Salah satu kultur baik tiap pergelaran Piala Dunia adalah bagaimana ruang publik dan jalanan bertransformasi menjadi ruang sosial tempat para fans berkumpul, bernyanyi, dan merayakan sepakbola.
Sepak bola dan ruang publik menjadi instrumen pemersatu lintas bangsa, menyatukan orang-orang dari berbagai negara untuk berkumpul dan bersuka cita.
Transformasi sosial ini menjadi legacy Piala Dunia yang paling abadi
Kata Ustaz Felix soal Mahasiswa & Pemerintah:
- Mahasiswa itu paling jernih belum punya kepentingan
- BEM tandingan = lucu, enggak akan makan
- Kritik = tanda sayang, bukan tanda benci
- Kesalahan terbesar pemerintah: cara komunikasi, bukan programnya
- Rupiah melemah karena investor tidak percaya kepercayaan didapat, bukan diminta
- Negara yang matiin kritik = tubuh tanpa rasa sakit bahaya, bisa mati tanpa sadar
Bagaimana menurutmu?
Bikin geleng-geleng kepala! Bisa-bisanya uang negara dihamburkan buat biaya dapur MBG siluman yang dibangun di tengah hutan sawah hingga kuburan.
Tak tanggung-tanggung, temuan investigasi dari 300 lebih titik dapur MBG di Cilacap 100 diantaranya fiktif.
orang tuanya di miskinkan anaknya diberi MBG
Alangkah baiknya...
orang tuanya diberi pekerjaan agar anak nya bisa sekolah dan kasih makan bergizi
Para otak kebalik Klean emang super dungu
Bayangkan..
Dalam bbrp bulan ke depan bisa terjadi krisis kesehatan 😣
Pemda tidak lagi mampu membayar tanggungan BPJS krn tidak ada dana & efisiensi.
Sementara pemerintah pusat yg pernah berjanji mnggelontorkan dana sebesar 20T, apakah sudh terealisasi?!
Ironis Kan?
MBG sehari 1.2T dijabanin
BPJS 20T hanya janji.
Sementara rakyat diajak Bela MBG mau2 aja.
Woiii... Bbrp bulan ke depan, bisa aja anggota keluarga kelen tidak terganggung kesehatannya. 😤
selain shinkansen, biomimikri yang juga bikin aku berkesan adalah baju renang olimpiade.
tau ga, dulunya baju renang yang oke tuh kudu licin biar minim gesekan sama air.
tapi sayangnya, tubuh manusia sering bikin pusaran air kecil di belakangnya. karenanya energi bisa terbuang untuk melawan hambatan itu.
nah, akhirnya para peneliti menemukan fakta kalo kulit hiu yang keliatan licin gada hambatan ternyata ga semulus itu guiss~
kulit hiu tuh punya yang namanya Dermal Denticles yang bentuknya kek sisik kecil semacam gigi. dengan itu hiu bisa berenang lebih efisien.
akhirnya dibuatlah baju renang dengan meniru kulit hiu. hasilnya struktur itu bisa mengarahkan air, minim turbulensi, minim hambatan.
yang mulanya kita kira kalo mulus dan licin bikin berenang lebih efisien, ternyata kurang tepat. justru yang permukaannya ada struktur gitu malah lebih oke.
ini kulit hiu:
😢🤗
Selama 30 tahun, seorang ibu asal Ethiopia bekerja di Lebanon demi memberikan kehidupan yang lebih baik bagi putranya. Jauh dari keluarga dan kampung halaman, ia menjalani semuanya dengan satu harapan: melihat anaknya meraih masa depan yang lebih cerah. Saat akhirnya pulang, ia mendapat kejutan yang tak pernah dibayangkan. Pilot yang menerbangkan pesawatnya ternyata adalah putranya sendiri. Sebuah pertemuan yang menjadi simbol pengorbanan, keteguhan, dan cinta seorang ibu yang tak pernah pudar.
sc : ig oletvoids
Bayangin lo baru aja berhasil nyatuin negara yang nyaris pecah jadi belasan negara kecil.
