Buat yang belum tau, Argentina adalah negara satu-satunya di Amerika Latin yang mendukung Israel.
Disaat negara lainnya mengecam agresi Israel ke Gaza, Argentina sebaliknya mendukung hal tersebut. Bahkan negara seperti Brazil, Bolivia dan Kolombia kritis dan meminta serangan dihentikan segera.
Argentina ngga cuman ngedukung, tapi mereka membuka kedutaan besar di Yerusalem. Presiden Argentina Javier Milei sangat pro Israel.
Bahkan dia menyebut dirinya "Presiden paling zionis di dunia" dan berusaha membujuk negara Amerika Latin lain untuk menjalin kerjasama dengan Israel.
Tercatat Argentina punya sekitar 180 ribu keturunan Yahudi di negaranya. Jadi jangan heran kalau hal ini akan terjadi.
muslim to muslim :
olahraga itu bisa loh pake celana panjang hehe gamesti celana pendek. aurat pahamu itu lho.
muslimah to muslimah :
olahraga apapun bisa loh pake baju longgar hehe gamesti pake baju ketat membentuk tubuh. aurat kita itu lho
maaf ya barangkali ada yang belum tau☺️
(note : ini utk yg olahraganya di publik. kalo di rumah sih bebas aja ya)
Kalau kelen baca ini.
Sebenarnya ini alarm keras.
Masyarakat udah ga percaya sama pemerintah. TRUST sudah hilang.
Maka masyarakat pun makin ragu untuk membuka data aset mereka kepada pemerintah via sensus.
Yang bahaya di sini adalah:
Data-data jadi makin ga akurat
Kalau data ga akurat, kebijakannya juga jadi ga akurat.
Itulah pentingnya TRUST
Dan punya pemimpin yang bisa membangun TRUST.
Lewat di tl langsung bikin diem bentar. Merinding beneran denger doanya
“Jika bapak mengkhianati rakyat, maka saya orang pertama yang bersaksi di hadapan Allah SWT dan meminta melipat gandakan siksaan Bapak di Neraka”
UAH Kepada Prabowo.
Ngeri bgt, urusan amanah rakyat emang taruhannya langsung akhirat. Jangankan jd pemimpin, jd rakyat yg denger kalimat ini aja langsung deg-degan bgt 😭
Islam mengajarkan kita untuk tidak mendikte Tuhan. Hal ini biasa disebut dengan nama: suul adab.
Pengabulan doa dari Tuhan memang absolut sifatnya, tapi ia tunduk pada kerangka waktu-Nya, bukan pada "ambisi" manusia supaya dikabulkan.
Persoalannya, manusia tidak punya kapasitas untuk tahu kapan waktu terbaiknya, jadi manusia kerap tergesa-gesa menginginkan sesuatu untuk mereka, padahal di dalamnya terdapat keburukan (selain tergesa-gesa adalah perbuatan setan, ada tindakan seperti mendikte Tuhan di sana).
Seorang bijak pernah berkata:
لا يَكُنْ تَأخر أمَدِ الْعَطَاءِ مَعَ الإلحاح في الدُّعَاءِ مُوجِباً لِيَأْسِكَ، فَهُوَ ضَمِنَ لَكَ الإِجَابَةَ فِيمَا يَخْتَارُهُ لَكَ، لا فِيمَا تَخْتَارُ لِنَفْسِكَ، وفي الوَقْتِ الذي يُريد لا فِي الْوَقْتِ الذي تُرِيدُ
Inti hikmah ini: Tuhan menjamin pengabulan terhadap apa yang Dia pilihkan untuk manusia, bukan apa yang dipilih manusia untuk dirinya sendiri.
Itupun pengabulannya terjadi pada waktu yang Dia kehendaki, bukan pada waktu yang manusia mau.
Bukan berarti tidak boleh berdoa minta kelapangan rezeki, bahkan terjadinya tiba-tiba. Tentu saja boleh. Justru ketika kita meminta sesuatu yang kita pandang bermaslahat, kita harus yakin doa itu pasti dikabulkan.
Yang dilarang itu: memaksakan bentuk dan jadwalnya saja.
😅
(Sumber: Syarh al-Hikam al-'Athaiyah)
Meskipun ini ada di Islam, tapi realitanya:
- Hanya boleh diputuskan hakim setelah pengadilan (orang biasa ga boleh main bunuh sendiri).
