Mungkin ada yang belum tahu kalau kita bisa membaca artikel-artikel dari majalah The Economist secara GRATIS dengan cara mendaftar sebagai anggota perpustakaan digitalnya British Council. Setelah mendaftar keanggotaan, kita tinggal mendownload app pressreader dan sign in menggunakan kartu kita.
Bukan hanya The Economist, tapi kita bisa mengakses dan membaca gratis banyak majalah dan koran-koran dari berbagai negara. Tidak hanya topik politik atau bisnis, bahkan sampai ke topik tentang hewan, gardening, architecture, travelling, entertainment, cooking, dst.
Contohnya ini yang aku pinjam (lihat gambar 3 & 4)
Your tattoo isn’t just decorative ink: it’s a permanent trigger that keeps your immune system locked in a lifelong cycle of chronic inflammation.
As soon as the ink is injected into your skin, your body recognizes the pigment particles as foreign invaders. Immune cells called macrophages immediately swarm the area and attempt to swallow them up. But because they can’t actually break down the ink, the macrophages eventually die, releasing the pigment back into the surrounding tissue — only for a new wave of macrophages to arrive and repeat the process.
This endless cycle is what keeps the tattoo permanently visible, while also maintaining a state of ongoing, low-level inflammation in the skin.
Over time, some of these ink particles migrate through the lymphatic system and accumulate in the lymph nodes, placing constant stress on the body’s defense mechanisms. Emerging research suggests this internal ink buildup may interfere with normal immune function, potentially reducing the effectiveness of certain vaccines, including mRNA types. Additionally, many tattoo inks contain heavy metals like nickel and cobalt. Combined with the chronic inflammation, this has been linked to a modestly elevated risk of lymphoma and skin cancer.
While tattoos remain a powerful form of self-expression, they represent a complex, decades-long biological conflict between your immune system and foreign substances embedded in your skin.
[Nielsen, C., Jerkeman, M., & Jöud, A. S. (2024). Tattoos as a risk factor for systemic lymphoma: A population-based case-control study. eClinicalMedicine]
Winston Churchill fought his depression with bricks. He'd lay them for hours at his country home in Kent. He joined the bricklayers' union. And in 1921 he wrote about why it worked. It took psychology another 75 years to catch up.
He called his depression the "Black Dog." It followed him for decades. His method for fighting it back was as basic as it sounds: laying brick after brick, hour after hour.
Churchill spelled out his theory in a long essay for The Strand Magazine. People who think for a living, he wrote, can't fix a tired brain just by resting it. They have to use a different part of themselves. The part that moves the eyes and the hands. Woodworking, chemistry, bookbinding, bricklaying, painting. Anything that drags the body into a problem the mind can't solve by itself.
Modern psychology now calls this behavioral activation. It's one of the most-studied depression treatments out there. Depression sets a behavior trap. You feel bad, so you stop doing things, and doing less means less to feel good about. Feeling worse makes you do even less. The loop tightens until you can't breathe inside it.
Behavioral activation breaks the loop from the action side. You schedule the activity first, even when every part of you doesn't want to. Doing it produces small rewards: a wall gets straighter, a painting fills in, a messy room gets clean. Those small rewards slowly rewire the brain. Action comes first, and the feeling follows.
Researchers at the University of Washington put this to the test in 2006. They studied 241 adults with major depression and compared three treatments: behavioral activation, regular talk therapy, and antidepressants. For the people who were most severely depressed, behavioral activation matched the drugs. It beat the talk therapy. A 2014 review of more than 1,500 patients across 26 trials backed up the result.
Physical work like bricklaying does something extra on top of this. It crowds out rumination, the looping bad thoughts that grind people down during the worst stretches of depression. Bricklaying needs both hands and gives feedback brick by brick: each one is straight or crooked. After an hour you can see exactly how much wall you built. No room left for the mental chewing.
The line George Mack used in his post, "depression hates a moving target," is good poetry. The science behind it is sharper. Depression hates a brain that has somewhere else to be.
TRIK JAM TIDUR
BIAR PAS BANGUN GAK LEMES
1. Kalau lo harus bangun jam 7 pagi
Tidur di: 21.45 / 23.15 / 00.45 / 02.15
2. Kalau lo harus bangun jam 8 pagi
Tidur di: 22.45 / 00.15 / 01.45 / 03.15
3. Kalau lo harus bangun jam 6 pagi
Tidur di: 20.45 / 22.15 / 23.45 / 01.15
4. Kenapa jamnya aneh?
Karena tidur itu siklus (±90 menit),
kalau bangun di tengah siklus = badan lo
makin capek.
Jerome ketipu bandit franchise 38 Miliar
Jadi Jerome Polin pernah kerjasama dengan sesepuh bisnis fnb buat bikin brand Menantea, Jerome fokus di konten, si partner pegang operasional dan keuangan.