Gara-gara lo, negara itu utuh lagi.
Presiden percaya, lo diangkat jadi perdana menteri.
Eh, 6 bulan kemudian kabinet lo kalah voting di parlemen.
Apa yang lo lakuin?
Kalo politisi jaman sekarang: nyari celah hukum, reshuffle internal, lobi sana-sini, atau diem-diem dikasih kursi baru biar tetep di lingkaran kekuasaan.
Mohammad Natsir?
Dia langsung balikin mandat ke presiden.
Pulang. Ga ada drama, ga ada manuver.
Ini ceritanya.
Di pesawat menuju ke Jepang, sy pake kerudung, saat nya pembagian makan, pramugari nya menyapa dengan ramah " pardon mam, i choose you the halal one, because another menu with pork slice on salad, so i recomend you this menu or this", sambil dia nunjuk ke menu yg udah dibagiin, sy ga nanya,
dia yg tiba2 dengan ramah nunjukin, ga ada wajah judgement, krn itu sdh standar internasional ttg memilih menu, krn saat ke orang india, mereka pun jelasin ttg veggie dan non veggie, ga nyinyir, ga judgement
Bbrp kali msk ke Resto2 di Jepang, kalau sekiranya ada menu Pork, kita ga nanya pun, mereka kasih info sejelas2 nya, juga ttg piring, alat masak ga di pisah and the bra and the bru, saat kita ga jadi, muka nya ga kaya ngenye, ya mereka tau kita ga bisa makan itu,
kalau ada menu yg dimasak pake mirin, dijelasin, nah di Resto seafiod mentah ini, cocolan nya harus nya pake mirin, dan mrk menyediakan yg versi halal, sampai piring2 pun mereka blg untuk muslim, ada khusus, jelasin nya pake senyum!!
cc:threadsusibudizahra2
Mental Pecundang:
Yang berkuasa, mereka.
Yang membuat kebijakan, mereka.
Yang melaksanakan, mereka.
Yang korup, anggota mereka.
Ketika semua berantakan, yang disalahkan: asing, aseng, oseng, Yaman, Soros, Singapura, mahasiswa, UGM, UI, Anies Baswedan, PDIP, rotasi bumi, arah mata angin, kutub utara, kutub selatan.
Pokoknya semua salah, kecuali mereka.
Source : thread heri subakti
Sumpah ya, tiap kali inget perjuangan Dr. Carina Joe pas nemuin formula produksi massal vaksin Oxford AstraZeneca tuh bawaannya pengen ngelus dada sambil geleng-geleng kepala.
Bayangin aja, dunia tuh sempet gempar pas pandemi kemaren karena ada teknologi yang bisa nyelametin miliaran manusia lewat vaksin. Tapi yang bikin miris, salah satu otak paling jenius di balik suksesnya produksi massal vaksin Oxford AstraZeneca itu ternyata perempuan asli Indonesia.
Luar biasa bgt emang, beliau ini yang megang paten utama buat teknologi manufaktur skala besar, makanya itu formula vaksin bisa diproduksi cepet, murah, dan langsung disebar ke seluruh penjuru dunia pas kita lagi sekarat-sekaratnya kemaren.
Tapi ya tahu sendiri lah ironinya gimana. Bakat sama otak se-encer Carina Joe ini boro-boro dapet karpet merah di negeri sendiri, yang ada malah dicuekin.
Sebelum doi sukses di level global, kenyataan di lapangan tuh emang pahit bgt buat para peneliti lokal kita. Dana riset dikiit bgt, ditambah infrastruktur lab bioteknologi di Indonesia yang emang seadanya dan bikin stres.
Alih-alih dapet support penuh buat ngembangin ilmu kedokteran canggih di tanah air, doi akhirnya mutusin buat merantau ke Australia, sampe akhirnya malah direkrut sama University of Oxford di Inggris buat nyelesaiin salah satu proyek medis paling kritis dalam sejarah modern manusia.
