Ane dukung bli 🔥🔥 banyak noh orang pintar masih menganggap teori konspirasi itu gak penting coba lu buka tuh buku siapa itu Rocthchilds, siapa itu penanam modal internasional, siapa di balik WHO, siapa di balik PBB, kalok lu udah tau pasti lu malas buat hidup.
Ada satu paradoks yang menarik soal multilateralisme.
Justru di era unipolar, pasca-runtuhnya Tembok Berlin hingga awal 2000-an, multilateralisme berjalan paling maju. Sebab ada satu kekuatan, Amerika Serikat, yang cukup dominan untuk mendikte aturan main kepada dunia.
Hari ini, dengan AS yang kian isolasionis dan perselisihannya dengan Tiongkok yang meruncing, multilateralisme justru meredup. Lembaga-lembaga globalnya kehilangan taring, karena tak lagi ditopang oleh konsensus kekuatan tunggal.
Dan konflik-konflik terakhir, Gaza, Levant, Iran, Ukraina, mengkristalkan sesuatu yang lebih dalam. Ia menegaskan lahirnya multipolaritas baru yang sangat revisionis. BRICS mengonsolidasi diri dengan agenda merombak tatanan yang selama ini dikedepankan Barat. Dan semangat itu menjalar ke kekuatan menengah lain, termasuk Turki, Meksiko, Nigeria, bahkan Indonesia, yang ingin tatanan itu lebih adil bagi Global South.
Yang tadinya cair kini mengeras. Decoupling ekonomi AS dan Tiongkok memaksa multipolaritas menjadi jauh lebih terstruktur. Terlihat jelas: siapa kawan, siapa lawan, dan siapa yang berperan sebagai swing state.
Gejolak ini juga menaikkan premi risiko global. Para pemilik modal Barat, yang mengelola likuiditas sekitar USD 140 triliun, berkepentingan menggeser modalnya keluar dari titik-titik konflik menuju kawasan yang lebih aman, seperti Asia Tenggara. Dengan satu syarat: kepastian hukum.
Dan di sinilah peluang kita. Dunia yang retak membutuhkan interlokutor yang tepercaya. Asia Tenggara punya modal untuk itu. Dalam 2.000 tahun terakhir, konflik di kawasan kita merenggut kurang dari 10 juta jiwa, jauh di bawah Eropa yang mencapai ratusan juta. Dengan bentang 5.000 km, 700 juta jiwa, dan kekuatan ekonomi kolektif nomor lima dunia, kita cukup mumpuni untuk menjadi jembatan. Antara Barat dan dunia Islam. Antara Barat dan Tiongkok.
Dunia sedang mencari penengah. Modalnya sudah ada di tangan kita. Yang belum, barangkali, hanyalah keyakinan bahwa kita memang layak duduk di meja itu.
@dinopattidjalal@fpcindo
kata-kata ini sekarang?
1. Dulu bilang parsel, sekarang HAMPERS
2. Dulu bilang termos, sekarang TUMBLER
3. Dulu bilang bekas, sekarang PRELOVED
4. Dulu bilang ngamuk, sekarang TANTRUM
5. Dulu bilang loak, sekarang THRIFTING
6. Dulu bilang pagar ayu, sekarang BRIDESMAID
7. Dulu bilang ngerumpi, sekarang SHARING
8. Dulu bilang coklat pramuka, sekarang MAHOGANI
9. Dulu bilang sederhana, sekarang SLOW LIVING
10. Dulu serabutan, sekarang freelance
11. Dulu bilang utang, sekarang paylater
12. Dulu bilang gak punya duit, sekarang IN THIS ECONOMY
13. Dulu bilang kumpul kebow sekarang living together
14. Dulu bilang ikut-ikutan, sekarang FOMO
15. Dulu bilang pamer, sekarang FLEXING
16. Dulu bilang gaya-gayaan, sekarang AESTHETIC
17. Dulu bilang norak, sekarang TOO MUCH 😆
18. Dulu bilang pelit, sekarang FINANCIAL AWARENESS
19. Dulu bilang ngirit, sekarang MINIMALIST
20. Dulu bilang banyak alasan, sekarang BOUNDARIES 😂
21. Dulu bilang nganggur sekarang bilang gibran
22. Dulu bilang 19JT Lapangan Pekerjaan, Sekarang 19JT Pengangguran
FAKTA ANGGOTA PARLEMEN DI SENAYAN TERNYATA:
1. SMA = 63 Orang
2. D3 = 3 Orang
3. S1 = 115 Orang
4. S2 = 119 Orang
5. S3 = 29 Orang
6. NO IJASAH alias tidak sekolah = 211 Orang
Dan 280 juta rakyat diwakili oleh orang² gak berijazah ????
🤭