Untuk yang komentar bahwa saya pendukung Presiden terpilih, tapi malah kena ancam dan dibuka data kependudukan. Ndak usah mbingung.
Dari kemarin, sudah banyak kawan yang wa dan call, mereka sama herannya "koq bisa?". Mereka lebih tahu saya dari soal sekedar mendukung. Bahkan ada kawan setingkat menteri pun bertanya2 "kerjaan siapa".
Saya cuma ingin sampaikan sebuah "clue" dari seorang wamen beberapa bulan lalu. Saat saya mangkel sekali ke seorang pejabat yang sontoloyo, agar ditegur, dan jawaban beliau "Orang-orang itu 'bos'-nya beda-beda, Bang".
Saya langsung teringat peristiwa saat pak DIS Menteri BUMN dan kawan saya salah satu Deputi di KemenBUMN. Waktu sy sampaikan ada direksi salah satu anak usaha BUMN yang ndak kompeten, dan kerjanya ndak jelas, agar dipecat saja. Jawabannya mirip "Fer, ngawur ae, itu orangnya pak xxxx".
Maksud saya, dalam kasus semacam yang saya hadapi ini, ndak bisa langsung telunjuk diarahkan "ini kerjaan pemerintah" sebagai lembaga atau menuduh ini Pembungkaman oleh kekuasaan.
Tapi saya yakin ini kerjaan salah satu "bos" atau "Big bos" yang kupingnya tipis ndak terima dikritik, atau tidak terima anak buahnya atau bonekanya yang menjabat dikritik, lantas memanfaatkan kewenangan yang dia punya atau relasinya, untuk membuka data kependudukan saya dan nomor HP saya, untuk mengancam.
Itu lah kondisi rill pemerintahan. Presidennya memang satu, tapi "bos-bos"nya banyak. Baik "bos besar", maupun kecil.
Ini lah tantangan sebenarnya di dalam Pemerintahan. Pilihan sistem politik dan pemerintahan yang Indonesia pilih.
Terakhir, karena situasinya demikan, maka warganet jangan malah takut bersuara karena ancaman2 dari "bos-bos" tersebut. Ketakutan kita malah akan merugikan, karena mereka akan makin sewenang-wenang.
Kritik saja terus, berisik saja terus. Sampai nanti, mana tahu, Presiden bertindak.
Selama bukan pelanggaran pidana seperti menyebarkan kabar bohong, hoaks, dan fitnah. Selama berbasis fakta, data, dan memang mewakili kegelisahan dan kecemasan publik atas kebijakan dan perilaku pejabat pemeritah, kritik saja terus/
---
Untuk kasus saya, terimakasih atas perhatian semua. Pasti ada tindakan yang saya ambil. Cuma memang kalau hanya kroconya yang dikejar, sementara "bos" di belakangnya tetap nyaman di kursi kekuasaan, tak tersentuh, ya akan tetap saja terulang.
Sekali lagi, jangan takut kritik.
Kalau makin banyak warganet yang diancam karena mengkritik, kalian aramai-ramai pisuhi saja akun @Gerindra, koq bisa di era pemerintahan mereka berkuasa malah kejadian seperti ini terjadi. Mention juga Fadli Zon, dan kader2 Gerindra lain yang dulu sebelum berkuasa kritis. Amuki saja. 😅
Salam
FK
Seorang siswa gagal menyelesaikan kompetisi OSN karena terjadi pemadaman listrik total di menit ke32 ketika pengerjaan soal.
Pemadaman berlangsung lebih dari 4 jam & memutus seluruh jaringan internet di beberapa kecamatan, sehingga data seluler pun tidak bisa digunakan untuk mengerjakan soal.
CC: nanad.0814
Guys, gue mau ceritakan kronologi kecelakaan kereta di Bekasi Timur secara detail karena dari semua yang beredar ada banyak informasi yang perlu disusun dengan benar.
Dan setelah lo baca semuanya gue yakin lo akan setuju bahwa ini bukan hanya tentang satu taksi yang salah tempat.
Kronologi menit per menit:
Senin malam, 27 April 2026. Sekitar pukul 20.40.
Sebuah taksi listrik jenis Green SM yang menggunakan armada Vinfast menerobos palang perlintasan kereta api di area Stasiun Bekasi Timur. Bukan karena ceroboh sembarangan.
Tapi kemungkinan besar karena pengemudinya berpikir masih sempat menyeberang sebelum kereta datang.
Tapi ada sesuatu yang tidak dia perhitungkan.
Dalam radius tertentu dari kereta yang mendekat rel kereta menghasilkan medan elektromagnetik bertekanan tinggi dari dinamo lokomotif.