- Dari hukum fikihnya sendiri ga bisa buat ini jadi gampang dilakuin, karena harus mendatangkan minimal 2 saksi laki-laki atau 4 saksi perempuan. Artinya si saksi harus jelas melihat langsung dan meyakinkan bahwa liwath itu terjadi. Ini nyaris gak bisa ditegakkan dalam ruang privat, kecuali jika si pelaku melakukannya di muka umum dan dilihat banyak orang (alhasil menjadi perbuatan cabul di publik, which is crime), berlaku juga untuk perzinahan hetero.
- Nuduh orang punya orientasi homoseksual aja ga cukup untuk dijadikan bukti terjadinya liwath. Jadi walaupun hukum hudud-nya ada, tapi proses agar terjadinya hudud itu dipersulit.
Romantisasi kemiskinan yang dilakukan umat Islam itu harus dihentikan.
Karena suka tidak suka, KEMISKINAN ITU DEKAT DENGAN KEKUFURAN
Orang yang miskin dan lemah itu lambat laun akan dijajah, baik secara fisik maupun ruhani.
Selain itu, umat Islam yang miskin dan lemah berisiko gagal melakukan banyak amal saleh yang pahalanya tinggi..
- Bayar zakat mal dan fitrah
- Pergi melaksanakan haji dan umrah
- Berqurban
- Memberi makan anak yatim
- Mensupport pesantren dan para ulama untuk berdakwah
- Mensupport para ulama menyebarkan dakwah
- Menguatkan amar ma'ruf nahi mungkar
- Membebaskan negara-negara Muslim dan masyarakat tertindas dari penjajahan.
Lihatlah kondisi umat Islam di Indonesia ini.
Bagai buih di lautan.
Jadi bemper dan mainan politik banyak orang.
Terpecah belah dan saling sikut gara-gara beda pendapat.
Sebagian tokoh agama bukannya melawan kezaliman, malah nyari pembenaran.
Kenapa?
Ya, karena lemah, tidak punya kekuatan ekonomi dan kekuatan politik.
Source gambar: https://t.co/6tOH0LE4BX
Sebenarnya siapa, sih, yang bilang kalau mengaku bermadzhab Syafi’i maka tidak boleh beramal madzhab lain?
Sehari-hari bermadzhab Syafi’i, lalu di banyak momen beramal madzhab Hanafi, Hanbali, atau Maliki itu tak masalah. Silahkan. Bahkan pengamalan Anda terhadap madzhab berbeda tidak pula merusak label ke-Syafi’iiyan Anda.
Dengan satu catatan, kuasai masalahnya. Kuasai aturannya. Kuasai hukumnya. Baru beramal.
Jangan sampai pakai narasi, “denger-denger di madzhab anu, boleh kok makan anjing…”
Denger-denger itu ga berlaku dalam agama. Kamu harus yakin, untuk boleh beramal.
Dulu, saya mengira petuah ini berasal dari Imam al-Ghazali. Karena kiai-kiai saya dan para dai sering menisbatkan petuah ini kepada sang Mujaddid.
Ternyata tidak, lebih tua dari itu.
Abu Yusuf al-Qadli, ulama fikih murid Abu Hanifah, wafat tahun 182 Hijriah.
Dalam kitabnya al-Radd 'ala Siyar al-Auza'i', ia mencatat gurunya, Abu Hanifah, pernah mengutip sebuah prinsip:
"Keliru memaafkan lebih baik daripada keliru menghukum."
Kutipan ini sudah ada, tiga abad sebelum Imam al-Ghazali lahir.
Bahkan ketika saya cari lagi, malah lebih tua.
Rasulullah SAW bersabda, sebagaimana diriwayatkan dari Aisyah r.a. dalam Sunan al-Tirmidzi no. 1486:
ادْرَؤُوا الحُدُودَ عَنِ المُسْلِمِينَ مَا اسْتَطَعْتُمْ، فَإِنْ كَانَ لَهُ مَخْرَجٌ فَخَلُّوا سَبِيلَهُ، فَإِنَّ الإِمَامَ أَنْ يُخْطِئَ فِي العَفْوِ خَيْرٌ مِنْ أَنْ يُخْطِئَ فِي العُقُوبَةِ
"Tolaklah hudud dari kaum muslimin semampu kalian; jika ada jalan keluar maka lepaskanlah ia; sesungguhnya keliru dalam memaafkan itu lebih baik bagi imam daripada keliru dalam menghukum."
Sumber: Sunan al-Tirmidzi no. 1486;
Imam al-Hakim, dalam kitab al-Hudud, mengomentari derajat hadis ini dalam al-Mustadrak:
هَذَا حَدِيثٌ صَحِيحُ الْإِسْنَادِ وَلَمْ يُخَرِّجَاهُ
"Ini hadis yang sanadnya sahih, namun keduanya (Bukhari dan Muslim) tidak meriwayatkannya."
