Halo, mas. Ikut nimbrung ya.
Aku harap diskusinya sehat dan berjalan baik.
Dari pengalamanku bekerja bertahun-tahun dengan data, sederhananya ada tiga level kerja dengan data:
1. Pengolah data
2. Penganalisis data
3. Pengambil keputusan berdasarkan data
Tentu tiga level itu masih bisa dipecah lagi menjadi pekerjaan yang jauh lebih spesifik.
Nah, sekarang masuk ke pokok diskusi.
Menurutku, data yang mas tampilkan masih berhenti di level pertama: mengolah data. Kalo cuma merujuk skor, maka pelatih Portugal di Euro 2016, Fernando Santos harus segera dipecat sesaat menjuarai turnamen karena hanya 1 kali menang di waktu normal. Absurd jadinya, kan?
Maka argumennya adalah... data skor mentah tadi perlu naik level: dianalisis.
Yuk ke sana.
Dua screenshot yang kulampirkan adalah starting 11 STY dan John Herdman. Coba aku (dan kita) jujur, dengan nama dan klub asal 11 pemain awal STY, apakah ekspektasi kita adalah Indonesia akan sampai sejauh Round 4 Kualifikasi Piala Dunia? Engga kan. Wong kita dibantai Irak 5-1 di match 1 round 2 masih cengar-cengir. Hehe.
Lalu, arus "mudik" pemain keturunan semakin banyak. Indonesia versi STY mulai mampu bicara di kualifikasi Piala Dunia. Artinya memang ada pengaruh positif pemain keturunan atas performa dan hasil Timnas Indonesia di lapangan. Mau bukti anomali? STY juga gagal di AFF terakhirnya saat bawa mayoritas pemain lokal. Fair point. Bisa nih jadi judul skripsi kalo ada yang mau ambil. 😂
Masuk ke JH, untuk level pencinta sepak bola, siapa yang gak kenal Ajax, Sassuolo, M'Gladbach dan Lille? Nah 4 pemain awal JH ada di sana. Mereka ada di ekosistem tertinggi sepak bola dunia, yaitu Eropa. Mereka gak perlu diajari dari awal. Logikanya sama seperti Australia ketika membawa C. Volpato ke Piala Dunia. Doi main di Sassuolo, datang membawa kualitas yang memang diharapkan langsung bisa dipakai di level Timnas.
Pendeknya, kalo mau membandingkan 10 pertandingan pertama STY dan JH, jangan cuma skor dan hasil ditampilkan, tapi kualitas skuad juga.
Lucunya, kalau kita mau pake skor saja sebagai pendekatan seperti yang mas jabarkan, perbandingannya malah bisa buat mas gak nyaman:
STY pernah menang 4-1 atas Malaysia dengan 1 pemain keturunan sebagai starter. Indonesia-nya JH kemarin bermain 0-0 melawan Malaysia dengan full team pemain keturunan. 🫣
Tapi aku juga gak mau terjebak. Indonesia kemarin bermain dengan 10 orang sejak menit ke-37. Nah, itu namanya konteks. Dan persis itu pula alasanku menganggap tabel skor 10 pertandingan saja belum cukup untuk membuat 1 kesimpulan kualitas seorang pelatih.
Pendeknya, mau gak mau diakui, ketika STY dikasih pemain keturunan, blio perform. Nah standar itu yang tidak melekat pada PK dan masih dicari oleh JH.
Well, opini pribadiku adalah ya gapapa JH bertahan sampai Piala Asia 2027. Pro kontra memang tapi cukup 3 turnamen bagi JH untuk membuktikan diri. Kalo gagal di 3 turnamen ini, ada baiknya PSSI segera mencari penggantinya setelah Piala Asia. Gak wajib STY juga (karena aku tak ada di barisan WajibSTY). Kalau PSSI ingin profil yang sangat Eropa tetapi punya pengalaman di sepak bola Asia, ada banyak nama dan tipe pelatih yang bisa dipertimbangkan misal J. Klinsmann atau A. Postecoglou.
Karena pada akhirnya kita cuma sampai level analisis, maka kita cuma bisa menunggu pengambil keputusan dari data yaitu PSSI.
HAHA!
Yang terbaik buat Timnas Indonesia.
Peace, love and gaul
- Penonton setia Planet Remaja -
Apa yg dikatakan chef juna itu realita pahit yg terjadi di dunia nyata.
Untuk timku, aku selalu izinkan mereka kok asal jelas.
Tapi ketika aku d tempat kerja lain?
Aku udah skip ultah anak 2x
Ketika anakku sakit, aku baru smpt jemput ketika kelar kerjaan.
“Salahmu lanang”
Jadi inget cerita:
Saat kedatangan Beckham ke sebuah kota, seorang staf memasang spanduk bertuliskan
"SELAMAT DATANG DAVID BECKAM"
Tidak puas, bosnya marah.
Bos: "Beckam itu ada H-nya. Tolong perbaiki".
Staf: " Siap, diganti! "
Lalu, spanduk dipasang kembali dengan tulisan
"SELAMAT DATANG H. DAVID BECKAM"
Bos: "Masih salah, H-nya setelah huruf K!"
Staf: "Siap Pak! "
Besoknya spanduk dipasang kembali. Tulisannya:
"SELAMAT DATANG K.H.DAVID BECKAM"
Ada tanggung jawab yang datang untuk memperlihatkan seberapa luas pundakmu sebenarnya.
Tekanan sering terasa berat, dimana seolah hidup sedang meminta terlalu banyak.
Padahal justru karena langit tahu ada kapasitas besar yang dititipkan di dalam dirimu.
Mungkin hari ini kamu belum melihatnya. Mungkin kamu masih merasa goyah. Tapi belum sadar, bukan berarti tidak punya.
Pressure is privilege.
Sebab tidak semua orang dipercayai memikul hal yang besar. Tidak semua orang diberi ruang untuk bertumbuh lewat beban yang besar.
Dan Allah sudah lebih dulu menenangkan hati kita:
“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.”
QS. Al-Baqarah 2:286.
Tarik napas dalam. Tenangkan hati. Jalani pelan-pelan.
Kamu tidak dipilih untuk ini tanpa kemampuan.
Kamu Son Goku yang belum tau bisa jadi Super Saiya 1, 2, dan 3.