Medan magnet ini bisa membuat sistem kelistrikan kendaraan mati total termasuk ECU atau electronic control unit yang mengontrol seluruh fungsi mesin.
Taksi listrik Green SM berhenti mendadak.
Tepat di atas rel.
Dan karena sistem keamanan baterai mobil listrik otomatis shutdown ketika mendeteksi anomali arus listrik mobilnya mengunci sendiri.
Tidak bisa didorong.
Tidak bisa dipindahkan.
Tidak bisa diapa-apain.
Warga panik.
Tidak ada yang bisa membantu karena memang secara teknis tidak bisa.
Lalu KRL pertama datang:
KRL Commuter Line menabrak taksi yang terjebak di atas rel.
KRL tersebut kemudian ditetapkan sebagai Perjalanan Luar Biasa dengan kode PLB 5181 artinya berhenti berdinas dan tidak bisa melanjutkan perjalanan.
KRL kedua PLB 5698 menuju Cikarang diperintahkan berhenti di peron Stasiun Bekasi Timur.
Menunggu.
Tidak bisa kemana-mana karena situasi di depannya kacau.
Dan di sinilah bencana sesungguhnya terjadi:
Dari arah Jakarta KA Argo Bromo Anggrek kereta jarak jauh Jakarta-Surabaya melaju dengan kecepatan tinggi.
Ada video yang beredar memperlihatkan sinyal di Stasiun Bekasi Timur masih berwarna hijau artinya jalur dinyatakan aman tepat sesaat sebelum tabrakan.
Masinis Argo Bromo melihat sinyal hijau.
Dia melaju.
Padahal di depannya KRL PLB 5698 sedang berhenti di peron.
Argo Bromo sudah mulai menurunkan kecepatan ketika menyadari ada sesuatu yang salah.
Tapi jaraknya terlalu dekat.
Kereta tidak bisa berhenti mendadak.
Fisikanya tidak memungkinkan.
Kereta dengan bobot ratusan ton yang melaju kencang membutuhkan jarak ratusan meter untuk berhenti total.
Tidak seperti mobil yang bisa ngerem mendadak.
Lokomotif Argo Bromo menembus masuk ke dalam gerbong belakang KRL yang sedang berhenti.
Dan gerbong yang paling hancur adalah gerbong nomor 12 — gerbong khusus perempuan:
Gerbong itu penuh dengan perempuan yang pulang kerja.
Ibu-ibu yang membawa cooler bag ASI.
Seorang perempuan yang baru selesai cuti melahirkan tiga bulan hari itu adalah hari pertamanya masuk kerja lagi.
Dan seorang perempuan lain yang sedang hamil hari itu adalah hari terakhirnya sebelum cuti melahirkan.
Penumpang terjepit di antara bangku dan badan gerbong yang penyok hancur berantakan. Ada yang terpental.
Ada yang nyangkut di atas.
Ada yang terjepit di bawah.
Proses evakuasi berlangsung belasan jam karena menarik lokomotif tanpa memastikan tidak ada yang masih terjepit di dalam bisa membunuh korban yang masih hidup.
Fakta korban yang terakhir dikonfirmasi:
15 orang meninggal dunia.
84 orang luka-luka.
10 jenazah masih dalam proses identifikasi di RS Polri Kramat Jati.
Evakuasi selesai pukul 08.00 pagi tanggal 28 April delapan jam setelah kejadian.
Soal sinyal hijau dan ini yang paling perlu diinvestigasi:
Kalau sinyal menunjukkan jalur aman saat KRL sudah berhenti di peron berarti ada kegagalan sistem yang sangat serius.
Sensor tidak mendeteksi keberadaan KRL yang berhenti.
Atau sensor mendeteksi tapi tidak mengubah sinyal.
Ini adalah pertanyaan yang harus dijawab oleh KNKT dalam investigasi resmi.
Dan jawabannya akan menentukan apakah ini murni human error dari sopir taksi atau ada kegagalan sistemik dari infrastruktur sinyal KAI.
Soal ormas yang tolak palang otomatis dan ini yang paling mengerikan:
Ada informasi dari netizen belum dikonfirmasi KAI bahwa palang pintu di lokasi itu masih manual dan tidak menutup semua jalur karena ada ormas yang menolak pemasangan palang otomatis.
Kalau ini benar maka pertanyaannya adalah: bagaimana sebuah ormas bisa memiliki kekuatan untuk menolak infrastruktur keselamatan di jalur kereta aktif yang dilalui puluhan ribu penumpang setiap hari?
Siapa yang mengizinkan itu?
Siapa yang membiarkan itu berlangsung?
Dan berapa lama kondisi itu sudah ada sebelum akhirnya menelan korban?
Soal Green SMdan ini yang blunder:
Pernyataan pertama Green SM setelah kejadian:
tidak ada permintaan maaf.
Tidak ada bela sungkawa.
Hanya menyatakan mereka sudah memberikan informasi kepada pihak berwenang dan siap mendukung investigasi.
Komentarnya dibatasi.
Netizen marah besar.
Baru kemudian Green SM mengeluarkan pernyataan kedua yang menyampaikan duka cita.
Dan soal Menteri PPPA yang usul pindahkan gerbong perempuan ke tengah:
Gue sudah bahas ini secara terpisah.
Tapi dalam konteks kronologi ini pernyataan itu menjadi lebih tidak masuk akal lagi.
Gerbong perempuan hancur bukan karena posisinya di ujung.
Tapi karena di situlah titik impak terjadi.
Kalau gerbong laki-laki yang di sana laki-lakilah yang mati.
Itu bukan solusi keselamatan.
Itu distribusi korban berdasarkan gender.
Tiga pertanyaan yang harus dijawab oleh investigasi KNKT:
Satu — kenapa sinyal bisa tetap hijau saat KRL sudah berhenti di peron? Ini adalah pertanyaan paling kritis tentang sistem sinyal KAI.
Dua — apakah benar palang pintu di perlintasan itu masih manual dan tidak menutup semua jalur karena tekanan ormas? Kalau iya siapa yang bertanggung jawab selama ini?
Tiga — apakah ada protokol yang jelas untuk situasi kendaraan mogok di atas rel yang melibatkan mobil listrik? Karena ini bukan pertama kalinya terjadi dan tidak akan jadi yang terakhir kalau tidak ada standar prosedur baru.
Kronologi kecelakaan ini dimulai dari satu taksi listrik yang menerobos perlintasan dan tersangkut karena medan elektromagnetik. Tapi yang membuat 15 orang meninggal bukan hanya sopir taksi yang lalai.
Yang membuat 15 orang meninggal adalah akumulasi dari kegagalan sistemik yang berlapis-lapis:
Perlintasan sebidang yang masih ada di jalur kereta cepat. Palang yang mungkin tidak menutup semua jalur. Sistem sinyal yang kemungkinan tidak mendeteksi KRL yang berhenti. Dan respons sistem yang tidak cukup cepat untuk mencegah Argo Bromo menghantam KRL.
Satu taksi adalah pemicu. Tapi sistemnya yang memungkinkan satu pemicu kecil menghasilkan bencana sebesar ini.
Dan selama pola penangalannya masih "bentuk satgas setelah ada korban, umumkan anggaran setelah ada yang mati" maka kita hanya menunggu kronologi berikutnya untuk ditulis.
Sumber: Kamar Jeri
“Jadi draft2 yg menyesatkan yang dipake patokan artis spesialis karakter poligami macam @realfedinuril buat koar2 itu hoax”
Dokumen yang gue post dari kemarin adalah naskah akademik RUU TNI yang gue dapet dari Website DPR.
https://t.co/bLTymC9EAG
Thousands of people have taken to the streets in multiple cities across Indonesia to protest against attempted revisions to the country’s election law.
— in pictures https://t.co/d78iF4qV5x
Instead of spending Rp169 million for 2 seats in FIRST CLASS, they spent Rp8.6 BILLION to fly private 😱💸
With 16 seats, the Gulf jet generates 5,220 kg of CO2 per person—5x worse than a commercial flight (1,110 kg). If they leave some seats empty? Emissions go even higher!🥵
Selamat pagi, salam sejahtera untuk para pejuang demokrasi.
Mau mengabarkan bahwa sekarang sedang ada narasi palsu yang hendak digulirkan bahwa kita melakukan semua ini bukan untuk demokrasi tetapi karena kecewa tokoh pilihan kita tidak bisa ikut kontestasi.
Jadi tetap fokus, kobarkan semangat demokrasi kita. Buktikan bahwa meski berlaksa-laksa anak panah ditembakkan ke arah kita, demokrasi Indonesia akan berdiri tegak dan kokoh.
Buktikan kepada mereka bahwa zaman penjajahan sudah lewat, kita tidak lagi mudah diadu domba!
Merdeka!
Jangan didengarkan narasi seperti ini.
Kalau mereka mau gabung dengan kita, ajak masuk barisan.
Bayangkan, kekuatan yg sama kali ini digunakan utk mengkritisi balik.
Perjuangan kita butuh sebanyak2nya bantuan.