO3L
Gaya bermain yg kerap dicap kotor dan negatif dipeluk mesra oleh masyarakat pekerja di pinggiran Getafe sbg identitas, kebanggaan, sekaligus pemberontakan ekonomi.
Bukti bahwa kemenangan tak selalu harus diraih dgn kemewahan visual, melainkan dari ketangguhan pria2 garang berjersey biru yg menolak mudah kalah.
Tulisan saya tentang sang godfather dan maestro haramball itu sendiri: Jose Bordalas.
MURID BARU.
---------------
Guru : "Kamu anak baru? Namamu siapa?"
Murid : "Demitri Saklitunov"
Guru : "Kamu lahir di Rusia?"
Murid : "mBoten, kelahiran Sewon.. mBantul Bu.."
Guru : "Apa Bapakmu Dubes?"
Murid : "Bukan Bu, tukang ojek.."
Guru : "Ibumu kerjane apa?"
Murid : "Jual jamu gendong.."
Guru : "Siapa nama bapakmu?"
Murid : "Triyono.."
Guru : "Ibumu?"
Murid : "Sademi.."
Guru : "Namamu kok kaya orang Eropa??"
Murid : "Itu singkatan Bu, saDEMI dan TRIyono, Jadi Demitri..."
Guru : "Ooowwh... Iha Saklitunov?"
Murid : "Saya lahir SABtu KLIwon TUJuh NOVember..."
Guru : "Terus panggilanmu???"
Murid : "DEMIT Bu.... 😰"
Salah satu final Liga Champions yang gilak menurutku ya ini
Atletico Madrid hampir juara, tinggal dikit lagi
Pertahanan mereka kokoh
Peluang BBC mentah semua
Lalu tiba2…
Salah satu magical night di final UCL
Dl nonton ga kalian? https://t.co/YMhiR2P2gp
Grup Djarum sering dipertanyakan soal komitmen mereka terhadap sepak bola Indonesia. Salah satu kritik yang paling sering muncul adalah kenapa Como nggak pernah mengorbitkan pemain Indonesia.
Jawabannya simpel: mereka terhalang regulasi.
Serie A punya aturan ketat soal pemain non-EU. Setiap klub hanya boleh mendaftarkan maksimal 2 pemain non-EU per musim, di semua kelompok umur. Mirwan Suwarso sendiri ngasih gambaran yang cukup jelas soal dilema ini:
“Let’s say Como ambil anak Indonesia umur 16 tahun, maka jatah yang tersisa untuk slot non-EU di tim utama tinggal 1, yang biasanya diisi pemain Brasil, Argentina, Uruguay atau Afrika yang secara pengalaman sudah terbukti.”
Artinya, kalau Como pakai satu slot buat pemain muda Indonesia, mereka harus rela mengorbankan satu slot untuk pemain berpengalaman yang bisa langsung berkontribusi di Serie A. Buat klub yang lagi berjuang membangun reputasi di level tertinggi Italia, itu bukan trade-off yang mudah.
Yang menarik, Mirwan juga meluruskan satu hal. Meski slot pemain non-EU jadi penghalang, bukan berarti Como menutup pintu buat orang Indonesia sama sekali. Justru sebaliknya, Grup Djarum melalui Mirwan Suwarso memilih jalur lain: mengorbitkan pelatih muda, analis, dan staf profesional Indonesia ke dalam struktur klub.
“Kita lebih memilih untuk memberikan banyak kesempatan pada pelatih dan analis. Ada salah satu analis kita orang Indonesia, anak Bandung. Kurniawan juga pernah jadi asisten pelatih di sini. Dari tim media sosial dan tim produksi juga banyak dari Indonesia, kurang lebih ada 11 orang anak Indonesia yang saat ini berada dalam tubuh tim.”
Jadi bukan nggak ada kontribusi untuk Indonesia. Jalurnya beda aja, bukan lewat lapangan, tapi lewat ruang analisis, ruang pelatihan, dan balik layar.
Jadi sebelum nuduh Group Djarum nggak cinta Indonesia, mungkin worth it buat pahami dulu sistemnya. Nggak semua hal bisa diselesaikan dengan niat baik kalau regulasinya nggak mendukung.
Ada yang masih ingatkah berita viral tahun lalu, saat akun Instagram SMK PGRI Lubuklinggau mencuri perhatian publik setelah mengunggah ucapan selamat untuk dua alumninya yang diterima bekerja di minimarket?
