Sonny Sonny Sonny. What can I say. We shared so many magical moments together on and off the pitch over the years. As a person and a player you deserved all the success you’ve enjoyed. One of the very best people in the game.
It gave me such joy to see you lift a trophy last season and no doubt you’ll be a success with your next steps. See you soon ❤️
PDIP dulu memang tempat Jokowi bernaung sekaligus pengusung utama beliau.
Tapi siapa yang tahu Pak Jokowi akan berbuat seperti hari ini? 😥
Waktu itu aktivis 98, akademisi hingga tokoh-tokoh LSM yg pro-Demokrasi berbondong-bondong mendukung Jokowi. Gelombang harapan waktu itu begitu besar.
Salah satu peraturan unik di Indonesia adalah bayar pajak kendaraan harus bawa KTP yang sesuai sama nama di STNK.
Nah kalo kita beli udah tangan ke 2-3-4 dst, dimana kita mau minjem KTP nya?
Padahal logikanya, kita ke Samsat adalah dalam rangka bayar pajak alias keluarin uang, bukan mau nyairin uang.
Da kalo emang kita ke Samsat mau nyairin uang, masih okelah dibikin aturan serumit ini.
Coba deh sekarang dipikir pakai pikiran yang jernih, kita ke Samsat ini mau setor uang loh, jadi warga negara yg baik demi pembangunan bukan mau nyairin uang, setidaknya hargailah niat baik kami.
Oiya, di luar sana banyak loh temen² Bapak/Ibu sekalian yang adain razia kendaraan & ditanya SIM & STNK, dan kalo diliat STNK kita mati pajak, otomatis apa? yakk ditilang
Sementara kita di Samsat mau bayar ga bisa alesannya ga ada KTP yg punya motor.
Belum lagi sudah ada KTP, tapi masih harus orangnya yang hadir sendiri atau harus pake surat kuasa.
Aturan aneh macam apa ini.
Oke, pasti bakal banyak yang komen "Balik nama lah, KTP itu diperlukan buat verifikasi keamanan kalo itu bukan kendaraan curian dsb dsb" okeeee... Tapi kenapa kalo pake calo 5 menit selesai? Bahkan gaperlu pake KTP lagi, hehehe
Lha? Yang disalahin pemudanya. Siapa suruh jadi negara yang selalu mandang remeh iptek, kreativitas, karya cipta, dan perlindungan kekayaan intelektualnya? 🤣
Game tuh lahir dari kebebasan kreativitas dan jiwa seni yang didukung sama teknologi dan lingkungan yang melindungi kreativitas itu dan kekayaan intelektualnya.
Negara yang ga invest di SDM (bukan cuma perkara skill) dan sarana-prasarananya (termasuk hukum) penunjang lingkungannya ga akan bisa ngehasilin itu. Alhasil cuma bisa keluarin peraturan gajelas kaya harus terdaftar di PSE, bikin perwakilan di Indo, dll.
Bertahun-tahun merdeka, udah ada contoh negara yang jadi maju gegara teknologi, karya seni dan kekayaan intelektualnya (film, anime, manga, musik) sampai jadi identitas industri masing-masing. Tapi pengambil kebijakan dan pengusahanya sibuk jadi yang paling serakah sama kekayaan alam, jadi mafia. Trus masyarakatnya juga jauh/dijauhin dari sains dan kesenian --cuma dikasih makan nilai moral kosong yang ga tampak di kehidupan bermasyarakatnya.
Masyarakat yang jauh dari sains, (ngembangin) teknologi dan kesenian kemudian dah terbiasa malas berpikir, jadi pecinta klenik & keajaiban, serta ngertinya duit cepet.
Di kelompok tertentu, budaya dan kesenian bangsa sendiri dilarang sama mereka 🤣 Cerita sejarah, cerita rakyat, lagu & tarian adat/tradisional, desain arsitektur adat, ga dipelihara (malah dikikis dan disesuaiin sama budaya asing yang lebih miskin/gersang). Anak mudanya asing sama budaya dan sejarah dalam negeri sendiri. Padahal semua itu modal paling berharga.
Ga cuma itu, balik soal kreativitas. Kelompok yang larang-larang tadi sebenernya ngebatasin kreativitas dan keragaman karya. Lalu dengan mental premannya, bakal ganggu ekosistem industri. Liat aja itu industri film/sinetron atau program TV Indonesia. Miskin ragam. Ga bersaing, orang di level regional aja itungannya sampah (kecuali film (movie) kali, ya? Industri yang dah mayan).
Dengan situasi begitu, produk-produk yang dijual dan dikonsumsi akhirnya juga cuma produk-produk hasil iptek dan karya seni luar negeri (biasanya dilabel ulang atau mentok nyontek/jiplak teknologi di baliknya). Iya, masyarakatnya cuma jadi seller (itu pun nyontek), re-seller, broker, atau konsumen produk asing doang.
Mau bikin perpres atau aturan dan program buat gim yang kaya apa juga bakal percuma.
Mana litbang yang mumpuni? Mana pendidikan yang merata? Mana revolusi mental buat SDM-nya? Mana jaminan kebebasan berekspresi/berkarya?
Lalu heran kok ga ada produk-produk penelitian dan perkembangan iptek dan karya seni yang bisa dijual/unggul/bersaing? Kesal kok duit lari ke luar negeri (bahkan talents-nya)? Nyalahin anak mudanya? As a bunch of stupid mthrfckrs, that's very bold of you.