Intinya, prinsip ini sudah ada sejak era Baginda Nabi. Dan Pak Mahfud mengutipnya.
Rakyat itu bisa ditertibkan oleh sistem, sementara penguasa ditertibkan oleh etik karena dia yg membuat sistem.
Orang yg sama, kalo dibawa ke luar negeri misal Singapore atau Jepang, pasti akan tertib. Sebaliknya, kita sering dengar perilaku ekspat dari luar even Jepang yg ngaco bgt karena tau di sini penegakan sistem/rules itu ga ketat.
Sementara penguasa, misal Xi Jin Ping, bawa ke Indonesia buat mimpin, bisa bagus ini negara. Tapi coba bawa Jokowi atau Prabowo ke China buat mimpin, ya bakal kayak negara ini nasibnya.
Sekali lagi, pemimpin itu subjek karena dia punya power, sementara rakyat itu objek karena dia bisa ditertibkan oleh sistem yg dibuat pemimpin.
Tahu kan Syekh Musyari Rasyid?
Banyak koq tilawah Al Quran beliau di youtube dan lumayan terkenal. Nah, beliau akhir² ini bikin kontroversi, pakai celana pendek di atas lutut di tempat gym trus fotonya diupload.
Apa gak aurat tuh?
Bentar-bentar... dalam khazanah fiqih -termasuk madzhab Syafi'iyyah- aurat laki-laki itu anggota tubuh 'antara' lutut dan pusar. Artinya, lutut dan pusar gak masuk aurat. Memang betul apa kata beliau ini.
Tapi masalahnya, selain hukum itu perlu diperhatikan tentang etika. Apalagi sekelas beliau. Maka etika itu perlu.
Memang lutut itu bukan aurat, tapi utk sekelas beliau gak pantas aja sih utk menampakkan lututnya, apalagi sampai diupload.
Buat orang yang paham data, pertumbuhan stabil 5 persen dari tahun ke tahun untuk ekonomi indonesia itu sangat mengerikan loh, kenapa?
Karena rupiah anjlok dia masi tumbuh.
Harga naik dia masi tumbuh.
Kelas menengah turun dia masi tumbuh.
Now gue ga bilang datanya salah, karena kalkukasi tuh bener, yang jadi pertanyaannya:
Kalau tumbuh terus siapa yang nikmatin?
Liat wealth gap makin naik tiap taun dah keliatan kok jawabannya :)
Saya kerja di pesantren. Yang saya tahu, bikin yayasan ponpes tuh relatif gampang. Apalagi kalau terafiliasi sama ormas hijau dan dapat rekomendasi dari Kiyai pondok ormas hijau yang sudah lama berdiri.
Soalnya kemenag diisi oleh orang-orang ormas hijau. Pengajuan juga perlu menambahkan rekomendasi ormas keagamaan.
Banyak ponpes-ponpes yang berdiri karena budaya di ormas hijau memungkinkan itu terjadi. Asal punya pondok, langsung disebut kyai. Kyai hampir “kebal kritik bahkan hukum” di masyarakat.
1 orang kyai bisa memiliki keturunan 3 gus. Masing-masing biasanya mendirikan ponpesnya sendiri di lingkungan ponpes bapaknya. Begitu terus sehingga 1 komplek ponpes bisa meluas dan membesar.
Kurang ketatnya filterisasi kyai dalam mengelola lembaga ponpes yang menjadi tempat tinggal ratusan santri bisa menjadi sangat berbahaya.
Lebih berbahaya dibanding kasus daycare kemarin karena di ponpes seorang santri bisa dapat jatah libur beberapa pekan saja dalam setahun. Ada banyak hal yang bisa terjadi dalam periode itu.
Semoga ada kebijakan yang lebih ketat dalam perijinan pendirian yayasan pesantren terutama terhadap personal pengelolanya. Dan semoga “ponpes & kyai” tidak lagi dikultuskan sehingga dianggap “saru” untuk dikritik dan menjadi kebal hukum.
Berlindung di balik agama untuk melakukan tindak kriminal, itulah yang seharusnya disebut menistakan agama.
nasionalisme indonesia itu dilahirkan en dikembangkan oleh para intelektual bukan tentara, sebab itu menjadikan tentara sbg rujukan pemahaman nasionalisme bkn saja gagal paham sejarah, tetapi juga mengerdilkan pemahaman nasionalisme indonesia