Respons publik terhadap unggahan tersebut cukup beragam; meski banyak yang memuji sikap sekolah, ada pula yang justru meremehkan karena menganggap profesi (kasir) karyawan minimarket bukan termasuk karier impian yang cukup layak untuk diapresiasi seperti halnya ASN, TNI, Polri, dll..
Pandangan sinis semacam itu sebetulnya persis apa yang dialami oleh tokoh bernama Keiko Furukara dalam novel CONVENIENCE STORE WOMAN (GADIS MINIMARKET) karya Sayaka Murata.
Keiko adalah sosok wanita dewasa berumur 36 tahun yang telah bekerja di sebuah minimarket (konbini) hampir sepanjang hidupnya. Ia mulai bekerja di sana sejak usianya 18 tahun dan menjadi karyawan angkatan pertama saat minimarket itu baru dibuka.
Bagi kebanyakan orang, kehidupan Keiko dianggap tak normal. Mereka menganggap, pada usia matang tersebut, idealnya Keiko sudah menikah dan memiliki pekerjaan tetap, bukan malah melajang dan menjadi pekerja paruh waktu, apalagi di minimarket.
Apa yang dialami Keiko, begitu pun alumni SMK yang diterima bekerja di minimarket, merupakan bias pandangan masyarakat dalam menilai dan memberi label normal dan abnormal. Di samping itu, masalah yang tak kalah pelik dalam kehidupan bersosial ialah tuntutan masyarakat yang menginginkan seseorang berlaku sesuai dengan "standar" tidak resmi yang mereka buat sendiri.
“Dunia normal adalah dunia yang tegas dan diam-diam selalu mengeliminasi objek yang dianggap asing. Mereka yang tak layak akan dibuang.”
Gagasan tentang menghargai pilihan setiap individu tanpa memandang jenis pencapaian mereka, sejatinya juga selaras dengan filosofi pendidikan yang dikembangkan oleh Alexander Sutherland Neill dalam bukunya yang populer berjudul Summerhill School. Summerhill, sebuah sekolah alternatif yang didirikan Neill pada 1921 di Inggris, menekankan kebebasan, kebahagiaan, dan penghargaan terhadap individualitas siswa. Neill percaya bahwa para siswa dapat berkembang dengan baik ketika mereka diberi kepercayaan untuk membuat pilihan sendiri dan dihargai sebagai individu, bukan dinilai berdasarkan standar akademik atau sosial yang kaku.
Dalam bukunya itu, Neill menulis bahwa tujuan pendidikan bukanlah mencetak siswa yang seragam, tetapi membantu mereka menemukan jati diri dan potensi unik mereka. Ia menentang sistem pendidikan yang terlalu menekankan prestasi akademik dan kompetisi, karena hal tersebut sering kali menghancurkan kepercayaan diri siswa yang tidak sesuai dengan standar tersebut. Sebaliknya, Neill mendorong pendidik untuk memberikan afirmasi positif dan menciptakan lingkungan di mana siswa merasa diterima apa adanya.
Langkah kecil yang diambil oleh SMK PGRI Lubuklinggau ketika mengunggah ucapan selamat kepada alumninya, seolah-olah mencerminkan semangat Summerhill dalam beberapa cara. Pertama, dengan mengapresiasi lulusan yang bekerja di minimarket, pihak sekolah menunjukkan bahwa mereka menghargai pilihan personal setiap siswa, seperti yang diadvokasi Neill. Kedua, sekolah menciptakan suasana yang mendukung perkembangan psikologis siswa dengan menunjukkan bahwa setiap langkah menuju kemandirian adalah prestasi yang patut dirayakan. Hal ini sejalan dengan pandangan Neill bahwa kebahagiaan dan rasa percaya diri siswa lebih penting daripada konformitas terhadap ekspektasi masyarakat.
Meski begitu, segelintir komentar negatif dari beberapa warganet dalam menilai unggahan viral tersebut, menunjukkan masih adanya stigma sosial terhadap pekerjaan tertentu. Oleh karena itu, sekolah, institusi, dan juga KITA, perlu terus mengedukasi masyarakat bahwa seyogianya keberhasilan tidak hanya diukur dari status atau gaji, tetapi dari tanggung jawab dan kontribusi pada masyarakat.
🚨 BREAKING NEWS 🚨
👤: "Gila, mahasiswa ITB akhirnya keluar dari zona nyaman dan turun ke jalan! Negara lagi darurat kah?!"
🧠: "Lebih parah dari itu..."
👤: "Hah? Rezim tumbang? Krisis ekonomi?!"
🧠: "Kagak, gerbang kampus dicoret pilox suporter, jalanan stuck total, mereka kelaparan gak bisa pesen GoFood 3 jam."