“Rasa ini tak kenal kadaluwarsa. Tak perlu selamanya, cukup sampai ujung usia. Lewati susah senang, pantang menyerah. Karena aku menyayangimu
Tanpa karena”
.
— Tanpa Karena (2015)
Balas twit ini dengan: Bayangkan satu ruangan amaaat luas. Di dalamnya fasilitas apa pun lengkap. Di ruangan itu, waktu tidak berjalan. Kamu masuk sore ini, di dalam situ selama setahun, ketika keluar pun masih hari sore ini.
Apa yang akan kamu lakukan di ruangan itu?
*Survei
Silakan dibaca novel kolaborasi kami: #rantai. Ditulis empat penulis secara bersambung tanpa tahu bagaimana akhir cerita nanti. Tidak ada panduan. Semua akan mengalir begitu saja. Bisa dibaca gratis menemanimu yang fokus di rumah saja. Episode pertama:
https://t.co/eCMvXah4K0
Saat yang lain bersembunyi, kau lantang pasang tubuh. Demi napas yang lain, kau pertaruh segala aman dirimu. Kau ambil semua risiko yang bisa menghabisimu. Kau sesungguhnya, pelindung yang tak terhitung harga. Kau sejatinya, yang paling mencintai manusia. Melebihi dirimu sendiri.
Barusan baca ini di Instagram, terus ngepoin akun mbaknya. Baru dua minggu lalu nikah, dan sekarang harus kehilangan ayahanda, seorang dokter yang berjuang untuk kesembuhan orang lain. Patah hati
Mereka yang ada di barisan paling depan melawan virus, sedang berjuang agar negara ini lekas pulih. Kata “terima kasih” saja rasanya tidak cukup membayar waktu, tenaga, dan nyawa mereka yang menjadi taruhan