Karena cukup banyak informasi mengenai beasiswa (dari Amerika, Eropa, Asia Timur), twit ini akan disematkan di profil. Barangkali ada teman-teman yang membutuhkan informasi ini.
Semangat untuk rencana studi kita semua ya 😊
Untuk nyru beasiswa S-3 dan segala printilannya, perlu mulai dari mana dulu? Hubungi promotor? Bikin proposal? Atau malah administrasinya?
Ada yang mungkin bisa diajak ngobrolin soal beasiswa S-3? (Beasiswa apapun kecuali beasiswa Papa Mama) 😭🙏🏼
Seni di salon borjuis yang cuma bisa diakses orang sugih memang disukai penguasa, karena bisa kasih legitimasi "nih kami demokratis, tidak anti kritik."
Makanya mereka sampai mau keluar duit.
Coba seni eksplisit begini dipajang di ruang publik, apa mereka juga mau sponsorin?
ga lucu sih soalnya the fact dia bisa jadi advisor sedangkan isi exhibition-nya kayak gini seolah-olah bilang perjuangan kalian cuma sampai sebagai display and there’s nothing you can do about it
mark my words: selama masih ada orang-orang yang harga dirinya bisa dibeli semurah ini, this country will never go anywhere. presiden dan kroni-kroninya itu masih sangat mungkin menang lagi di 2029.
Menurutku kita perlu hati-hati sama narasi “inflasi pendidikan”. Karena kalau narasi ini diterima mentah-mentah, kesimpulan yang muncul bisa bahaya. Sekolah tinggi percuma, kuliah percuma, sarjana kebanyakan.
Padahal menurutku root cause-nya bukan itu.
Tesisnya kan kayak gini "problem utama Indonesia bukan kebanyakan orang kuliah, tapi terlalu sedikit pekerjaan formal dan produktif yang butuh orang berpendidikan tinggi""
Kalau mau bilang “inflasi pendidikan”, definisinya harus jelas dulu. Inflasi pendidikan itu terjadi ketika gelar makin banyak, nilainya makin turun, dan jumlah lulusan pendidikan tinggi jauh melebihi kebutuhan pasar kerja.
Indikatornya apa? berapa banyak penduduk yang benar-benar lulus perguruan tinggi? apakah pekerjaan formal cukup banyak? apakah industri, kantor, startup, pabrik, dan perusahaan produktif tumbuh cukup untuk menyerap mereka?
Nah, kalau lihat Indonesia, indikatornya belum cocok untuk bilang akar masalahnya adalah sarjana kebanyakan. Penduduk yang tamat perguruan tinggi 2025 baru sekitar 11%. Di tenaga kerja, D4/S1 ke atas juga sekitar 10,44%.
Jadi agak susah bilang “hampir semua orang bisa kuliah”. Faktanya, yang kuliah sampai lulus masih sedikit. enggak ada 20% dari total penduduk kita.
Yang lebih kelihatan justru sebaliknya. pekerjaan formal dan high-skill kita belum cukup banyak. Pekerja informal masih sekitar 59% dari total pekerja. Artinya banyak orang masih hidup dari kerja yang tidak stabil, tdk pnya BPJS, dan gaji layak.
Kalau pakai analogi Sim City, ini gampang kebayang. Kamu bisa bangun sekolah dan kampus, tapi kalau kotanya tidak punya cukup zona industri, kantor, dan bisnis, lulusan itu mau kerja di mana?
Masalahnya bukan sekolahnya kebanyakan. Masalahnya kotanya tidak cukup dibangun untuk menyerap orang yang sudah sekolah.
Itu yang menurutku terjadi di Indonesia. Anak mudanya disuruh sekolah tinggi, tapi setelah lulus, lapangan kerja formalnya sempit. Akhirnya perusahaan bisa bikin proses seleksi makin panjang, makin ribet, makin mahal buat pelamar, karena supply pelamar jauh lebih besar dari demand pekerjaan bagus.
Jadi kalau ada fresh graduate harus isi data panjang, online test berlapis, FGD, interview, psikotes, sampai MCU untuk posisi entry-level, itu bukan bukti bahwa pendidikan kita kebanyakan. Itu gejala pasar kerja yang timpang.
Dan di titik ini, menurutku jangan dibalik jadi menyalahkan anak muda yang kuliah.
Problemnya ada di kebijakan. Kenapa pemerintah? Karena yang bisa mengatur arah investasi, industrialisasi, perizinan, kualitas pekerjaan, dan belanja negara ya pemerintah. Bukan individu pencari kerja.
Contoh, daripada kebijakan populis seperti MBG dijadikan jawaban utama, menurutku lebih masuk akal kalau energi dan uang negara dipakai untuk membangun pabrik, industri, dan pekerjaan layak.
Kalau orang tua punya kerja yang layak, mereka bisa kasih makan anaknya sendiri. Mereka bisa sekolahkan anaknya sampai lulus. Anak itu juga punya peluang masuk lapangan pekerjaan yang lebih sehat.