Berkat dedikasi dan kegigihannya yang gak ada obat, Carina Joe berhasil mecahin teka-teki besar yang bikin ilmuwan-ilmuwan barat pusing tujuh keliling, yaitu nemuin cara melipatgandakan sel produksi vaksin sampe puluhan kali lipat dari standar normal.
Gara-gara pencapaian yang bener-bener gila ini, doi langsung banjir berbagai penghargaan internasional bergengsi, termasuk dari Achievement Forum di London.
Jujur, kisah hidup beliau tuh bener-bener tamparan keras sekaligus sindiran maut buat dunia sains nasional kita yang masih sering kehilangan talenta-talenta terbaiknya cuma gara-gara fasilitas riset di dalem negeri msh minim bgt. Udah sukses di luar baru dideketin, klasik bgt wkwk. 😹
Anak tetanggaku nggak ikut les apapun.
Nggak les matematika. Nggak les Inggris.
Nggak les coding. Umur 10 tahun.
Sepulang sekolah main.
Ibu-ibu komplek sudah lama geleng-geleng.
Di grup WhatsApp komplek, topiknya selalu sama. Anakku baru mulai les piano. Anakku ranking 1 lagi, Alhamdulillah. Anakku ikut olimpiade sains minggu depan. Ibunya si anak itu diam saja. Nggak pernah posting apapun.
Arisan komplek bulan lalu.
Seorang ibu nyeletuk langsung ke dia:
Nggak khawatir?
Anak sekarang kalau nggak diasah dari kecil,
nanti ketinggalan.
Ibunya senyum. Di asah kok. Tapi caranya beda. Di asah gimana? Les apa? Bukan les. Aku ajak dia ngobrol setiap malam. Beberapa ibu saling pandang.
Ngobrol doang? Iya. Tentang apapun yang dia mau ceritain hari itu. Aku nggak boleh pegang HP waktu dia ngobrol. Aturannya cuma itu. Ruangan mulai senyap.
Terus anaknya nggak ketinggalan pelajaran? Kemarin gurunya nelpon. Semua menunggu. Pasti ada masalah, pikir mereka.
Gurunya bilang, anakku satu-satunya murid yang kalau ada teman kesulitan dia yang pertama nawarin bantuan. Bukan karena disuruh. Tapi karena dia mau. Gurunya bilang itu langka sekarang. Satu meja. Senyap.
Ibu yang tadi nanya anaknya ikut 4 les sekaligus. Senin matematika. Rabu Inggris. Jumat coding. Sabtu piano. Minggu lalu anaknya nangis di mobil sepulang les. Bilang capek. Bilang nggak mau sekolah lagi. Dia nggak cerita itu di grup.
Yang paling membekas adalah ini. Aku tanya ke ibunya setelah arisan bubar: Bu, nggak takut anak ibu nggak bisa bersaing nanti?
Dia jawab pelan: Aku lebih takut anakku bisa bersaing — tapi nggak tahu caranya berteman. Bisa juara — tapi nggak tahu caranya mendengarkan orang lain. Pintar — tapi kesepian. Itu yang aku takuti. Bukan nilai rapornya.
Aku pulang arisan. Anakku lagi hafalan perkalian untuk persiapan les besok. Aku tanya: Hari ini gimana, Nak? Dia jawab nggak sambil liat aku. Fokus ke buku. Aku nggak ingat kapan terakhir kali dia cerita sesuatu ke aku dengan mata berbinar.
Ibu itu nggak anti les. Nggak anti prestasi. Dia cuma nggak mau anaknya tumbuh jadi orang yang bisa segalanya - tapi nggak punya siapapun untuk diajak berbagi. Dan malam itu aku sadar - aku sibuk membentuk anakku jadi juara. Tapi lupa nanya: juara di mata siapa?
cc:threadlilydes2026