Sidang PPKI 18 Agustus 1945, membahas langkah-langkah awal pembentukan negara Indonesia setelah Proklamasi.
Mereka mengesahkan UUD 1945, memilih Soekarno dan Mohammad Hatta sebagai Presiden dan Wakil Presiden, serta membentuk Komite Nasional sebagai lembaga perwakilan.
Sebelum rapat berlangsung, terjadi proses lobi oleh Hatta kepada tokoh-tokoh Islam untuk mencoret tujuh kata dalam Piagam Jakarta karena adanya keberatan dari tokoh-tokoh Indonesia Timur. Sehingga sila pertama menjadi berbunyi "Ketuhanan Yang Maha Esa", yang dicoret adalah tujuh kata "dengan kewajiban menjalankan syari'at Islam bagi pemeluk-pemeluknya". Demi persatuan negara yang baru lahir, tokoh-tokoh Islam akhirnya menyetujui perubahan tersebut.
Terpilihnya Soekarno dan Hatta sebagai presiden dan wakil presiden dilakukan secara aklamasi atas usulan Otto Iskandardinata dari Jawa Barat. Seluruh peserta sidang menyetujui pemilihan dengan aklamasi, tanpa pemungutan suara.
Sedikit ulama (lintas mazhab) yang membolehkan pernikahan antara muslim dengan perempuan ahli kitab (Yahudi-Nasrani). Lebih sedikit lagi yang memutlakkan 'perempuan ahli kitab' ini, yaitu baik dari generasi dimana kitab suci mereka orisinil atau sudah diubah (soal ini, perbincangannya panjang, ya).
Tapi rekan-rekan liberal (dari Jaringan Islam Liberal), sejauh yang saya tahu, membolehkan pernikahan lintas-agama. Karena pernikahan itu soal cinta dan hubungan sosial-biologis, jadi tidak perlu dikait-kaitkan dengan agama.
Saya tidak sedang berkontroversi, tapi saya ingin mencari tahu bagaimana Gen-Z melihat pernikahan. Karena generasi saya (milenial) sedang memanas perbedatan soal ini.
Ada yang membaca ini dari Gen-Z? Bagaimana menurut kalian?
Titik dua (:) mengantarkan perincian. Titik koma (;) memisahkan bagian kalimat yang setara.
Titik dua bisa diganti dengan “yaitu”.
- Saya aktif di tiga medsos: X, Instagram, dan LinkedIn.
- Saya aktif di tiga medsos, yaitu X, Instagram, dan LinkedIn.
Titik koma bisa diganti dengan konjungsi.
- Saya aktif di tiga medsos; dia aktif di semua medsos.
- Saya aktif di tiga medsos, sedangkan dia aktif di semua medsos.
pak faiz tadi ditanya audiens: “apa kalimat yang tepat, yang pengin didengerin orang2 yang lagi berduka?”
dijawab: “gak ada. gak perlu. mereka gak butuh itu. diam saja. kalau mau membantunya, pastikan aja kalau kamu selalu ada.”
Peluluhan KPST terjadi juga pada awalan nonformal:
- kirim → mengirim → ngirim
- pilih → memilih → milih
- sapu → menyapu → nyapu
- tulis → menulis → nulis
Pada kata berawal h, h bisa hilang atau bertahan:
- hitung → menghitung → ngitung
- hajar → menghajar → ngehajar
Dalam bahasa Inggris, simbol @ umumnya dibaca “at” (di) sehingga dikenal dengan nama "at sign".
Kita belum punya nama resmi untuk simbol itu. Bahasa Spanyol menyebutnya "arroba". Bagaimana kalau kita serap saja?
Sebutan “aroba” lebih enak daripada “simbol di” atau “a keong”.
Sumber: https://t.co/rZ6PM5MLxj
Kita menyebut selotip seolah itu nama benda, padahal jejaknya berasal dari nama merek.
Bahasa sering bekerja seperti pita perekat. Ia menempelkan makna pada bunyi, lalu setelah lama melekat, kita lupa bahwa keduanya pernah terpisah.
Berapa banyak nama yang kita pakai setiap hari tanpa tahu siapa yang menciptakannya?
https://t.co/yuklUk9Bdl
#1213
Kacau sih mas sangat mengancam graphic designer
Tapi mau gimana lagi, mau sekeras apapun mengecam, pelan tapi pasti yang jago desain bakal kalah sama yang jago ngulik prompt
Ayo mulai improve skill lain guys, lebih baik menyalakan lilin daripada menggerutu di dalam gelap.
4 cara maksimalin ChatGPT Images 2.0 yang 99% orang belum tau.
Gw udah test semua. Hasilnya bikin gw sadar: ini bukan tools buat main-main.
Ini tools yang bisa lo monetize.
Save dulu buat dicoba nanti
Berbela sungkawa tanpa perlu berasumsi. Berempati tanpa perlu memuaskan rasa penasaran. Doakan tanpa perlu bergunjing. Turut berduka cita yang terdalam 🥀