@yusuf_dumdum padahal cara melawan lagu dari sukatani band adalah dengan memperbaiki kinerja dan memberantas semua oknum biar lagunya jadi enggak relevan. eh malah kasih pembuktian kalau isipol brengsek wkwkwkw
Sssssttt…..🤫
Tadi malam ada info bocoran dari ordal, bocornya sangat alus : Tim setan medsos Genk Solo alias buzzer Raja Jamet selama seminggu terakhir ini mengadakan meeting maraton.
Tempatnya di salah satu hotel yg lokasinya tak jauh-jauh dari lokasi fu2fa2 dipergoki sedang teler (wartawan pasti tau). Denger-denger, disana ada lembaran kertas merah gambar Soekarno berkoper-koper.
Topiknya luar biasa,
1. Hembuskan isue HTI bangkit (going on)
2. Goyang Gas 3kg (going on)
3. Lempar Isue Bahlil nyalon Cawapres 2029-2034 (going on)
4. Ramaikan Isue Yakult Masiku (going on)
5. Gulirkan Isue F4 balon Capres 2029-2034 (coming soon)
6. Paling anyar, menciptakan kehebohan skandal palsu dengan AI terkait penistaan agama, perselingkuhan para tokoh lawan, pemuka agama, dll. (coming soon).
Semua kegaduhan itu diciptakan untuk meredam semakin kentjangnya desakan masyarakat terhadap tuntutan “Adili Jokowi”, kroni dan keluarganya yang semakin hari semakin kuat akibat terkuaknya sejumlah fakta “Kongkalikong Barter Kong Guan dengan PSN”.
Tak mungkin lagi penjarakan Said Didu dan Kholid Sang Nelayan Banten, keduanya terlanjur mendapat dukungan kuat masyarakat luas. Apalagi setelah tes ombak dengan panggilan polisi kemarin, masyarakat malah semakin panas dan buas.
Kini tambah lagi deretan saf baru berkumpul di sepanjang pesisir Desa Kohod, ada sejumlah nama tokoh masyarakat seperti Mantan Ketua KPK Abraham Samad, Ahmad Khozinudin sang penggugat Ijazah Palsu Jokowi, Edy Mulyadi Wartawan Senior FNN, sesepuh Muhammadiyah Din Syamsuddin, Eep Saefulloh Fatah, mantan Kepala Divisi Hubungan Internasional (Kadiv Hubinter) Polri Irjen (Purn) Napoleon Bonaparte, Sekjen Pengurus Pusat Aliansi Gerakan Reforma Agraria (PP-AGRA) Saifullah Wathoni, Ketua Umum (Ketum) Gerakan Nasional Pengawal Fatwa (GNPF) Ulama Yusuf Muhammad Martak, aktivis 98 Syahganda Nainggolan, dll.
Masalahnya bukan hanya sejumlah tokoh yg namanya disebut diatas, namun semakin hari ribuan massa dari berbagai pelosok Banten, Jakarta dan Bekasi tumplek juga disana.
Kini malam-malam Raja Jamet tak lagi senyaman saat masih tidur di kasur empuk Istana, apalagi setelah beberapa pentolan Kepala Naga mulai marah dan merasa dirugikan dengan situasi yang semakin memojokkan bisnis mereka.
Bahkan nama-nama yg tadinya tak terlihat kini mulai disebut-sebut oleh para tokoh, seperti nama Antoni Salim dan TW. Boleh jadi ini akan membuat para Naga semakin gusar dan menyampaikan fakta sesungguhnya dengan mengungkapkan apa yang sebenarnya terjadi dibalik tenda camping di hutan Kalimantan Timur, seperti pada wawancara dengan majalah Tempo beberapa waktu yang lalu.
Memang sungguh keterlaluan Si Raja Jamet ini, cungkring-cukring kaki kepiting, walau cungkring, tjapitannya mampu membuat kumpulan orang terkaya pusing tujuh keliling.
Pendusta di Tepi Laut
Seorang pendusta berdiri di tepi laut,
menatap ombak yang datang dan surut.
Lidahnya terbiasa melukis tipu,
menenun janji dari debu dan abu.
Angin berbisik membawa kisah,
tentang negeri yang karam di gelombang resah.
Namun ia tersenyum, penuh rencana,
menyulam nasib dengan dusta yang fana.
Anaknya kelak akan bertakhta,
duduk di singgasana dari janji hampa.
Dipahatnya takdir dengan kelicikan,
mewariskan kebohongan dalam genggaman.
Laut bersaksi, langit pun tahu,
darah dusta mengalir di nadi waktu.
Tapi ingatlah wahai penguasa,
air laut menyimpan semua rahasia.
@TimnasIndonesia@PSSI@PSSI emang kumpulan orang Pintar semua, kalo Indonesia gak Lolos Kualifikasi Piala Dunia 2026, Gue Minta SEMUA Pejabat EXCO & pengurus PSSI mundur semua & diaudit laporan keuangan semua pejabat EXCO & PSSI oleh @bpkri. Pendukung Timnas juga butuh transparansi @officialinews_
Keknya dari netizen dah cukup bahkan ada yg mau ngeberangkatin umroh dari Ustadz H. Muhammad Fakhrurrazi Anshar
Yang diperlukan skrng hanyalah nyali @Gerindra untuk usulin ke @prabowo spy membatalkan, memecat Miftah sebagai Utusan Khusus Presiden. Itu lebih penting!