Si partner rutin kasih laporan keuangan dalam bentuk excel, dari data itu kondisi keuangan Menantea kelihatan profitable, Jerome ga pernah beneran cek mutasi bank, dia percaya sama data di excel.
Tahun 2023, tiba2 si partner bilang kalo kondisi keuangan menanti kurang bagus dan saldo di rekening habis, Jerome ngerasa janggal karena cabang Menantea udah banyak dan rame, selain itu laporan keuangan sebelum2nya juga kelihatan baik baik aja.
Ternyata uang dari pembeli hak franchise dan keuntungan Menantea dipake oknum itu buat kepentingan pribadi, total 38 miliar dana dari rekening Perusahaan dipindahkan ke rekening pribadi oknum sejak Menantea berdiri.
Jerome tadinya mau bawa ini ke meja hijau, tapi belum jadi karena biaya audit forensik ternyata mahal banget (sampai Rp500 juta), prosesnya juga lama dan ga jaminan uang kembali.
Jerome ga menyebut si oknum ini siapa, tapi dia orang yang sama yang nipu Alm. Babe Cabita. Si oknum juga rajin banget bikin franchise abal2 buat narik duit mitra di awal, padahal bisnisnya blm kebukti bagus.
Chelsea and Man City fans should be proud of losing 5-2 and 3-0 respectively.
They played good football to entertain everyone and that's the most important thing.
Those Who Paid the Ultimate Price
Di foto ini kalian bisa melihat seorang tentara El Salvador yang sedang menutup mata temannya untuk terakhir kalinya, setelah terlibat baku tembak dengan milisi komunis saat Salvadoran Civil War. Foto diambil oleh Claude Urraca, pada Maret 1984.
Tempo sudah seperti Detik. Informasinya benar, teks yang diunggah juga faktual, namun konteksnya dicerabut. Dan ini, sih, manipulatif namanya.
Boleh benci Gibran, namanya juga Wapres. Tapi Selvi, Bu Wapres yang sedang memberikan pidato, punya konteks "Anak PAUD". Dimana-mana, anak kecil setaraf PAUD memang harus main, bukannya dipaksa untuk bisa membaca (apalagi mikir rumis fisika).
Tapi social card-nya malah bilang:
"Jangan paksa anak bisa baca, nanti kehilangan masa kecil."
Seharusnya, teksnya begini:
"Jangan paksa anak PAUD bisa baca, nanti kehilangan masa kecil."
Begitupun untuk Gus Ketum. Pertanyaan Tempo ke Gus Yahya, kan, apakah Elham bakal dapat sanksi dari PBNU? Dimana-mana, hanya pengurus yang bisa disanksi oleh atasan. Kalau bukan pengurus, konteks hierarkinya macam mana?
Lantas, kenapa social card-nya begini:
"PBNU tak bisa jatuhkan sanksi untuk Elham Yahya."
Seharusnya, kan, begini:
"Bukan pengurus, PBNU tak bisa jatuhkan sanksi untuk Elham Yahya."
Perkara sanksi sosial, bukankah sudah banyak beredar betapa nyinyirnya gawagis dan nawaning NU terhadap Elham? Kenapa Tempo tidak memerhatikannya? Dari semua protes, kenapa pembingkaian "tak bisa menjatuhkan sanksi" dicerabut dari "hierarki kepengurusan"? Dan kenapa harus Gus Yahya?
Saya bukan penganut teori konspirasi, tapi saya juga nggak percaya dengan sebuah kebetulan yang terlalu rapi. Tempo (dan Detik) sudah sering melakukan ini. Jika bukan pola, lantas disebut apa?
Ada juga yang menormalisasi Tempo:
"Alhamdulillah kena framing. Yang penting Tempo gak salah. Perkara merasa diperlakuman tidak adil, atau di-framing, itu urusan kalian. Sebenarnya situasi ini diciptakan oleh kalian sendiri."
Bagaimana mungkin ketidakadilan dan framing jahat hanya menjadi urusan satu kelompok, sih? Perkara PBNU akhir-akhir ini jadi gremengan nasional, itu perkara lain. Hal itu tidak bisa membenarkan "fitnah."
Kenapa disebut fitnah?
Salah satu pilar demokrasi yang bernama "media" itu diharamkan mencerabut konteks pemberitaan dan membingkainya secara zalim seperti ini. Kedua hal ini masuk kategori hoaks alias fitnah karena merekonstruksi kisah secara sepenggal (partial truth). Maka, kesalahan terbesar Tempo (dan juga Detik) adalah melakukan "dua dosa" jurnalisme tersebut.
Tidak etis pilar demokrasi melakukan pembingkaian sejahat ini. Lebih jahat lagi jika memang dilakukan secara sengaja. Tak kalah jahat: memaklumi Tempo hanya karena sudah benci dengan PBNU atau Gus Yahya.
Mau heran, tapi ini Indonesia.