Jadi kesimpulannya, jangan kejebak narasi “sarjana kebanyakan”. Sarjana kita masih sedikit. Yang kurang itu pekerjaan produktif, industri, perusahaan, dan kebijakan ekonomi yang serius menyerap tenaga kerja terdidik.
Yang harus diturunkan bukan aspirasi pendidikan rakyat. Yang harus dinaikkan adalah kualitas ekonomi dan jumlah pekerjaan layak.
Padahal jumlah lulusan pendidikan tinggi di Indonesia cuma 11% (data terbaru), jauh di bawah rata-rata OECD (hampir 50%), tapi udah bikin ‘inflasi’ gelar. Ini tandanya lowongan pekerjaan emang se-sedikit itu kah?
Jujur, rasanya masih menyesakkan setiap kali ada cerita tentang harapan yang pupus karena ketidakmampuan membayar UKT.
Jadi gini, sewaktu masih mahasiswa, kami pernah menggugat ketika UU Dikti disahkan oleh DPR (sebelumnya UU BHP berhasil dicabut setelah judicial review di MK).
Tapi sayangnya, perjuangan kami kandas. UU Dikti tetap menjadi legitimasi kampus untuk terus menaikkan UKT, khususnya mereka yang menganut PTN BH.
Untuk laki2 yang marah di reply, tolong alasannya jangan hanya karena mereka pendukung 02 atau netizen Tiktok ya.
Tapi karena memang itu salah satu bentuk pelecehan seksual, objektifikasi seksual, seksisme, merendahkan martabat perempuan, kekerasan seksual dalam patriarki, KBGO, & upaya membungkam perempuan yang berani berbicara di ruang publik. (15 bentuk kekerasan seksual: https://t.co/WQuTL6wKJf)
Ini ga hanya terjadi kepada perempuan cerdas, mahasiswa, & berjilbab. Tapi hampir ke semua perempuan yang berani tampil, berpendapat, mengkritik, memimpin, yang berpakaian jenis apapun, baik di medsos ataupun real life. Pelecehan seksual digital ini sudah berlangsung sangat lama, sampai sekarang.
Perempuan dengan berbagai latar belakang sering alami komentar bernuansa seksual, body shaming, penghinaan, slut shaming, sampe ancaman kekerasan seksual hanya karena mereka perempuan. Karena masalahnya bukan soal politik semata, tapi penghormatan terhadap sesama manusia. Ini bisa terjadi kepada siapapun, termasuk keluarga kita sendiri, atau bisa juga kepada laki2 sendiri.
Semoga Fathimah ga baca pelecehan2 itu, biar dia tetap fokus perjuangkan kebenaran bersama teman2nya. Kita dukung & lindungi mereka sesuai kapasitas masing2. Kita kecam para pelaku sebagai sanki sosial/hukum, juga peringatan kepada orang lain & diri kita sendiri.
Skripsi kan emang tahapan belajar meneliti, bukan proposal pemerintah wkwk. Makanya hasil yg gk sesuai hipotesis pun bisa valid, karena tujuan utamanya BELAJAR. Not contributing directly to society ≠ useless, future researchers might learn from it/build on it👍
Jika jurnalis dan mahasiswa yg dibawa Wapres ini hanya diajak ke lokasi yang dianggap berhasil, bertemu narasumber yang sudah dipilih, dan tidak diberi ruang melihat dampak atau kelompok yang menolak proyek secara all side cover, maka kegiatan itu lebih dekat pada apa yang disebut dalam studi komunikasi sebagai managed perception atau guided narrative daripada pencarian fakta yang independen alias jadi alat propaganda.
Gap pendidikan di Indonesia kerasa banget pas liat masih banyak yg berpendidikan (tinggi) juga tapi ga paham manfaat demo. Andai duit mbg dipake buat upgrade kualitas pendidikan termasuk perguruan tinggi, 20 tahun lagi mungkin gap ini lebih kecil jadinya 😔
Cara membedakan aksi demo bayaran atau murni gerakan rakyat di Indonesia itu gampang banget.
Kalau demonya dijaga aparat, bahkan dibiarkan bebas berarti berpotensi demo settingan penguasa.
Kalau demonya dihalangi mati-matian sama aparat, bahkan disuruh bubar, itulah demo yang sesungguhnya demi kepentingan rakyat.
Ya allah diskusi bikinan mereka dibubarin aja kek tersakiti banget 😂
Warga nobar, bedah buku, gelar lapak buku aja diusirin berkali kali pada protes diem bae
@Big83717Dude@Anissa1Q@RidhaIntifadha Silahkan dibaca, perhatikan betul2 trutama Chapter 4
Stunting tdk akan selesai hanya dengan memberi makan, problemnya kompleks
Jadi penanganannya tidak sesederhana hanya dg memberi makan, apalg klo tdk tepat sasaran
https://t.co/h8fotQrbRH
“Citra UGM dirusak oleh mahasiswa yang tidak tahu caranya berdiskusi.”
Orang-orang yang hari-hari tiap memperkenalkan diri dari UGM pertanyaan selanjutnya selalu soal ijazah: